• Berita Terkini

    Saturday, April 16, 2016

    Jaga Budaya Jawa dengan Jemparingan

    SOLO – Seiring berkembangnya zaman, alat panah kini semakin modern. Namun di tengah modernisasi alat panah, masih terjaga panahan ala zaman dulu, yakni Jemparingan. Para aktivis jemparingan pun menjaga panahan tradisional ini tetap eksis hingga sekarang.

    Seperti acara ”Gladen Jemparingan Jawi Gaya Mataraman” yang kembali digelar di Lapangan Panah Sriwedari, Solo, kemarin (16/4). Acara ini kembali digelar yang diikuti puluhan pemanah dari berbagai daerah, seperti Sukoharjo, Klaten, hingga Jogjakarta. Antusiasme cukup besar saat 30-an pemanah ambil bagian dalam event tersebut.
    ”Tujuan adanya acara ini untuk menjaga silaturahmi para pemanah yang masih konsisten menjaga kebudayaan Jawa. Sebab panahan tradisional ini mulai tersisih adanya modern alat panah,” beber Ketua Panitia Eddy ”Popop” Rustopo.

    Antusiasme para pecinta panahan tradisional ini membuat berbagai kalangan cukup lega. Sebab jika dihitung untung rugi, bagi pemenang tidak sebanding dengan akomodasi dari daerah. ”Hadiahnya kalau kena bandul hanya sebuah mi bungkus dan bagi yang juara hanya mendapatkan Rp150 ribu,” kata dia.

    Bisa dibayangkan jika yang juara dari Jogjakarta, lantas menganggap tidak untung sama sekali ikut kejuaraan ini. namun yang mereka cari ikut kejuaraan bukan materi, melainkan rasa persahabatan antara sesama pecinta panahan tradisional. ”Itulah yang membuat kejuaraan seperti ini masih ramai penikmatnya,” jelasnya.
    Pembenahan lapangan panah di Sriwedari membuat geliat latihan panah ikut meningkat. Bahkan direncanakan dua acara besar kejuaraan panah tradisional siap digelar. Mulai gladen besar di Sabtu Legi akhir Mei, juga kejuaraan wali kota cup Agustus mendatang.

    ”Wali kota Solo sudah mulai merespons merutinkan kejuaraan panah di Kota Solo. Bagi kami itu tentu respons yang sangat bagus, mengingat panahan mataraman asalnya ada di Jogja dan Solo. Kalau sampai punah atau tak ada lagi peminatnya untuk mendalami, jelas eman-eman (disayangkan, Red) hilang nanti budayanya,” kata Eddy.
    Keunikan panah tradisional dengan panah modern jenis lainnya ada pada jenis panah dan bidikan. Panah yang terbuat dari kayu bambu hingga bidikan yang berbentuk bandulan kecil menjadi hal yang unik untuk bisa dibidik sesuai target para peserta.

    ”Olahraga ini perlu kesabatan, ketelitian, dan tentu insting yang sangat penting harus dilakukan. Jika dilihat sepertinya mudah, namun ketika busur sudah dilepas tentu semua kemungkinan meleset atau kena target bisa terjadi,” terangnya. (nik/un)
    JS: Bakal Dihelat Dua Kejuaraan Besar


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top