• Berita Terkini

    Saturday, November 5, 2016

    Saat Pepaya tak Semanis Dulu bagi Petani Urut Sewu

    saefur/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Dua tiga tahun lalu, pepaya menjadi barang yang begitu berharga bagi para petani di kawasan selatan (urut sewu) Kebumen. Betapa tidak. Saat itu, banyak petani di wilayah tersebut "mendadak" kaya gara-gara tingginya permintaan pepaya dari kota-kota besar.

    Manisnya buah pepaya itulah yang membuat warga di daerah itu tiba-tiba menjadi "orang kaya baru". Setiap musim panen pepaya, banyak sepeda motor hingga mobil baru "mengaspal" di Kebumen. Fenomena pepaya itu juga menandai "berlanjutnya era keemasan" buah semangka dan tanaman hortikultura lainnya yang sempat berjaya sebelumnya.

    Kini, masa-masa manis pepaya itu sepertinya sudah berlalu. Atau setidaknya tak seperti dulu. Terjangan serangan virus serta anjloknya harga kini menjadi pukulan telak para petani yang berupaya kembali mengadu peruntungan dengan pepaya.

    Seperti nasib Ujiono (30) ini. Pria berusia 30 tahun warga Desa Ayamputih Kecamatan Buluspesantren ini mewakili petani muda di kawasan urut sewu yang meninggalkan "cara-cara" dalam bercocok tanam. Alih-alih menanam palawija seperti pada era sebelumnya, Ujiono memilih menanam berbagai jenis hortikultura termasuk salah satunya pepaya.

    Harapannya tentu saja, dapat seperti petani lain di masa keemasan pepaya sebelumnya. Namun apa daya, harapannya kini menjauh seiring rusaknya tanaman pepaya akibat serangan virus. Belum lagi, jatuhnya harga pepaya yang kian hari kian membuatnya menjerit. "Saya harusnya panen saat ini. tapi baru dipetik 5 kali, harga jatuh. Sudah begitu tanaman banyak yang mati karena virus," keluhnya Sabtu pekan lalu (22/10/2016), saat ditemui di lahan budidaya pepaya yang berada tepat di pinggir Jaringan Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang kini tengah dibangun.

    Ujiono memiliki 7200 tanaman pepaya dari jenis california dan callina. Untuk tanaman tersebut, modal yang ia keluarkan tak kurang dari Rp 30 juta. Dengan gagalnya panen, kerugian yang ditanggungnya pun mencapai puluhan juta rupiah.

    Untuk memasarkan hasil pepaya, para petani biasanya menjual kepada para pengepul. Selanjutnya, para pengepul ini yang memasarkan pepaya ke luar kota. Dari infromasi yang diterima Ujiono, harga pepaya yang jatuh ini terjadi karena saat ini sudah banyak petani di daerah lain yang membudidayakan pepaya. "Dulu, pepaya Kebumen dan daerah sekitarnya di jawa Tengah merupakan pemasok pepaya utama di Jakarta. Namun kabarnya saat ini sudah banyak petani luar Jawa seperti Lampung yang turut membudidayakan (pepaya). Dan, katanya para petani pepaya di Lampung tak mengalami serangan hama seperti kami di Jawa," keluhnya.

    Ujiono berharap, ada pendampingan dari dinas terkait untuk membudidayakan pepaya dengan baik dan benar. "Sampai saat ini, pengetahuan kami budidaya pepaya hanya dari belajar sendiri. Sudah begitu, modal kami tergolong cekak (terbatas)," kata Ujiono lagi. (cah)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top