• Berita Terkini

    Saturday, November 5, 2016

    "Penerawangan" Nasib Kebumen Selepas "Ontran-ontran" OTT

    Sisi Lain Berita, Boleh Percaya Boleh Tidak
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah persoalan mengguncang Kebumen. Dimulai dari bencana besar longsor pada pertengahan tahun 2016 dan mencapai puncaknya saat terjadi "ontran-ontran" operasi tangkap tangan (OTT) berujung terungkapnya kasus dugaan suap ijon proyek Dinas Dikpora pertengahan Oktober 2016 lalu.

    Di luar itu, polemik bahkan "kontroversi" juga lahir dalam kurun waktu itu. Seperti polemik perombakan tugu lawet hingga sejumlah kejadian lain. Hingga saat ini, masih banyak pihak yang masih ternganga heran mengapa Kebumen bisa "sedinamis" itu.

    Peminat kajian sejarah Kebumen yang juga Ketua Masyarakat Peduli Sejarah (Masdullah), Nanang Umar Affandi Prawirodirjo mencoba menjelaskan dari sisi  kajian sejarah dan supranatural. Dia menyampaikan apa yang terjadi di Kebumen semata-mata Kuasa Allah SWT dengan menggerakkan hukum alam.

    Dan, tak ada makhluk apapun di dunia ini yang bisa melawannya. Hanya, bagi sejumlah kalangan, fenomena yang terjadi  di Kebumen saat ini menurut Nanang, sejatinya sudah "diramalkan" oleh para leluhur Kebumen. "Apa yang terjadi sampai saat ini sebenarnya sudah tertulis dalam Babad tanah Jawa serta sejarah leluhur Kebumen. Termasuk apa yang akan terjadi ke depan sudah ada takdir yang menentukan ," katanya, Sabtu (5/11/2016).

    Bila masih belum mempercayai itu, Nanang mengungkapkan fakta. Salah satunya soal robohnya sebuah pohon Randu Alas berusia ratusan tahun di Desa Purwodeso Kecamatan Sruweng pada 10 Oktober 2016.

    Baca juga:
    (Pohon Berusia Ratusan Tahun di Sruweng Tumbang, Dipercaya Pertanda Buruk)

    Dan, sepekan kemudian persisnya 16 Oktober 2016, KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) dan berujung terungkapnya kasus dugaan ijon proyek dana pendidikan pada Dinas Dikpora Kebumen yang menyeret Ketua Komisi A DPRD Yudi Trihartanto dan PNS Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sigit Widodo sebagai tersangka KPK. .

    Boleh percaya boleh tidak, katanya, robohnya randu alas itu berkaitan dengan OTT KPK. "Robohnya pohon randu alas di tengah pemakaman para prajurit pangeran Diponegoro itu adalah sebuah pertanda prahara. Dan saat ini kita semua menyaksikan 'prahara' itu dalam bentuk tertangkapnya penyelenggara negara oleh aparat hukum," ujarnya.

    Dari sudut pandang supranatural, prahara KPK ini terjadi lantaran para pemimpin Kota ini, baik eksekutif maupun legislatif, sudah meninggalkan kearifan lokal dan meninggalkan warisan leluhur Kebumen.

    "Bagi yang tahu sejarah dan babad tanah jawa bakal sepakat bila dikatakan saat ini pendopo telah kehilangan pamor berupa tusuk konde dan  Nagasasra. Saat tak ada lagi dua benda sebagai pelindung Kebumen itu maka prahara akan terjadi,"imbuh Nanang.

    Yang harus dicatat pula, kata dia, apa yang terjadi di Kebumen dipastikan akan merembet ke luar daerah. "Jadi kalau ada demonstrasi besar-besaran di Jakarta itu tak lepas dari prahara di Kebumen. Dalam sejarah telah dikatakan Kebumen adalah pakubuminya Jawa (pusatnya tanah Jawa). Bila terjadi riak di Kebumen, maka di Jawa akan terjadi ombak," katanya menganalogikan.

    Namun demikian, Nanang mengatakan, bukan berarti belitan persoalan di Kebumen ini tak ada hikmah yang bisa diambil. "Malah setelah kejadian ini Kebumen akan mengalami masa kejayaannya," katanya.

    Namun, menurutnya, masih harus ditunggu. Masa kejayaan itu baru akan tiba saat ada "satrio piningit" atau tokoh yang bisa "ngudari pamali" yang terjadi saat ini. Yang dimaksud pamali oleh Nanang, salah satunya kebijakan Pemkab Kebumen memindahkan gedung DPRD yang tadinya berada di sebelah Timur Alun-alun ke lokasi saat ini yang berada di selatan alun-alun.

    Pemindahan gedung DPRD ke lokasi saat ini, membuat gedung DPRD berhadap-hadapan langsung dengan Pendopo. Kata Nanang, itu merupakan upaya perlawanan terhadap sejarah dan leluhur dan tidak menguntungkan bagi Kebumen. "Dalam sejarahnya, pendopo dan kantor DPRD yang berhadap-hadapan akan membuat eksekutif dan legislatif tak akan akur. Akibatnya, Kebumen banyak dilanda permasalahan," katanya.

    "Namun, pada saatnya nanti akan ada seorang tokoh  yang mampu mendamaikan eksekutif dan legislatif. Tokoh yang kemudan menjadi pemimpin Kebumen itulah yang akan membawa Kebumen mencapai kejayaannya. Dan, menurut keyakinan kami, dia adalah tokoh yang lahir atau berasal dari kawasan urut sewu (kawasan selatan Kebumen) ," papar Nanang.

    Terlepas apa yang akan terjadi di masa mendatang, Nanang menghimbau agar warga Kebumen dapat berinstrospeksi untuk kedepan yang lebih baik. Salah satunya, dengan tidak meninggalkan akar masyarakat Kebumen sebagai orang Jawa.

    "Adanya prahara di Kebumen juga semestinya disikapi masyarakat agar tidak meninggalkan sejarah leluhur dan kearifan lokal, " katanya.

    Dan, bagi Pemkab, Nanang merekomendasikan untuk dapat meluruskan sejarah agar para leluhur di Kebumen dapat beristirahat dengan tenang di alam sana. "Ini juga momentum yang tepat bagi Pemkab Kebumen merevisi Hari Jadi Kebumen. Jadikan Bodoronolo sebagai acuan, "pungkasnya. (cah)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top