• Berita Terkini

    Thursday, January 4, 2018

    Kotoran Sapi Jauh Lebih Menguntungkan dari Beternak

    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Selama ini mayoritas peternak sapi hanya menganggap kegiatannya sebagai tabungan. Selain itu yang menjadi andalan penghasilan dari beternak sapi yakni sapi itu sendiri. Padahal jika dikelola dengan baik kotoran sapi jauh lebih menguntungkan dari pada hanya sekedar menjual seekor sapi.

    Kotoran sapi baik fases maupun urine dapat dibuat pupuk yang mempunyai nilai jual tinggi. Bukan hanya itu saja, kotoran sapi juga sangat baik untuk dijadikan media budidaya cacing. Setelah selesai untuk budidaya cacing, maka media menjadi kascing yang merupakan pupuk organik terbaik untuk tanaman.

    Hal ini disampaikan oleh Petani Pegiat Agensia Hayati Wahyu Karyono (44) warga Desa Kalirancang Kecamatan Alian. Untuk itu sangat diperlukan pertanian dan peternakan yang dilaksanakan secara terpadu. Sebab pada dasarnya pertanian dan peternakan merupakan dua yang tidak terpisahkan. “Sebelum marak pupuk kimia, maka para petani juga beternak. Berangkat ke sawah membawa kotoran ternak untuk pupuk dan pulangnya membawa rumput,” tuturnya, Kamis (4/1/2018).

    Setelah melaksanakan penelitian selama lima tahun, Wahyu yang juga merupakan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) menyampaikan saat ini penting sekali membuat program pertanian dan peternakan terpadu. Kegiatan tersebut dapat pula digabungkan menjadi objek wisata sehingga akan muncul ekowisata berbasis pertanian atau ekoagrowisata. “Saya sudah melakukan penelitian selama lima tahun dan hal ini sangat mungkin direalisasikan,” katanya, yang juga merupakan Direktur Objek Wisata Direktur Butterfly Park.

    Gambaran program yang akan dibuat yakni dengan menggunakan pertanian organik murni. Saat ini dengan sistem pertanian organik murni, sawah miliknya telah mampu menghasilkan lebih banyak padi daripada yang menggunakan pupuk kimia. Jerami  padi hasil panen, jangan sampai dibakar tapi dipadatkan dan disimpan sebagai pakan ternak sapi. Kotoran sapi kemudian dibuat untuk media budidaya cacing. “Semua telah saya laksanakan dan hasilnya sangat bagus. Permintaan cacing tiger juga sangat tinggi. Bahkan satu ekor cacing tiger laku Rp 1.000,” jelasnya.

    Dengan mengelola kotoran sapi saja, sebenarnya lebih menguntungkan dari pada beternak sapi itu sendiri. Hal itu bukan teori semata, karena semuanya telah dipraktekkan dan berhasil dengan baik. Untuk itu pihaknya berharap agar Program Pengembangan Ekowisata berbasis pertanian dengan sistem kelompok usaha tani terpadu Kecamatan Alian dapat disetujui oleh Pemkab Kebumen. “Kami sangat yakin kegiatan ini akan melibatkan banyak pihak, baik petani, peternak sapi, peternak cacing, pembuat pupuk dan pemasaran produk. Hal itu akan menjadi roda penggerak dan kebangkitan para petani,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top