• Berita Terkini

    Senin, 12 November 2018

    Penggemar Burung Kicau Meningkat, Perajin Sangkar Ketiban Berkah

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Seiring dengan meningkatnya jumlah pecinta burung kicau di kabupaten berselogan Beriman ini,  pengrajin sangkar burung mulai kebanjiran order. Bukan hanya itu saja, usaha yang berkait dengan dunia burung juga kian menjamur. Hal itu seperti banyaknya warung-warung baru yang menjual pakan dan aksesoris burung.

    Salah satu pengrajin sangkar Rizki Kurniawan (24) warga Desa Kebulusan Kecamatan Pejagoan mengaku mulai kebanjiran order.  Pesanan sangkar burung meningkat terutama sangkar model bundar.  Meski harga sangkar budar lebih mahal dari model lainnya, namun  peminatnya ternyata cukup banyak. “Kalau  yang budar lebih rumit cara pembuatannya. Jadi wajar jika harganya lebih mahal,” tuturnya, Minggu (11/11/2018).

    Kepada Ekspres Rizki mengaku mulai menekuni sangkar burung  berawal dari hoby memelihara burung kicau. Setelah sekian tahun menggeluti dunia burung kicau pihaknya tertarik untuk membuat sangkar burung. Pasalnya usaha tersebut dinilai masih menjanjikan. “Ini berawal dari hoby saja. Setelah ditekuni hasilnya lumayan,” katanya.

    Selama ini lanjut Rizki, kebutuhan sangkar burung di Kebumen masih banyak dipasok dari luar daerah. Sangkar burung banyak yang berasal dari kota besar separti Yogyakarta, Jakarta dan Semarang. Padahal jika kebutuhan sangkar burung tersebut dapat tersedia oleh warga Kebumen, tentunya akan menjadi penghasilan yang cukup lumanyan. “Banyak sangkar dari luar Kebumen. Itu menunjukkan bahwa peluang ini masih cukup menjanjikan,” jelasnya.

    Berbagai tipe sarang dibuatnya, baik itu berbahan kayu atau bambu. Ada juga sangkar yang menggunakan bahan campuran yakni kayu dan bambu. Kendati demikian Rizki mengaku jika sangkar bundar paling sulit dibuat. Bahkan terkadang, beberapa bambu patah saat akan dibuat lingkaran (blengker sarang). “Sangkar bundar mempunyai tingkar kerumitan lebih. Biasanya digunakan untuk burung jenis Branjangan, Murai Batu dan lainnya,” paparnya.

    Proses pembuatan untuk sangkar bundar, diawali dengan mengolah bahan utama yakni bambu. Setelah bahan siap, maka bambu dibuat melingkar dengan metode pemanasan. Setelah itu bahan dilubangi menggunakan bor. Terakhir yakni perakitan dengan menyatukan menggunakan ruji-ruji sarang yang terbuat dari bambu. “Saat ini kami terus berproduksi untuk mengejar pesanan. Jika waktu memungkinkan, satu hari jadi satu sangkar. Harga jual bervariasi mulai dari 150 hingga 200 rupiah,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top