• Berita Terkini

    Friday, September 23, 2016

    Baru Deteksi Tujuh WNI yang Pulang Berhaji dengan Paspor Filipina

    JAKARTA – Upaya mencegah kedatangan jamaah haji Filipina untuk menjaring keberadaan WNI akhirnya berbuah. Hingga kemarin sudah terdeteksi tujuh orang WNI yang pulang berhaji dengan paspor Filipina. Meskipun belum sebanyak yang dikabarkan, tim masih menunggu di Filipina hingga kloter terakhir.



    Pgs Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama (Kapinmas Kemenag) Syafrizal Syofyan menuturkan misi kedatangan jamaah haji Filipina berjalan 19 September sampai 1 Oktober nanti. Total jamaah haji yang berangkat dari Filipina mencapai 6.353 orang. ’’Seluruhnya terbagi dalam 23 kloter. Ada penerbangan yang campur dengan penumpang umum,’’ katanya di Jakarta kemarin.


    Dia menceritakan pada kedatangan jamaah haji Filipina 19-21 September tidak ditemukan keberadaan WNI. Tim gabungan dari Kemenag, Kementerian Luar Negeri, Polisi, serta Kementerian Hukum dan HAM baru berhasil mendeteksi keberadaan WNI pada 22 September. Pada hari itu ada dua penerbangan kedatangan jamaah haji Filipina.

    ’’Ada tujuh orang WNI pada penerbangan pertama yang mendarat pukul 09.00 waktu Filipina. Mereka menggunakan pesawat Philippine Airlines. Kemudian pada penerbangan yang kedua pada 22 September tidak ditemukan WNI. Begitupula pada penerbangan sepanjang Jumat kemarin (23/9) tidak terdeteksi keberadaan WNI.


    Syafrizal menjelaskan ketujuh WNI yang terdeteksi itu belum bisa dipulangkan. Bahkan lima orang diantara tujuh WNI itu harus lebih lama tinggal di Filipina. Sebab otoritas keamanan Filipina membutuhkannya untuk menjadi saksi proses hukum. ’’Ketentuannya adalah minimal lima orang WNI di setiap kelompok terbang yang terdeteksi,’’ jelasnya.


    Menurut dia kebijakan menahan sementara WNI untuk jadi saksi proses hukum itu tentu akan dikeluhkan oleh jamaah. Sebab umumnya jamaah sudah terbayang kampung halaman ketika sudah terbang keluar Arab Saudi. Pemerintah Indonesia masih melobi otoritas Filipina supaya seluruh WNI yang menjadi korban sindikat haji luar negeri bisa segera dipulangkan.


    ’’Informasi terbaru otoritas Filipina memberikan lampu hijau untuk pulang,’’ jelasnya. Namun harus ada surat jaminan dari pemerintah Indonesia atau pemerintah daerah, bahwa jamaah haji yang diizinkan pulang itu harus siap terbang kembali ke Filipina saat dibutuhkan sebagai saksi.


    Syafrizal lantas membeberkan mekanisme kerja tim untuk mendeteksi WNI itu. Pertama adalah setiap penumpang yang turun akan dipisahkan antara jamaah haji dengan penumpang umum. Kemudian kelompok jamaah haji akan melalui imigrasi Filipina yang sudah dibekali kemampuan khusus. Dengan kemampuan khusus ini, mereka bisa mendeteksi antara jamaah haji asli Filipina dengan orang luar negeri (WNA).


    Setelah itu jamaah haji WNA akan digiring masuk ke Villa More Air Base, terminal khusus milik angkatan udara Filipina. Setelah sampai di terminal militer ini, jamaah haji WNA kembali melakukan deteksi oleh imigrasi Filipina. Baru setelah itu mengikuti sidik jadi oleh tim imigrasi Indonesia.

    ’’Orang yang mengaku Filipina padahal dia WNI, tidak bisa mengelak,’’ jelasnya. Sebab dengan rekam sidik jari, seluruh data WNI itu sudah diketahui. Sebab saat mereka keluar dari Indonesia menuju Filipina, menggunakan paspor resmi dan direkam sidik jarinya.


    Syafrizal berharap tidak banyak jamaah WNI yang berhaji dengan paspor Filipina. Terkait dengan jumlah yang mencapai 700 orang, dia menegaskan itu hanya perkiraan saja dan bukan angka resmi.

    Anggota Komisi VIII DPR Sodik Mudjahid menjelaskan pemerintah Indonesia harus hati-hati saat menyebutkan angka jamaah haji yang berangkat dari Filipina. ’’Dulu mencuat 700 orang. Tetapi sampai sekarang belum terbukti sebanyak itu,’’ jelasnya.


    Dia khawatir kabar banyaknya orang Indonesia berhaji dari Filipina itu justru berdampak negatif. Yakni memengaruhi hubungan baik antara Indonesia dengan Filipina. Apalagi pihak Indonesia sangat ingin mendapatkan sisa kuota milik Filipina.


    Pengamat haji dari UIN Syarif Hidayatullah, Tangerang Selatan Dadi Darmadi menjelaskan tim Indonesia yang mencegat jamaah WNI di Manila tidak patah semangat. ’’Sebaiknya ditunggu sampai kedatangan kloter terakhir,’’ jelasnya. Sehingga benar-benar bisa dibuktikan apakah ada 700 orang WNI berhaji dengan paspor Filipina. (wan)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top