HONDA BEAT

  • Berita Terkini

    Sabtu, 28 April 2018

    Jangan Sekedar Penelitian, Penentuan Hari Jadi Harus Jaring Aspirasi Masyarakat

    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Rektor Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen Dr Imam Satibi MPdI menegaskan persoalan hari jadi merupakan sesuatu yang sangat sensitif.

    Sebab bagi warga asli Kebumen Hari Jadi merupakan identitas daerah yang penuh dengan makna. Selain itu perubahan Hari Jadi  juga tidak bisa hanya digiring dengan hasil penelitian. 

    Hal ini disampaikan menanggapi adanya Hari Jadi Kebumen yang kembali dikaji oleh pemerintah. Pihaknya menyampaikan karena sensitif maka apa yang telah dinarasikan dalam hasil penelitian UGM Yogyakarta harus dikomunikasikan secara hati-hati kepada masyarakat. “Saya mengharapkan DPRD untuk tidak tergesa-gesa sebelum masyarakat menerima peralihan Hari Jadi tersebut,” tuturnya, Jumat (27/4/2018).

    Selain itu Imam Satibi juga berharap DPRD hendaknya menjaring aspirasi. Ini  khususnya bagi warga Karanganyar dan Gombong atau Wilayah Barat. Sebab dengan adanya perubahan mundur jauh kebelakang ditakutkan tidak dapat mengakomodir historis penggabungan menjadi Kebupaten Kebumen.  “Dalam penentuan Hari Jadi tidak ada salah dan benar, momentum mana yang akan dijadikan tonggak sejarah sebagai simbolisasi Hari Jadi.  Karena itu semua tergantung pada kesepakatan atau komitmen bersama terutama tokoh-tokoh sejarah yang masih hidup,” jelasnya.

    Menurut Imam, perubahan Hari Jadi pada dasarnya baru mengakomodir kegelisahan kalangan eksekutif karena jatuh di hari libur yakni 1 Januari. Secara substansial pada dasarnya tidak ada yang cacad. Selain itu pihaknya juga berharap semua pihak untuk bisa duduk bersama mencari titik temu. Degan demikian maka dikemudian hari tidak menimbulkan disclaimer. “Saya yakin bahwa orang Kebumen pada dasarnya mudah untuk diajak musyawarah, kendati memiliki idealisme perjuangan yang tinggi,” tegasnya.

    Dalam kesempatan kali ini pihaknya juga menegaskan jika dari hasil penelitiannya, Imam melihat tidak ada temuan sesuatu yang baru.  Semua hanya mengkontruksi dari kajian-kajian sebelumnya. Sehingga terkait opsi yang dimunculkan 21 Agustus berdasarkan pada Kepemimpinan Bodronolo. Hal tersebut pada dasarnya itu sudah menjadi bagian alternatif yang telah lama dikaji.

    Alternatif lain juga bisa didasarkan pada peristiwa monumental keberhasilan masyarakat Kebumen saat menghalau pasukan Belanda di Laut Petanahan. “Kita tinggal pilih mau ditarik ke nilai-nilai apa yang bisa diinteroretasikan untuk diambil manfaatnya melalui cerita tersebut. Sehingga bisa diterima dan menjadi kebanggaan bersama secara kedaerahan,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top