• Berita Terkini

    Wednesday, June 15, 2016

    Diajukan Jadi Kapolri, Tito Karnavian Langkahi Empat Angkatan

    JAKARTA – Karir Komjen Tito Karnavian meluncur bak roket. Baru tiga bulan menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT), kini Presiden Jokowi secara resmi mengajukan Tito sebagai calon tunggal Kapolri ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Tak Tanggung-tanggung, Tito melangkahi empat angkatan Akpol sekaligus yang notabenenya merupakan seniornya, dari Akpol 1983 hingga 1986.


    Dari empat angkatan yang dilangkahi Tito, ada satu sosok yang selama ini dipandang cukup berpengaruh. Yakni, Wakapolri Komjen Budi Gunawan. Karena itu, sejumlah pihak memprediksi soliditas Polri nanti akan bergantung pada kerelaan Budi Gunawan.


    Kemarin (15/6) Mensesneg Pratikno ke DPR mengirim surat pengajuan Tito menjadi Kapolri ke DPR. Saat dikonfirmasi, Juru Bicara Presiden Johan Budi SP membenarkan informasi tersebut. "Nama yang diajukan Presiden adalah Komjen Pol Tito Karnavian," ujarnya.


    Dalam memilih Tito, Presiden sudah merujuk pada UU nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri. Dia juga mengingatkan bahwa penunjukkan sosok yang menjabat Kapolri sepenuhnya merupakan wewenang dan hak prerogatif Presiden.


    Meskipun demikian, tutur Johan, dalam menunjuk Tito, Presiden juga terlebih dahulu mendengar masukan berbagai pihak. Baik Kompolnas, Polri selaku organisasi induk Tito, maupun masukan dari publik.


    Johan menuturkan, selain meminta masukan, pertimbangan lain Presiden menunjuk Tito adalah untuk meningkatkan profesionalisme Polri dan memperbaiki kualitas penegakan hukum. Terutama, pada kasus-kasus kejahatan luar biasa seperti terorisme, narkoba, dan korupsi. Penunjukan Tito juga untuk kepentingan sinergi dengan penegak hukum lainnya.
     "Nama tito Karnavian adalah salah satu dari beberapa nama yang diajukan oleh Kompolnas kepada Presiden, "tambah mantan Pimpinan KPK itu. hanya, johan tidak menyebutkan berapa nama dan siapa saja calon Kapolri yang diajukan Kompolnas ke Presiden.


    Nama Tito sangat mungkin baru diusulkan oleh para anggota Kompolnas yang baru sebab, para pengurus Kompolnas yang lama tidak memasukkan nama dia ke dalam bursa calon Kapolri. "Dia masih terlalu muda, "ujar mantan Anggota Kompolnas M Nasser.


    Tito merupakan jenderal kelahiran Palembang, 26 Oktober 1964. Tahun ini, usianya akan memasuki 52 tahun. Bila Tito disetujui oleh parlemen, maka dia berpotensi menjadi Kapolri dalam jangka waktu cukup lama. Sebab, dia baru akan pensiun per 1 November 2022 atau enam tahun dari sekarang.


    Selama kariernya, Tito banyak berkecimpung di bidang reserse sebelum ditugaskan ke Densus 88 antiteror Polri pada 2005. Dia kemudian ditunjuk menjadi Kadensus pada 2009. Dari sisi kepemimpinan wilayah, Tito pernah memimpin dua polda tipe A, yakni Polda Papua selama dua tahun dan Kapolda Metro Jaya selama sembilan bulan sebelum akhirnya menjadi Kepala BNPT.


    Bagian lain, Pengamat Kepolisian Mufti Makarim menuturkan, dengan diajukannya Tito sebagai Kapolri maka berarti ada empat angkatan Akpol yang dilangkahi. Hal tersebut tentunya menjadi salah satu ujian paling berat bagi kepemimpinan Tito di Polri. ”Bagaimana dia bisa bekerjasama dengan seniornya perlu dilihat, setidaknya rasa sungkan untuk memberikan perintah pada para senior akan muncul,” terangnya.


    Belum lagi, ada sosok yang sekuat Wakapolri Komjen Budi Gunawan yang masih aktif. Latar belakang Budi Gunawan yang sempat menjadi calon Kapolri, namun gagal itu perlu menjadi perhatian khusus. ”Kalau saja, Budi Gunawan tidak menerima ini, tentu akan terjadi perpecahan internal. Tapi, Kalau Budi Gunawan legowo, maka Polri akan berjalan dengan lebih baik,” jelasnya.


    Nah, yang bisa menjadi jembatan antara Tito dengan Budi Gunawan adalah Kapolri saat ini, Badrodin Haiti. Dia menuturkan, Haiti mampu untuk membuat internal Polri solid kendati ada ketegangan saat Budi Gunawan gagal menjadi Kapolri. ”Jadi, kuncinya ada pada dua sosok, Budi Gunawan dan Badrodin Haiti,” paparnya.

    Kalau Badrodin selama masa yang tersisa ini mampu membuat iklim politik internal Polri menerima Tito, maka Polri akan lebih solid dan sama sekali tidak terpengaruh dengan kondisi Tito yang melangkahi empat angkatan tersebut. ”Maka dari itu, tugas Badrodin yang akan mempengaruhi secara mendasar bagaimana kondisi Polri saat dipimpin Tito,” ujarnya.


    Sementara Kapolri Jenderal Badrodin Haiti yakin penunjukan Tito tidak akan menimbulkan masalah di internal Polri. Jamak diketahui, dalam mengisi jabatan Kapolri, berlaku tradisi angkatan paling senior. "Nggak ada (gejolak), saya jamin, "ucapnya saat ditemui di kompleks istana kepresidenan kemarin.


    Dia menuturkan, Polri sudah sejak beberapa waktu lalu memberikan masukan soal nama-nama calon kapolri. Mulai track record hingga prestasinya selama menjadi bagian Korps Bhayangkara."Saya tidak tahu apa pertimbangannya. Tapi saya yakin pengalaman pak Tito selama ini juga menjadi bahan, " lanjut Jenderal Asal Umbulsari, Jember, itu.


    Tito, tutur Badrodin, sudah cukup teruji dalam hal pengalaman. Kemampuan manajemennya cukup baik. selain itu, dia juga dinilai smart. Kemudian, dalam hal komunikasi dan pendekatan terhadap anggota maupun instansi lain juga baik. Semua perwira pun mengakui keunggulannya. Kemampuan Tito bisa dilihat salah satunya saat memimpin Polda Metro Jaya.


    Saat memimpin Polda Metro Jaya terjadi aksi teror Thamrin yang begitu mengejutkan. Namun, siapa sangka dengan kepemimpinan Tito, seluruh jajaran Polda dan Densus 88 bisa menumpas aksi itu dengan waktu yang cukup singkat. Hanya butuh waktu tidak kurang dari tiga jam.


    Atas dasar itulah, Badrodin meyakini penunjukan Tito tidak akan menimbulkan rasa iri dari angkatan di atasnya yang masih eksis. ’’Kami sendiri sebenarnya seluruh pejabat Polri mengakui keunggulan Pak Tito, cuma dia masih junior,’’ jelas mantan Kapolda Jatim itu.



    DPR Mendukung Keputusan Presiden




    Terpisah, Ketua DPR RI Ade Komarudin menyatakan, surat Presiden Jokowi terkait pencalonan tunggal Tito sebagai Kapolri telah dia terima pagi kemarin. Menurut Ade, sebelum dirinya berangkat melakukan sidak ke stasiun Gambir dan stasiun Senen dalam rangka persiapan lebaran, dirinya ditemui oleh Mensesneg Pratikno.
     ”Saya terima bersama bu Sekjen,” kata Ade di sela-sela sidaknya di stasiun Gambir.


    Menurut Ade, surat itu berisi pengajuan nama calon Kapolri pengganti Jenderal Badrodin Haiti. Hanya ada satu nama, yakni kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Tito Karnavian. Ade memerintahkan kepada Sekjen untuk langsung memproses surat itu.
      ”Sebelumnya kita rapim dulu dan rapat Bamus, dan saya sudah menelepon pak Bambang Soesatyo, Ketua Komisi III, untuk segera diadakan fit and proper test,” ujarnya.


    Ade menyatakan, jika tidak ada perubahan, Rabu pekan depan fit and proper test terhadap calon Kapolri akan dilakukan. Namun, proses itu tergantung kecepatan proses rapim dan rapat Bamus nanti. Rencananya rapat Bamus akan digelar pagi hari ini, dan selanjutnya akan digelar paripurna, membacakan surat pencalonan Tito.

    Hingga beberapa hari lalu, sejumlah dorongan calon kapolri sempat muncul dari sejumlah partai-partai yang memiliki kursi di DPR. Salah satu yang disorong adalah Wakapolri Budi Gunawan. Fraksi dari partai utama pemerintah berada di barisan paling depan mendorong nama tersebut.   ”Tentu, kami harus menghormati pilihan dari presiden, bahwa Pak Tito yang diusulkan sebagai calon kapolri,” kata Ketua DPP PDIP Trimedya Panjaitan, di Komplek Parlemen, Jakarta, kemarin. Meski demikian, soal bagaimana sikap berikutnya, dia menyatakan kalau partainya masih akan membahas lebih jauh pencalonan tersebut.


    ”Yang pasti, kami menghormati hak prerogatif presiden,” imbuh politisi yang juga menjabat wakil ketua Komisi III tersebut. Lebih-lebih, lanjut dia, PDIP mengapresiasi keputusan untuk mengajukan calon kapolri baru. Atau, dengan kata lain, batal memperpanjang masa jabatan kapolri saat ini yang akan segera memasuki masa pensiun.



    Budi Gunawan Didorong Masuk Kabinet



    Dari informasi yang dihimpun termasuk dari internal PDIP, Budi Gunawan yang kembali gagal menjadi kapolri akan didorong masuk ke kabinet. Yaitu, dalam agenda reshuffle jilid II yang kemungkinan juga akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Sebab, bagaimanapun jenjang karir yang bersangkutan kini sudah mentok di kepolisian.

    Selain itu, sebagai kompensasi lainnya gagal menempatkan Budi Gunawan sebagai kapolri, dorongan PDIP untuk menggeser sejumlah menteri juga akan diakomodir. Salah satu yang paling kencang selama ini adalah menggusur Rini Soemarno dari kursi menteri BUMN.


    Selain PDIP, belakangan, PKB juga termasuk yang turut mendorong figur Budi Gunawan untuk menjadi calon kapolri. Meski demikian, anggota Komisi III dari PKB Jazilul Fawaid juga termasuk yang menyambut positif keputusan presiden menunjuk Tito tersebut.
     ”Pak Tito Karnavian itu jujur,  sederhana, bersih, berintegritas, tidak banyak bicara, tapi banyak kerja secara diam-diam. Itulah yang disenangi Presiden Jokowi,” nilai Jazil. Menurut dia, presiden selama ini memang lebih suka para pembantunya yang memberikan bukti dengan kerja dan prestasi. ”Ketimbang mereka yang banyak bicara, namun minim kerja,” imbuhnya.


    Atas hal tersebut, dia memastikan kalau fraksinya akan mendukung pengajuan Tito nantinya. Termasuk, akan mengamankan dalam proses lanjutan nantinya di parlemen. ”Jadi, kami di FPKB pasti mendukung Pak Tito yang telah dipilih presiden,” tandasnya, lagi.


    Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo secara terpisah menyatakan, pihaknya menargetkan sebelum memasuki libur hari raya Idul Fitri, Komisi III sudah melakukan fit and proper test calon Kapolri. Bambang sendiri menyambut positif terpilihnya Tito sebagai calon Kapolri, meski dari sisi senioritas, mantan Kapolda Metro Jaya itu melompati beberapa angkatan.
     (byu/idr/bay/dyn/gun/acd)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top