• Berita Terkini

    Friday, October 13, 2017

    Batik Pekalongan Go Internasional

    MUHAMMAD HADIYAN
    PEKALONGAN- Usaha Bupati Pekalongan Asip Kholbihi untuk lebih membuka pasar Batik Pekalongan patut mendapat apresiasi. Setelah beberapa waktu lalu melalui Kota Makassar Indonesia Timur, dengan mengikuti pameran nasional dan membangun Mou pemasaran dengan Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kini Bupati Asip Kholbihi mulai melebarkan sayap ke pasar-pasar internasional.

    Bupati sengaja berangkat ke New York, Amerika Serikat (AS) sejak 10 November 2017 lalu untuk mempromosikan batik pewarnaan alam. Hal itu ia lakukan di samping memenuhi undangan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di New York.

    "Saya dianggap menjadi semacam duta batik warna alam, yang nantinya selama di New York akan menemui komunitas, Pengusaha, hingga desaigner batik," kata Asip.

    Memang saat ini telah terjadi trend kenaikan permintaan batik di negeri Paman Sam itu. Ini membuktikan batik mulai diterima di pasaran Amerika Serikat. "Sebagai bentuk keseriusan ini rencananyatahun 2018 akan diadakan fashion show kebaya batik warna alam di kota itu," terangnya.

    Oleh karena itu, Asip mengaku, akan secara khusus mempromosikan batik warna alam. "Ini karena batik warna alam ramah lingkungan. Limbahnya tidak merusak tanah karena unsur-unsur alam maka akan kembali didaur ulang oleh alam, dan bahan dasar di Kabupaten Pekalongan melimpah” katanya.

    Ia menjelaskan, saat ini, ia juga diminta memperkenalkan batik warna alam di beberapa negara Uni Eropa, Korea Selatan, Equador, Ukraina dan Romania. Selama ini, batik Pekalongan sudah banyak dipasarkan di negara-negara Asia. "Batik warna alam ini saya rasa layak dipasarkan di Eropa karena konsumen di sana menyukai produk-produk yang ramah lingkungan," ia memaparkan.

    Warna alam untuk batik diambil dari tumbuh-tumbuhan yang ada di Hutan Petungkriyono. Pemerintah Daerah Pekalongan sejauh ini telah berhasil mengekstrak sekitar 25 warna dari tumbuh-tumbuhan yang ada di hutan tersebut. Untuk memperbanyak warna yang dihasilkan, Pemda Pekalongan bekerja sama dengan badan penelitian dan universitas.

    Oleh karena itu hingga saat ini pihaknya selalu menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga tanaman yang menghasilkan warna alam dan untuk membudidayakan tanaman yang mampu menghasilkan warna alam ini agar dapat lebih maksimal. Karena di massa mendatang diperkiraan permintaan ekstrak dari tanaman penghasil warna alam ini akan meningkat.

    Menurutnya, warna alam tersebut masih mahal karena belum diproduksi secara massal. "Ini makanya masih menjadi PR (Pekerjaan Rumah) kami bagaimana supaya bisa memproduksi warna alam secara massal. Dengan begitu, para perajin akan tertarik untuk pindah menggunakan warna alam ketimbang kimia. Sekarang sudah luar biasa jadi pilihan,” ujarnya. (yan)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top