• Berita Terkini

    Wednesday, March 21, 2018

    Tak Bisa Beli Pupuk, Petani Temanggung Keluhkan Kartu Tani

    Foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres
    TEMANGGUNG – Baru 164 dari 248 petani di Desa Paponan Kecamatan Kledung sudah memegang Kartu Tani. Sedangkan sisanya belum dan dipastikan tidak bisa membeli pupuk.

    Muhamad Nur Ajib pengurus kelompok tani menuturkan, saat dilakukan sosialisasi pembuatan Kartu Tani, sebagian besar petani tidak menghiraukan pengumuman tersebut. Sehingga pada akhir pembuatan kartu hanya 164 saja petani yang mendaftarkan diri.

    “Awalnya sangat susah sekali, saat itu petani seakan menyepelekan dengan kartu tani,” terangnya, Selasa (20/3/2018).

    Namun saat ini katanya, petani yang tidak memegang kartu merasa kelimpungan, karena tidak bisa mendapatkan pupuk. Sehingga saat ini petani yang belum memiliki kartu berduyun-duyun mendaftarkan untuk mendapatkan Kartu Tani.

    “Memang masih ada luang waktu satu bulan mulai 16 Febuari sampai 18 Maret untuk mendaftar," katanya.

    Ia menyebutkan, petani yang mendaftarkan diri untuk memiliki Kartu Tani ini dengan luasan lahan tiga hektar, namun ternyata setalah didata total lahan yang diajukan oleh petani seluas 4,2 hektar.

    “Ini menjadi kebingungan sendiri, nantinya pembagiannya mau seperti apa,” terangnya.

    Selain permasalahan tersebut lanjutnya, polemik lainnya yang terjadi pada Kartu Tani yakni, masalah kuota yang diterima petani. Sebagian besar petani mengeluhkan kuota pupuk yang diterima pada musim tanam tahun ini.

    Dia mencontohkan, salah satu petani di desanya yakni Daud (53), dengan luasan lahan yang dimiliki yakni seluas 9.000 meter persegi hanya mendapatkan Urea 3 kwintal, ZA 3,5 kwintal, TSP 36 1,1 kuintal, NPK 1,9 kuintal.

    Padahal kebutuhan untuk lahan seluas itu kebutuhan untuk urea paling tidak satu ton, bahkan untuk ZA mencapai 1,2 ton. Sedangkan untuk pupuk TSP dan NPK tidak pernah digunakan.

    “Sebenarnya petani hanya ingin pupuk yang dibutuhkan saja, nah untuk yang tidak dibutuhkan seperti TSP dan NPK kuotanya bisa diganti dengan pupuk yang dibutuhkan petani,” terangnya.

    Sementara itu salah satu petani Zainin Muh Baron salah satu pemilik kartu tani menuturkan, saat ini kuota pupuk yang didapatkan dari kartu tani sudah habis digunakan, padahal saat ini tanaman cabai miliknya baru memasuki masa perawatan.

    “Kalau kondisinya seperti ini, tanaman cabai milik saya tidak bisa tumbuh dengan baik,” terangnya.

    Bahkan lanjutnya, kekurangan pupuk ini akan berpengaruh pada produktivitas cabai, sebab asupan makanan pada tanaman cabai dipastikan tidak akan terpenuhi.

    “Lagi-lagi petani yang kena imbasnya, harusnya aturan seperti ini tidak dibuat untuk mempermudah petani. Tapi pada kenyataannya justru kartu tani tidak sesuai dengan tujuannya,” tandasnya. (set)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top