• Berita Terkini

    Kamis, 23 Maret 2017

    Suami Patmi Persilakan PT SI Datang ke Rumah

    SRI PUTJIWATI/RADAR KUDUS
    PETANI di Pegunungan Kendeng Pati masih berduka. Salah satu Kartini Kendeng, Patmi, 48, meninggal dunia usai aksi semen kaki pada Selasa (21/3) dini hari lalu. Keluarganya tidak mempunyai firasat apapun dan hanya dipesan untuk menjaga sawahnya. Namun adik bungsunya, Tasmini sebulan lalu bermimpi membeli bunga yang sangat banyak.

    Suasana rumah duka almarhumah di RT 3/RW I Desa Larangan, Tambakromo, Pati, terlihat lengang kemarin (22/3) siang. Beberapa pelayat masih berdatangan silih berganti, walaupun tidak sebanyak saat jenazah dipulangkan pada Selasa (21/3) malam. Kemarin siang terlihat rombongan Dandim 0817/Pati, Letkol Inf Andri Amijaya Kusumah, melayat ke rumah almarhumah.

    Andri disambut suami almarhumah, Abdul Rosyad. Andri memberikan dukungan moril kepada Rosyad melepas kepergian almarhumah yang sudah dinikahi Rosyad selama 30 tahun ini. Pria 55 itu tampak tegar menyambut para pelayat. Dia berusaha tersenyum, meski matanya masih terlihat memerah.

    Tak ketinggalan Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gunretno ikut menyambut para pelayat. Selain didatangi para pejabat, para pelayat mulai dari Sedulur Sikep dan beberapa musisi punk yang selama ini menyuarakan tolak semen juga melayat ke rumah duka.

    Rosyad mengaku ikhlas atas kepergian istrinya. Meninggalnya Patmi sudah merupakan bagian dari takdir. Ia terakhir kali berkomunikasi dengan almarhumah pada Selasa (15/3), ketika Rosyad masih berada dalam perjalanan ke Sumatera untuk bekerja. Almarhumah meminta restu kepada Rosyad untuk pergi berjuang ke Jakarta.

    ”Almarhumah sudah aktif mengikuti aksi sejak 2010 lalu. Saya selalu mendukungnya setiap ikut aksi. Tidak ada firasat apa-apa sampai akhirnya mendapat kabar meninggalnya almarhumah. Saya mendapatkan kabar sepekan setelah berada di Sumatera. Ketika mendapatkan kabar duka itu, saya langsung bergegas kembali ke Jawa. Padahal belum bekerja di perkebunan sawit,” ungkapnya.

    Mengenai kabar kunjungan Semen Indonesia (SI) di Rembang yang akan bersilaturahmi ke rumah duka, Rosyad tidak keberatan. Siapapun pelayat yang datang ke rumahnya akan disambut dengan baik. Pihak SI yang datang ke rumah duka tidak akan mempengaruhi kontra pembangunan pabrik SI di Rembang. ”Ya monggo-monggo saja kalau mau datang, wong turut berduka,” jawabnya singkat.

    Tidak ada firasat apapun yang dialami anak dan suami sebelum almarhumah meninggal. Namun adik bungsu almarhum, Tasmini, 43, sebulan lalu bermimpi membeli bunga yang sangat banyak dari pasar dan bunga itu dibawa pulang. Ia tidak berpikir apa-apa setelah mendapatkan mimpi itu.

    ”Semua keluarga saya tidak ada yang sakit. Jadi saya anggap mimpi itu hanya mimpi biasa. Kalau kakak saya meninggal seperti ini ya sangat sedih. Wong berangkatnya ke Jakarta dalam keadaan sehat. Saya bertemu dengan almarhumah sehari sebelum keberangkatannya ke Jakarta,” kata Tasmini.

    Setiap hari, Tasmini bertemu dengan almarhumah karena sawah yang digarap berdekatan. Sebelum berangkat ke Jakarta, almarhumah juga berpesan kepadanya untuk ikut membantu merawat sawah almarhumah. Tasmini mengaku kerap mengikuti aksi tolak semen, namun tidak sesering almarhumah.

    ”Yang pergi ke Jakarta dari Desa Larangan ada empat orang. Dua diantaranya kakak saya, Dasmi dan Patmi. Kami tiga bersaudara. Saya yang paling bungsu. Sedangkan dua lainnya adalah Giyem dan Suparmi. Yang kakinya dipasung semen Giyem dan almarhumah. Sedang Suparmi dan Dasmi hanya menjadi pendamping saja,” akunya.

    Sementara itu, Giyem, 43, tetangga Patmi mengaku ikut bersedih atas meninggalnya teman seperjuangan ngrungkepi Kendeng. Giyem ikut aksi pasung semen sejak hari pertama, Senin (13/3) lalu. Sedangkan Patmi baru bergabung aksi pasung semen mulai Kamis (16/3) lalu. Aksi itu merupakan bagian dari pengaduan warga tolak semen supaya dapat menyentuh hati Presiden Jokowi.

    ”Ini aksi yang paling menyentuh. Karena semua aksi sudah dilakukan. Aksi pasung semen ini kali kedua. Kali pertama sudah dilakukan 2016 lalu dan ditemui Pak Jokowi. Kami meminta menghentikan penambangan di Pegunungan Kendeng Jawa Tengah. Aksi semen kaki memang sudah ditemui staf kepresidenan,” katanya.

    Meski sudah ditemui staf kepresidenan, peserta aksi tidak puas karena belum ditemui presiden. Setelah ditemui staf pada Senin (20/3) lalu, sebagian peserta aksi pasung semen dipulangkan termasuk almarhumah. Yang tertinggal hanya sembilan orang yang melanjutkan aksi menunggu ditemui presiden.

    Sebenarnya, almarhumah tidak ingin pulang, ingin mengikuti aksi hingga selesai. Karena banyak yang pulang, Patmi ikut pulang juga. Usai kaki dilepas dari cor semen, almarhumah bersih-bersih mandi. Namun setelah keluar kamar mandi, almarhumah tiba-tiba berteriak.

    ”Setelah itu almarhumah duduk dan terlihat kelelahan. Sebagian bapak-bapak yang ikut aksi memapah almarhumah tidur di kasur lantai dan dipijat. Lalu tubuh Patmi lemas dan pingsan kemudian dibawa ke rumah sakit dan meninggal. Kabar meninggalnya almarhumah membuat kami semua kaget. Karena sebelumnya tidak ada keluhan apapun dari almarhumah,” ujarnya.

    Giyem mengenal baik Patmi. Keseharian almarhumah sebagai petani dan aktif menyuarakan tolak semen di Pegunungan Kendeng sejak 2010. Aktif mulai dari longmarch hingga aksi semen kaki. Sosok Patmi sangat baik dan pekerja keras. Almarhumah sangat pendiam dan jarang suka berkoar-koar.

    ”Kepergian almarhumah membuat kami semua berduka. Sudah waktunya pulang. Mugi-mugi khusnul khotimah,” imbuhnya. (put/lil)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top