• Berita Terkini

    Wednesday, May 24, 2017

    Warga Keluhkan Pabrik Esemka di Boyolali

    TRI WIDODO/RADAR SOLO
    BOYOLALI – Di pengujung finishing, pendirian pabrik mobil Esemka di Desa Demangan, Kecamatan Sambi, mendapat protes dari warga Dusun Gandrungan dan Kleco, desa setempat.

    Penyebabnya, jalan desa diputus dan diganti dengan jalan yang dinilai kurang layak. Jalan baru itu dibangun melingkari kawasan pabrik. Jaraknya lebih jauh dibandingkan sebelumnya. Sekitar 650 meter.

    Kondisi jalan kurang nyaman dilintasi karena pemasangan paving tidak rata. Selain itu, lebar jalan relatif sempit. Tidak muat untuk simpangan dua mobil. Akibatnya, 60 Kepala Keluarga (KK) di dua dusun tersebut memilih memutar beberapa kilometer untuk menuju jalan kabupaten Sambi-Mangu.

    M. Didik, warga setempat mengaku kecewa dengan pembangunan pabrik Esemka. Sebab, sebelum pabrik dibangun, warga lebih mudah mengakses jalan kabupaten melalui jalan desa di sekitar pabrik.

    “Dulu langsung lurus dan tembus jalan kabupaten. Meskipun kondisi jalannya kurang layak, tapi cukup luas dan bisa cepat,” ungkapnya, Rabu (24/5).


    Sekretaris Desa Demangan Suyamto menuturkan, keluhan warga Dusun Gandrungan dan Kleco telah disampaikan kepada manajemen pabrik. Tapi, hingga kemarin belum ada respons. “Kami juga sudah sampaikan ke pihak kecamatan dan kabupaten, tapi hasilnya belum ada,” jelas dia.

    Suyamto mengakui, kondisi jalan pengganti jalan desa yang ditutup tidak layak. Selain lebih jauh, juga lebih sempit. “Meskipun ada opsi (pilihan,Red), jalan yang dibuatkan pabrik itu diperlebar, tapi warga tetap minta jalan yang seperti dulu, langsung lurus begitu (menuju jalan kabupaten, Red),” beber dia. Karena itu, pihak desa berharap, manajemen pabrik Esemka dapat segera merealisasikan keinginan warga.

    Sekretaris Kecamatan Sambi Sadeli menambahkan, pemkab yang difasilitasi dinas pemberdayaan masyarakat dan desa (dispermasdes) telah melaksanakan audiensi agar masalah ini tak berlarut-laut. “Hasilnya tetap, warga ingin jalan lurus tidak melingkar seperti sekarang ini,” jelas dia.

    Sementara itu, ketika Jawa Pos Radar Solo berusaha menemui manajemen pabrik Esemka, hanya bertemu pelaksana proyek PT GWK. “Itu (soal pembuatan jalan baru, Red) di tingkat pusat. Kami hanya fokus mengerjakan pembangunannya saja,” ujar perwakilan PT GWK yang merahasiakan identitasnya.

    Dia hanya menuturkan, proses pembangunan pabrik Esemka sudah masuk tahap penyelesaian akhir. “Bangunan utama sudah klir. Tinggal perapian bangunan dan pengecatan,” katanya.

    Sekadar informasi, pabrik perakitan sekaligus show room mobil Esemka tersebut berdiri di lahan seluas sekitar 12 hektare milik kas desa dan tanah bengkok perangkat desa setempat.

    Lahan tersebut disewa selama 30 tahun dengan nilai Rp 1.000 per meter. Jika ditotal menjadi Rp 114 juta per tahun. Setiap tiga tahun, nilai sewa itu akan direvisi. Meski disewa murah, pemerintah Desa Demangan tak mempermasalahkannya. Mereka berharap, investasi industri dapat mengangkat perekonomian masyarakat desa. Apalagi, jalan Sambi- Mangu bakal dijadikan jalan nasional.

    Keistimewaan pabrik ini adalah digarap dengan model eco building. Yakni tidak menggunakan sistem pengelasan yang dapat menimbulkan polusi udara, dan diganti dengan sistem baut sehingga pabrik dapat dipindahkan apabila prospeknya kurang bagus. (wid/wa)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top