• Berita Terkini

    Wednesday, April 20, 2016

    Menengok Lomba Bubur Tradisional Batang dalam rangka HUT Batang Ke 50

    NOVIA ROCHMAWATI
    Dari Bubur Diet Hingga Bubur Tombo Kesurupan

    Dalam Rangka HUT Ke 50, Kabupaten Batang menggelar Lomba Bubur Tradisional, Rabu (20/4). Kegiatan ini menampilkan kreasi bubur tradisional dari 15 Kecamatan yang ada di Batang. Seperti apa?

    NOVIA ROCHMAWATI, Batang

    Berbagai macam kreasi bubur tradisional disajikan dalam Lomba Bubur yang diikuti oleh 13 Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang ada di 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Batang. Beberapa diantaranya memiliki kekhasan masing-masing dan ditampilkan dengan tampilan yang menggoda selera.

    Bubur-bubur tersebut, sebagian merupakan warisan budaya masyarakat yang ada di Batang. Dan memiliki sejarah unik dalam penyajiannya di masyarakat. Ada pula bubur tradisional yang divariasikan dengan sentuhan modern.

    Salah satu contohnya adalah Bubur Beras Merah Ikan Kakap Kreasi dari ibu-ibu Pokdarwis Kecamatan Gringsing. Bubur ini disebut sebagai bubur diet, karena berbahan dasar beras merah yang kaya akan serat dan protein. Selain itu, bubur ini juga dipadukan dengan bahan-bahan seperti wortel, kembang kol dan bawang bombai yang kian menambah cita rasa.

    "Ini Khasnya dari Pantai Jodo Gringsing mbak. Kalau tidak ada Ikan Kakap atau Tenggiri bisa diganti yang lain, pokoknya ikan yang besar yang ada dagingnya. Kalau di Gringsing itu banyak ibu-ibu yang gemuk ya, jadi kalau makan bubur ini kan rendah kalori, juga bisa untuk diet, buburnya tidak manis, banyak sayurnya dan bergizi," beber anggota Pokdarwis, Wahyuti (35), saat ditemui di sela-sela lomba.

    Selain dari segi bahan dan kandungan, beberapa bubur pun memiliki sejarahnya tersendiri, seperti bubur Tebusan dari Desa Sodong Wonotunggal.

    "Dulu itu orang sering pergi ke hutan dan ada beberapa yang kesurupan. Nah ketika itu mintanya itu bubur hitam yang terbuat dari beras merah yang dimasak matang ditambah santan, ayam panggang tapi ayam hitam, ayam cemani. Intinya kalau dulu itu buat pengobatan orang kesurupan, biasanya bubur disajikan dengan trancam," jelas anggota Pokdarwis Pesona Alami, Sunarni (37).

    Selain itu masih ada lagi beberapa variasi dan kreasi bubur tradisional lainnya. Seperti Bubur Sum-sum Biji Salak, Bubur Ande-ande Lumut, Bubur Gurih Megono, Bubur Pelangi Aneka Rasa Buah, Bubur Sagu Melon, Bubur Sagu Ambon, Bubur Jagung Canan dan lainnya.

    "Kebetulan Pak Bupati tahun ini menghendaki filosofi zaman dahulu, salah satunya bubur. Yang namanya bubur itu kan sudah membudaya, ciri khas orang-orang dulu. Nah, sekarang diorbitkan lagi untuk menonjolkan kekhasan daerah," beber salah satu juri Lomba Bubur Tradisional, perwakilan dari Sendang Sari Hotel, Sami Kamtono S.

    Dijelaskan lomba ini diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Batang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebuadayaan Batang untuk memperingati HUT ke 50 Kabupaten Batang. Lomba ini juga dinilai oleh juri dari beberapa instansi, seperti Dinas Kesehatan, Hotel Sendang Sari dan lainnya.

    "Sebenarnya untuk menonjolkan kekhasan masing-masing daerah. Namun beberapa ada yang dikreasikan dan divariasikan dengan sentuhan modern. Setiap tahun selalu ada inovasi, tahun ini bubur. Sedangkan tahun lalu itu, megono dan pernah juga tumpeng. Diharapkan nanti dapat menonjolkan kekhasan makanan daerah yang ada di Kabupaten Batang," pungkasnya. (*)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top