• Berita Terkini

    Tuesday, March 28, 2017

    Janda Tua di Sragen ini Hidupi Dua Anak Lumpuh

    AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SRAGEN
    SRAGEN – Sulit memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Ngadiyem, 60, seorang diri harus merawat kedua putranya yang mendadak mengalami kelumpuhan. Kini, janda warga Gondang Tani, Desa/Kecamatan Gondang tersebut hanya mengandalkan bantuan tetangga dan pemerintah desa (pemdes).

    Kondisi keluarga Ngadiyem semakin memprihatinkan sejak suaminya Tamin Hartowiyono meninggal lima tahun lalu. Beberapa tahun terakhir, Ngadiyem mulai sakit-sakitan. Untuk beraktivitas, dia menggunakan alat bantu berupa tongkat kayu. ”Untuk berjalan, saya harus menggunakan tongkat. Jadi tidak bisa leluasa,” ujarnya kemarin (28/3).

    Anaknya Eko Joko Santoso, 45, mengalami kelumpuhan sejak 2009. Disusul adiknya Hari Ismanto, 29, yang menderita penyakit serupa mulai 2013. Ini menyebabkan keduanya total tak bisa membantu Ngadiyem memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Dengan kondisi tersebut, Ngadiyem, Eko dan Hari hanya mengandalkan bantuan dari para dermawan dan tetangga. Janda tua tersebut tak berdaya untuk bekerja. ”Kadang ya ada orang ke sini beri beras. Pak bayan juga ngasih uang untuk beli makan,” terangnya.

    Sebelumnya, Ngadiyem masih bisa pontang-panting bekerja serabutan agar dapurnya tetap ngebul. Namun, seiring bertambahnya usia, dia mulai sakit-sakitan. Kaki dan tangan kananya sulit digerakkan.

    Apa penyebab kelumpuhan? Eko Joko santoso tak mengetahuinya. Penyakit tersebut mendadak menyerangnya dan sang adik. ”Tiba-tiba tidak bisa berjalan. Kaki tidak bisa digerakkan,” ungkapnya.

    Dia mengakui, fisik ibunya mulai melemah sejak dua tahun terakhir. Tapi, karena kondisinya tersebut, Eko tak bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
    Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen Hargiyanto menuturkan, Ngadiyem dan anak-anaknya cukup rutin diperiksakan ke puskesmas setempat. Terkait penyebab kelumpuhan, lanjutnya, harus dipelajari lebih detail karena terkait syaraf. "Yang penting berusaha diperiksakan ke dokter saraf rutin sampai ada perbaikan kualitas hidup," katanya.

    Sementara itu, tokoh Masyarakat Sragen Sri Wahono mengungkapkan, kondisi keluarga Ngadiyem harus segera mendapat perhatian dari Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan (UPTPK) Sragen.

    “Kondisi mereka (keluarga Ngadiyem, Red) masih memprihatinkan. Saya rasa tidak hanya keluarga itu, di Sragen masih banyak,” terang dia. (din/wa)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top