• Berita Terkini

    Selasa, 14 Juni 2022

    Cerita di Balik Fenomena "Bulan Kluwung" Alias Bulan Bercincin


    Dari Peristiwa Optis di Atmosfer hingga Mitos Menyeramkan Bikin Keder




    Beberapa malam terakhir ini, fenomena bulan bercincin atau yang disebut dengan istilah Halo menghiasi langit. Ini setidaknya terlihat di beberapa wilayah di Kebumen. Fenomena bulan bercincin  sendiri termasuk fenomena langka.  Tak heran jika muncul banyak mitos terkait dengan fenomena tersebut.

    Meski terlihat sangat indah, cantik dan terang, namun beragam kepercayaan atau mitos menyebutkan jika munculnya fenomena bulan bercincin merupakan pertanda kurang baik. Seperti apa?

    ------------------

    IMAM, Kebumen

    ------------------

    Astronom dan juga Ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen Marufin Sudibyo menyampaikan bulan terlihat dikelilingi lingkaran cahaya pada kemarin malam di Kebumen. Fenomena lingkaran cahaya ini secara astronomis disebut halo. Jika berkaitan dengan Matahari (di siang hari merupakan halo Matahari. Sebaliknya jika terkait Bulan (di malam hari) maka disebut halo Bulan. 


    “Fenomena ini sesungguhnya merupakan peristiwa optis di atmosfer, yakni pembiasan cahaya. Adakalanya diikuti penguraian cahaya menjadi komponen-komponennya enam warna pelangi,” tuturnya, Selasa (14/6).


    Disampaikannya, Halo terjadi apabila diantara pengamat dan  Matahari atau  Bulan terdapat awan Cirrostratus. Ini  sejenis awan tinggi puncak awan > 10.000 mdpl.. Awan itu tipis, sehingga mengesankan transparan karena mudah ditembus cahaya. Awan cirrostratus itu juga harus mengandung  kristal-kristal  es mikro berstruktur heksagonal yang berkedudukan horizontal atau sejajar paras Bumi. 

    “Cahaya Matahari atau Bulan yang masuk ke dalam kristal es ini melalui sisi tegaknya maka akan dibiaskan sedemikian rupa sehingga keluar lagi dari kristal es melalui sisi datar bagian bawah,” ungkapnya.


    Secara akumulatif, hasil pembiasan tersebut akan nampak sebagai “Lingkaran cahaya” sempurna bergaris tengah 44º. Dengan Matahari atau  Bulan menempati pusat lingkaran tersebut. Apabila kerapatan kristal-kristal es mikro heksagonal itu tinggi, maka proses pembiasan akan mencapai tingkat berikutnya. Ini berupa penguraian berkas cahaya putih menjadi komponen-komponen  cahaya pelangi. Sehingga halo Matahari atau Bulan yang tampak akan seperti lingkaran cahaya pelangi. 


    “Terjadinya halo merupakan indikasi bahwa atmosfer dalam kondisi bersih, bebas dari awan penyebab hujan lebat atau badai. Dan terjadinya halo Bulan merupakan penanda bahwa kedudukan Bulan sudah mendekati  atau melewati fase Bulan purnama,” ungkapnya.


    Meski halo merupakan indikasi atmosfer bersih, namun fenomena ini mempunyai mitos yang tidak baik. Bulan Halo dalam Bahasa Jawa disebut dengan istilah “Bulan Kluwung”. 


    Di sisi lain, Ketua Yayasan Wahyu Pancasila Ravie Ananda menyampaikan semua fenomena alam tentunya mempunyai arti. Dimana alam atau semesta sedang memberitahu atau mengingatkan manusia.


    Fenomena Bulan Kluwung secara umum bukan petanda baik. Saat ini fenomena alam juga tidak seperti biasanya. Dimana kini terjadi hujan di musim kemarau atau udan salah mangsa. “Beberapa hari ini juga terjadi hujan yang disertai petir. Padahal seharusnya masa ini adalah masa kemarau,” ungkapnya.


    Bulan Kluwung merupakan pertanda bencana. Bencana sendiri dibagi menjadi dua yakni bencana alam dan bencana sosial. Bencana alam dapat berupa badai, angin kencang maupun lainnya. Sedangkan bencana sosial bisa jadi penyakit, pandemi, huru hara atau kekacauan.“Nah pertanda itu disampaikan oleh alam agar manusia dapat membacanya. Setelah itu tentunya dapat mengambil sikap yang tepat,” katanya.


    Untuk itu penting sekali setelah ada pertanda manusia eling lan waspodo. Meningkatkan kesadaran sesama manusia dan mendekatkan diri kepada sang pencipta. Artinya meskipun ada pertanda negatif, namun diupayakan dengan cara dinetralisir menggunakan sikap yang positif. (*)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top