• Berita Terkini

    Monday, November 14, 2016

    Keberadaan Pusat Jajanan Jl Soetoyo Kembali Dikeluhkan

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Keberadaan Pusat Jajanan Kebumen (PJK) di Jalan Mayjend Sutoyo Kebumen kembali mendapat sorotan tajam dari masyarakat.  Selain kerap menimbulkan bau tidak sedap dan kotor, keberadaan PJK Kebumen juga dinilai mengganggu aktivitas para pelajar.

    Seperti yang terlihat di depan SMAN 1 Kebumen. Lantaran shelter pedagang, papan nama sekolah tertutup. Pun demikian sejumlah sekolah lain pun mengalami hal serupa.  Alhasil yang tampak dari jalan hanyalah sederetan warung pedagang kaki lima, yang menutupi gedung-gedung sekolahan. Sejumlah pihak menilai, lingkungan tersebut sangat tak kondusif. Belum lagi, bau tak sedap serta suara bising yang mengganggu konsentrasi para siswa saat belajar.

    Lebih jauh, kondisi tersebut sudah sangat mengganggu estetika kota berslogan Beriman (Bersih Indah Manfaat Aman dan Nyaman). Mengingat, rumah dinas Wakil Bupati Kebumen KH Yazid Mahfudz pun berada di jalan yang sama. Termasuk, pendopo Kabupaten yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari pusat jajanan.

    Dimintai tanggapannya, salah satu siswa SMAN 1 Kebumen, Fatkhul Mukhlis Al Haq (16), mengaku cukup terganggu dengan keberadaan PJK di depan sekolahnya. Dia berharap, ada pengaturan yang baik dari dinas instansi terkait agar semua bisa berjalan dan tidak saling mengganggu. "Kalau siang hari, saat pelajaran sering tercium makanan. Jadi gak konsentrasi saat belajar," katanya.

    "Selain itu, penataan juga terlihat semrawut. Belum lagi suaranya bising dan banyak sampah. Teman-teman malah sering berinisiatif mengambil sampah agar tidak terlalu mengganggu. Kami berharap kawasan ini ditata kembali namun tanpa mengorbankan pedagang," katanya.

    Kepala SMA Negeri 1 Kebumen Drs H Agus Suryono SPd MPd menyatakan hal senada. Dia menyadari, keberadaan awal PJK memang untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. Namun, sebaiknya itu juga tak mengganggu lingkungan sekitar seperti sekolah.

    Menurutnya Agus, kawasan pendidikan sebaiknya tidak bercampur dengan pusat keramaian, pasar maupun tempat perdagangan lainnya. Kalau kawasan tersebut terpaksa diperuntukkan untuk beberapa aktivitas, sebaiknya diatur supaya tidak saling mengganggu dan saling merugikan. “Kalau kuliner tidak perlu tenda permanen, cukup tenda yang bisa bongkar pasang. Selain itu pedagang juga harus menjaga kebersihan, sebab limbah kuliner selain kelihatan jorok juga menimbulkan bau,” terangnya, Minggu (13/11).
    “Kanopi permanen itu, sebaiknya dibongkar diganti dengan tenda-tenda yang siang dibongkar dan sore baru dipasang, sehingga tidak menutupi wajah sekolah,” imbuhnya.(mam/saefur
    )

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top