• Berita Terkini

    Saturday, April 16, 2016

    Mengatasi Persoalan Sampah Plastik

    Dewasa ini, penggunaan plastik hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir semua benda yang ada disekitar kita terbuat dari bahan plastik. Mulai dari kemasan makanan, botol minuman, bahan konstruksi bangunan, peralatan eletronik, kendaraan, pakaian, hingga berbagai macam perabot rumah tangga sebagian besar terbuat dari bahan plastik.

    Selain memiliki harga yang relatif murah, plastik relatif tahan lama dibanding material lain. Misalnya saja, pipa yang terbuat dari besi hanya mampu bertahan hingga delapan tahun, sedangkan pipa yang terbuat dari plastik mampu bertahan hingga dua puluh tahun. Dengan berbagai kelebihan yang ada membuat plastik dipilih sebagai bahan baku berbagai macam produk di sekeliling kita.

    Namun keunggulan tersebut justru menimbulkan masalah baru. Dengan daya tahan yang tinggi membuat plastik sulit atau bahkan tidak dapat diuraikan dan dapat mencemari lingkungan. Butuh waktu ratusan hingga ribuan tahun agar plastik dapat diuraikan.

    Proses penguraian plastik yang jauh lebih lama dibandingkan proses pembuatan plastik itu sendiri membuat sampah-sampah plastik semakin lama semakin bertambah banyak. Berdasarkan hasil riset University of Georgia yang dipubilkasikan di jurnal Science yang terbit pada Februari 2015, disebutkan bahwa setiap tahun lautan diseluruh dunia dipenuhi sampah plastik hingga 12,7 juta ton. Indonesia sendiri menempati peringkat kedua setalah Cina sebagai penyumbang sampah plastik terbanyak di lautan. Secara keseluruhan,sampah plastik yang dihasilkan di Indonesia  mencapai 175.000 ton per hari atau setara dengan 0,7 kg per individu. Yang lebih mencengangkan lagi, sebagian besar sampah tersebut justru dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga.

    Sampah-sampah tersebut akan menimbulkan dampak lingkungan yang serius apabila tidak ditangani dengan baik. Sampah plastik seringkali menyumbat saluran air yang dapat menyebabkan banjir di musim hujan serta menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk. Bahan kimia beracun yang ada dalam plastik seperti Styrene Trimer, Bisphenol A, serta bahan sampingan  Polistyrene, dapat mencemari sumber air yang ada. Selain itu, sampah plastik juga menyebabkan kematian bagi hewan liar yang memakanya. Seringkali ditemukan penyu serta burung albatros yang mati akibat memakan plastik yang mereka kira sebagai mangsanya.

    Upaya Penanganan Sampah Plastik
    Berbagai macam upaya telah dilakukan untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang ada. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan mendaur ulang plastik. Hanya saja, tidak semua plastik dapat didaur ulang. Jika hal itu bisa,maka  maksimal hanya dilakukan dua kali saja. Hal ini dikarenakan bahan kimia beracun dalam plastik akan menimbulkan masalah ketika di daur ulang.

    Hingga saat ini menimbun sampah di TPA menjadi cara yang paling utama dalam mengatasi permasalahan sampah plastik. Namun cara ini tidaklah efektif. Lamanya penguraian sampah plastikmenyebabkan  jumlahnya  terus bertambah memenuhi TPA sehingga dapat membawa bencana bagi masyarakat sekitar, seperti yang terjadi pada kasus longsornya sampah di TPA Leuwigajah yang menyebabkan 157 korban meninggal dunia.

    Guna menekan jumlah sampah plastik yang kian bertambah, pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan plastik berbayar yang berlaku mulai 21 Februari 2016. Masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan untuk setiap kantong plastik yang mereka gunakan saat berbelanja. Dengan adanya kebijakan ini, diharapkan masyarakat mulai meninggalkan penggunaan kantong plastik dan beralih dengan membawa tas sendiri saat berbelanja. Namun statistika pengurangan penggunaan belum bisa dibandingkan mengingat peraturan tersebut baru saja diberlakukan.

    Solusi yang Lebih Efektif
    Penerapan peraturan plastik berbayar agaknya belum memberikan dampak yang menggembirakan. Pasalnya, regulasi ini baru diberlakukan sementara di retail modern yang jumlahnya  sekitar 35 ribu gerai, lebih sedikit daripada jumlah pasar tradisional. Sementara untuk pasar tradisional belum menerapkan aturan ini mengingat mayoritas konsumen pasar tradisional berasal dari golongan ekonomi menengah kebawah, sehingga dikhawatirkan akan terbebani dengan adanya regulasi ini.

    Selain itu, harga plastik berbayar yang ditetapkan cukup murah, hanya 200 rupiah, sehingga masih banyak masyarakat yang menggunakan kantongplastik  saat berbelanja. Harga tersebut dirasa tidak membebani apalagi bagi retail modern yang didominasi konsumen golongan ekonomi menengah ke atas.

    Salah satu solusi yangefektif yaitu dengan membakar sampah. Hanya saja, pembakaran sampah ini harus dilakukan dalam skala industri, sehingga emisi gas serta produk sisa pembakaran dapat dikelola dengan baik tanpa mencemari lingkungan. Pembakaran itu nantinya akan menghasilkan panas uap dengan suhu 400 derajat celcius dan mampu menghasilkan energi listrik 0,67 megawatt per jamuntuk tiap ton sampah. Dengan cara ini, timbunan sampah yang menggunung di TPA dapat dimanfaatkan dengan baik tanpa merusak lingkungan.

    Diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah serta masyarakat agar persoalan sampah plastik dapat segera teratasi. Pemerintah diharapkan mampu mendirikan industri-industri pengolahan sampah, terutama di kota-kota besar dengan produksi sampah yang cukup tinggi. Masyarakat juga diharapkan mampu mengurangi penggunaan plastik serta tidak membuang sampah sembarangan. Dengan cara ini diharapkan persoalan sampah plastik segera teratasi.

    Penggunaan plastik di era modern kini merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun dengan pengelolaan yang bijak, sampah plastik yang dihasilkan tidakakan lagi menimbulkan masalah, justru mampu memberi manfaat lebih bagi masyarakat.

    PENULIS
    Nama : Usman Efendi
    Tempat tanggal lahir : Kebumen, 22 Juli 1996
    Pekerjaan : Pengamat Meteorologi dan Geofisika
    Alamat kantor :Stasiun Meteorologi Maritim Semarang, Jalan Deli No. 3 Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang 50174
    Nomor HP : 085712705701
    Email : usman.ngc225@gmail.com

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top