• Berita Terkini

    Monday, July 31, 2017

    Periksa Novel di Singapura, Polisi Tunggu KPK

    Tito Karnavian
    JAKARTA – Mabes Polri kemarin (31/7) merilis sketsa wajah terbaru orang yang diduga pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Sketsa itu dipublikasikan usai Kapolri Jenderal Tito Karnavian dipanggil Presiden ke kantornya. Sketsa itu didapat dari keterangan saksi kunci yang identitasnya dirahasiakan.



    Tito menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi tersebut, ada seseorang tak dikenal berdiri di dekat masjid lima menit sebelum penyerangan, dengan gelagat yang mencurigakan. Diduga, dia adalah pengemudi motor. Dari situlah, penyidik mulai membuat sketsa wajah. Untuk membuat sketsa itu, ujar Tito, pihaknya bekerja sama dengan kepolisian federal Autralia (AFP) menggunakan teknologi mutakhir. ’’Saksi mengatakan sketsa ini masuk kategori baik,’’ terangnya di kantor Presiden.


    Tito menjelaskan, sketsa tersebut baru saja diselesaikan dua hari sebelumnya atau pada Sabtu (29/7) lalu. ’’Nanti kami umumkan lagi dengan harapan ada feedback dari masyarakat kepada kami,’’ lanjut lulusan terbaik Akpol 1987 itu. Di saat bersamaan, polri menerjunkan tim untuk mencari keberadaan orang tersebut.

    Dari sketsa tersebut diperoleh ciri-ciri, antara lain wajah yang bulat, rambut ikal pendek, dengan tinggi badan diperkirakan 167 cm dan kulit sawo matang gelap. Tito menjelaskan, pihaknya juga sudah menyampaikan sketsa itu ke KPK dan diharapkan KPK ikut bergabung dalam tim pencarian.


    Tito menuturkan, tidak banyak arahan yang disampaikan Presiden saat memanggil dia. ’’Beliau memerintahkan agar dituntaskan sesegera mungkin,’’ ucap mantan Kapolda Metro Jaya itu. saat dipanggil itulah, Tito melaporkan sejumlah hal.


    Dimulai dari pemanggilan saksi hingga berjumlah 59 orang. Juga mengamankan lima orang, termasuk seorang satpam bernama M Lestaluhu yang sempat dicurigai. Penyidik juga menyita sekitar 50 cctv pada radius 1 km dari TKP. Juga mendatangi sekitar 100 toko bahan kimia yang menjual H2SO4 untuk mencari potensi pelaku membeli bahan kimia dari toko-toko tersebut.


    Sebagian besar saksi mengaku melihat kejadian, namun tidak sampai melihat wajah pelaku. Hanya dari satu saksi saja polisi kemudian membuat sketsa wajah pelaku yang diberi label Mr X. bermodalkan sketsa itulah polisi kembali mencari pelaku.


    Pada prinsipnya, tutur Tito, polisi sudah mengupayakan pengungkapan sesegera mungkin. Hanya memang ada beberapa kendala, salah satunya ketiadaan sidik jari di TKP. ’’Saat akan di-swipe menggunakan serbuk, di situ (gelas air keras) masih basah sehingga sidik jarinya hilang,’’ terangnya.


    Presiden Joko Widodo sendiri tidak mengisyaratkan apapun saat ditanya mengenai kasus Novel dan rasa pesimistisnya akan kinerja kepolisian. ’’Saya akan tanyakan kapolri dulu,’’ ujar presiden saat ditanya wartawan di Cikarang baru-baru ini.


    Sementara itu, mengenai tudingan Novel bahwa ada jenderal polisi di balik kasusnya, Tito menyatakan pihaknya perlu mendengar kesaksian langsung dari Novel. Tidak bisa mengandalkan pemberitaan di media massa. Sebab, dengan didengar langsung, maka keterangannya menjadi pro justisia.


    Sejak pertengahan Juni lalu, tuturnya, polisi sudah mengupayakan untuk menemui Novel di Singapura. Sudah ada tim yang disiapkan, namun pihaknya masih menunggu pendamping dari KPK. Ketua KPK Agus Raharjo sudah menyatakan bakal ada komisioner yang mendampingi. Namun, hingga kemarin belum ada informasi dari KPK mengenai rencana keberangkatan ke Singapura.


     Rencananya, pekan ini kepolisian akan kembali berkoordinasi dengan KPK untuk berangkat memeriksa Novel di Singapura. ’’Sekaligus memverifikasi secara teknis hal-hal yang sudah dilakukan polri, juga untuk melakukan langkah bersama ke depan dalam mengungkap kasus ini,’’ ujarnya.


    Dia berharap, tim dari KPK bisa bergabung dengan kepolisian, khususnya Polda Metro Jaya untuk membentuk tim investigasi. ’’Bukan tim pencari fakta lagi, karena tidak pro justisia. Hasilnya tidak  bisa langsung diajukan sebagai barang bukti untuk ke pengadilan,’’ tuturnya. Sementara, Tim investigasi bisa langsung mengakses hingga ke data-data mentah. Lagipula, dugaan tindak pidananya suudah jelas sehingga tim yang dibentuk sekaligus bisa menyidik kasus itu hingga tuntas.


    Novel diserang pada 11 April lalu ketika baru saja pulang dari salat subuh di masjid Al Ihsan dekat kediamannya, sekitar pukul 05.10. Tidak lama pergi meninggalkan masjid, sejumlah jamaah mendengar teriakan novel. Sesaat kemudian novel dipapah masuk ke dalam masjid dan langsung ke tempat wudhu untuk membasahi wajahnya.

    Para pelaku langsung kabur melalui jalan yang tidak diportal. Itu menunjukkan bahwa kejahatan tersebut sudah direncanakan. Meskipun demikian, menurut warga, wajah pelaku sulit dikenali. Sebab, saat itu baru saja lepas subuh sehingga langit masih gelap.


    Sementara itu, Novel Baswedan saat dihubungi Jawa Pos mengaku belum melihat sketsa wajah yang dirilis kepolisian. Novel pun menegaskan, bahwa dirinya tidak sempat melihat wajah pelaku ketika penyerangan terjadi pada 11 April lalu. Sehingga, percuma bila wajah tersebut ditunjukan kepadanya. ”Saya belum lihat mas (sketsa wajah terduga pelaku, Red),” katanya.


    Novel konsisten dengan apa yang pernah disampaikan sebelumnya. Yakni, pesimistis polisi mau menuntaskan kasus penyerangan air keras. Terkait langkah polisi merilis sketsa wajah terduga pelaku, Novel justru semakin yakin bahwa polisi tidak akan mengungkap kasusnya. ”Kalau (terduga pelaku) ketemu, nanti ada alibi apa lagi ?,” tanya ketua wadah pegawai (WP) KPK ini.


    Seharusnya, kata dia, Kapolri Jenderal Tito Karnavian bersedia ketika publik mendesak pembentukan tim gabungan pencari fakta (TGPF) untuk mengungkap kasusnya. TGPF tersebut bisa membantu Kapolri untuk bertindak profesional dan objektif, tanpa tersandera kepentingan di internal polri. ”Tapi kenapa malah membentuk tim dengan KPK, apa maksudnya ?,” ujarnya.


    Novel sangat berharap pelaku lapangan penyerangan tersebut segera diungkap. Setelah itu, pihaknya optimistis aktor intelektual yang disebut-sebut berasal dari internal kepolisian juga akan terbongkar. ”Untuk pengungkapan yang lain, saya menunggu pelaku lapangan ini ditangkap. Nanti ada surprise lah,” imbuh mantan Kasatreskrim Polres Bengkulu itu.


    Pria asal Semarang ini masih enggan buka-bukaan soal indikasi saling sandera kepentingan yang terjadi di internal Polri dan KPK. Indikasi itu mencuat setelah kedua pimpinan lembaga tersebut bertemu untuk membentuk tim pengungkapan kasus Novel. ”Nanti ada waktunya saya buka-bukaan, tidak sekarang,” janjinya.


    Ketua Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Dahniel Anzar Simanjuntak masih pesimistis kepolisian mau menuntaskan kasus penyerangan Novel. Itu menyusul pihak kepolisian yang tidak segera meningkatkan status perkara Novel dari penyelidikan ke penyidikan. ”Novel juga sudah mengatakan pesimis polisi punya kemauan untuk menuntaskan kasus ini,” ujarnya.


    Dahnil menjelaskan, ciri-ciri terduga pelaku yang dirilis kepolisian secara samar mirip dengan pelaku yang pernah kepergok mau menyerang dan merampok penyidik KPK lain. Sebelum penyerangan Novel, ada penyidik lain yang dirampok oleh lebih dari 2 orang. Nah, salah satu pelaku perampokan itu mirip dengan wajah yang dirilis polisi. ”Agak mirip memang,” kata teman dekat Novel tersebut.

    Aktivis Indonesia Legal Roundtable (ILR) Erwin Natosmal Oemar menyebutkan, sketsa wajah yang dirilis kepolisian sejatinya hampir serupa dengan ciri-ciri mata elang yang pernah ditangkap polisi namun dilepas lagi karena dianggap tidak terbukti. Hal itu membuktikan bahwa integritas polisi dalam menanganani kasus Novel patut dipertanyakan.


    Karena itu, Erwin mendesak ada tim gabungan pencari fakta (TGPF) yang independen untuk mengungkap kasus Novel. Bila tim tersebut tidak dibentuk, publik bakal tetap pesimistis kepolisian mau menuntaskan perkara penyerangan tersebut. ”Kalau hanya dilakukan oleh internal polri, kami rasa sulit akan terungkap seperti kasus-kasus penyerangan terhadap aktivis antikorupsi lain.”


    Disisi lain, rekan-rekan seperjuangan Novel di KPK tidak banyak berkomentar soal sketsa wajah yang dirilis kepolisian. Hanya, mereka sejatinya sudah mengetahui wajah tersebut jauh-jauh hari sebelum polisi secara resmi menyampaikannya kepada publik kemarin. ”Teman-teman semua sudah tahu sketsa wajahnya,” kata jaksa senior dan pengurus wadah pegawai (WP) KPK Yadyin saat dihubungi. (byu/tyo)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top