• Berita Terkini

    Tuesday, October 11, 2016

    Derita Mufiatun; Tak Boleh Mandi, Sehari Makan Sekali

    DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS
    KUDUS – Kasus Mufiatun, 25, karyawati laundry yang disiksa majikannya masih menarik untuk dikupas. Sebab, banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari peristiwa ini. Terutama bagaimana kita bersikap dalam memperlakukan manusia.

    Perempuan asli Pati ini tak pernah membayangkan hidupnya bernasib tragis. Niat hati ingin bekerja dan membantu kebutuhan orang tuanya, Mufiatun malah menjadi “budak sahaya” yang diperas tenaganya.

    Alih-alih bisa memberi uang orang tuanya, memikirkan nasibnya sendiri saja tidak bisa. Nyawanya terancam. Hidupnya dikekang. Selama tiga tahun, dia tidak tahu bagaimana indahnya matahari terbit. Begitu pula saat terbenam. Yang dia tahu hanyalah cahaya lampu di dalam kamar dan rumah majikannya. Semua pintu rumah terkunci. Cahaya hanya menembus dari jendela kamarnya. Itupun kalau tidak ketahuan sang majikan. Kalau ketahuan, jendela juga ditutup.

    ”Kalau majikan pergi dari pagi sampai sore, saya dikunci di kamar. Kalau dia (majikan) kembali, baru boleh ke ruang tengah. Tetap di dalam rumah. Tidak boleh keluar,” kata Mufiatun saat ditemui di RSUD Kudus kemarin.

    Selama ini, Mufiatun disembunyikan dari orang lain. Dia disuruh menyetrika pakaian milik pelanggannya si majikan, Agus Susanto dan Elizabet Angelya Natanya. Majikannya punya bisnis laundry. Usahanya itu tidak di rumah kontrakan yang dihuni Mufiatun di kawasan Jepang Pakis, melainkan di kawasan Mlati Kidul, Kecamatan Kota.
    Mufiatun sudah tiga tahun bekerja dengan sang majikan. Namun menempati rumah kontrakan di Jepang Pakis, Kecamatan Jati, baru satu tahunan. Sebelumnya dia ikut majikannya di rumah kontrakan di Tumpang Krasak, Jati. ”Yang di Demak itu rumah majikan saya yang laki-laki,” katanya meluruskan informasi yang mengatakan sebelum di Jepang Pakis majikannya buka usaha di Demak.

    Selama bekerja, Mufiatun tidak digaji. Dia juga tak diberi makan layak. Gadis yang tubuhnya gosong-gosong ini, hanya dikasih uang pada tahun pertama saat pulang ke rumahnya di Pati. Mufiatun diberi uang sekitar Rp 500 ribu dan kalung. ”Uang itu yang saya bawa pulang. Saya juga tidak berani cerita ke orang tua saat di rumah,” ucapnya.

    Makannya pun tak seperti manusia pada umumnya. Sehari hanya makan sekali. Tepatnya ketika majikan sudah pulang. Pekerjaannya tak pernah dihargai. Mufiatun mulai menyetrika pakaian dari sore sampai malam. Kadang sampai pagi lagi. Tidak tentu. Tergantung banyak sedikitnya jumlah setrikaan.
    Dengan asupan makanan kurang, sementara pekerjaan diforsir, sering kali dia mengantuk saat menyetrika. Ketika mengantuk itulah, dia sering disiksa sang majikan. ”Tak hanya disetrika, saya pernah dipukul di perut dan kepala. Bahkan sampai berdarah,” ucapnya.

    Dari bogem mentah di perut itulah, dia merasakan sakit yang luar biasa sampai sekarang. Buat bernafas sesak. ”Beberapa hari ini saya pakai oksigen (saat di RSUD) karena napas sesak,” ungkapnya.

    Di tubuhnya juga terdapat empat bekas luka setrika. Di antaranya, di perut, lengan kanan, lengan kiri, dan paha. Lehernya juga tidak bisa digerakkan. Sementara tubuhnya gosong-gosong, termasuk di dahinya.

    Mufiatun tidak bisa menoleh, baik ke kanan, kiri, atas atau bawah. Tiap kepalanya digerakkan rasanya sakit. ”Mak cleng kalau digerakkan,” ujarnya sambil memegang lehernya.

    Lehernya tak bisa digerakkan sudah setahunan ini. Dia pernah dipukul bagian kepalanya hingga berdarah. Hanya saja, Mufiatun tidak tahu mukulnya pakai apa. Apakah tangan kosong, pisau, atau alat lainnya. ”Saya tak begitu tahu mukulnya pakai apa. Tiba-tiba kepala saya sakit dan berdarah. Kata majikan, saya dipukul pakai pisau. Kondisi saya saat itu setengah sadar,” ungkapnya.

    Leher Mufiatun pernah dikasih penyangga dari kayu. Penyangga itu dilingkarkan juga ke dahinya. Ketika alat itu dicopot, dahinya terlihat gosong.
     Selama bekerja, Mufiatun juga tidak boleh mandi. Dia hanya membersihkan diri ketika disuruh majikan. Kebetulan kamar mandi rumah kontrakannya di belakang. ”Mandinya tidak tentu. Kadang seminggu sekali. Itu pun dalam pengawasan majikan,” imbuhnya.

    Berkat mandi inilah, yang menyelamatkan Mufiatun dari cengkraman majikan. Pada Sabtu (8/10) lalu, dia mau dikenalkan majikannya dengan seorang lelaki. Dia disuruh mandi. Saat itulah kesempatan Mufiatun lari dari rumah “neraka” itu. ”Kebetulan majikan di dalam rumah. Saya akhirnya melompat pagar,” katanya.
    Ketika pergi itu, Mufiatun sempat dicari majikannya. Membawa senter juga. ”Saya bersembunyi di rumah tetangga,” ungkapnya.

    Kondisi Mufiatun sekarang sudah agak membaik. Dia sudah lancar berbicara. Termasuk menjawab beberapa pertanyaan. Bahkan perempuan ini sudah bisa tersenyum karena merasa aman. Ada keluarga yang menungguinya. (lil)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top