• Berita Terkini

    Tuesday, January 23, 2018

    Bibit Waluyo Ingin Gubernur yang Kreatif dan Bermoral Tinggi

    foto : wiwid arif/magelang ekspres
    MAGELANG TENGAH - Gubernur Jawa Tengah periode 2008-2013, Bibit Waluyo berharap pelaksanaan pemilihan gubernur dan wakil gubernur 27 Juni mendatang, dilakukan secara jujur, adil, dan amanah. Ia menilai bahwa pemimpin harus kreatif dan dan punya moralitas yang tinggi.

    ”Karena dengan moralitas yang tinggi maka segala konsep daya pikir, ide, dan gagasan semua hanya semata demi rakyat,” kata Bibit, saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Cacaban, Magelang Tengah, Selasa (23/1).

    Saat ada salah seorang wartawan yang menanyakan komentarnya soal kontestasi Pilgub Jateng beberapa bulan ke depan, Bibit enggan menanggapi terlalu dalam. Ia hanya mengatakan bahwa kedua pasangan calon (paslon) saat ini sudah mendaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

    Meski enggan menanggapi lebih detail, Bibit menilai bahwa siapapun yang menang nantinya, itu sudah menjadi pilihan dari sekitar 35-40 juta pemilih di Jateng.

    ”Nah, siapa itu yang terbaik, nanti rakyat yang akan memilih dan baru di ketahui setelah Pemilu, mana yang di pilih rakyat,” ucap mantan Pangdam IV Diponegoro ini.

    Bibit mengaku tidak mengenal secara pribadi sosok bakal calon yang akan maju di Pilgub 2018. Dirinya hanya tahu jika salah satunya adalah mantan menteri dan satunya lagi adalah incumbent.

    ”Semua rakyat Jawa Tengah sudah paham dan tahu, Pak Sudirman Said yang mantan menteri dan pak Ganjar yang masih jadi gubernur. Semua juga tahu kinerja pak Sudirman Said seperti apa, demikian juga Pak Ganjar,” papar dia.

    Pria yang saat menjabat lalu dikenal sebagai orang yang ceplas ceplos dan bicara apa adanya ini menambahkan bahwa rakyat tinggal membandingkan konsep pemikiran calon pemimpin seperti yang sudah disampaikan. Semuanya, kata dia, ada dalam kedua calon tersebut.

    Ia menjelaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), central grafitinya berada di Jawa Tengah. Hal itu bisa dilihat sisi ideologi, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan serta agama.

    Oleh karena itu, pemimpin Jateng harus mampu memahami hal itu dengan baik sehingga konsep pembangunan yang akan dilakukan, merupakan konsep yang harus dapat ditiru wilayah lain di Indonesia.

    ”Dengan demikian makna central grafiti Republik ini, akan bermanfaat untuk wilayah-wilayah lain,” tutur mantan Pangkostrad ini.

    Bibit yang kini sudah menjadi warga sipil itu mengaku tetap akan menggunakan hak pilihnya. Apalagi ia sudah di datangi petugas KPU yang melakukan pencocokan dan penelitian (Coklit) data pemilih oleh KPU dan Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP).

    Dia pun memberi pesan kepada petugas KPU yang datang ke rumahnya, agar menjadi petugas KPU yang amanah. Menyiapkan segala sesuatu terkait pilkada dengan baik, supaya mendapatkan pemimpin yang baik dan bermanfaat untuk masyarakat.

    ”Mesakke (kasihan) rakyat yang kecil-kecil itu kalau ada pemimpin yang tidak memberikan contoh tak baik. Mau pemilu begini, mereka mendekati rakyat, kalau sudah pemilu, mereka sudah lupa. Jangan menjadi pemimpin yang kamuflase yang mendekati rakyat kalau mau pilkada. Bangsa kita bangsa yang besar loh. Jadi seorang pemimpin itu yang teges dan ethes (cekatan). Kalau pemimpin tidak tegas dan cekatan, maka rakyat yang kesulitan,” ujarnya.

    Bibit yang kini sudah berusia 69 tahun menyadari, dirinya kini sudah tidak mampu lagi untuk memimpin. ”Saya sudah tidak mampu lagi karena suasana kebatinan sudah berubah, fisik juga sudah berkurang,” katanya.

    Namun sebagai rakyat, dirinya ingin agar pemimpin harus mampu menyesuaikan diri dengan yang dipimpin, karena bangsa Indonesia saat ini sedang gundah. Hal itu terbukti dengan banyaknya berita hoax yang muncul di media sosial.

    ”Terus terang saya prihatin. Untuk itu mari kita jaga semuanya, utamanya serangan-serangan yang berasal dari dunia maya,” pungkasnya. (wid)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top