• Berita Terkini

    Saturday, July 30, 2016

    Kembalikan Kejayaan Garmen, Buka Pintu Investor

     Amir Syarifudin/fotoIMAM/EKSPRES
    ROWOREJO merupakan salah satu Desa di Kecamatan Kebumen. Sebagian masyarakat percaya nama desanya diambil dari kata rawa. Anggapan tersebut wajar, sebab memang terdapat beberapa rawa-rawa di Desa Roworejo.


    Sekitar tahun 1994-2004 silam, di desa yang mempunyai 75 hektar sawah ini pernah jaya dengan maraknya home industri garment dan konveksi. Jejak garment dan konveksi hingga kini pun masih dapat dilihat dengan banyaknya warga Desa Roworejo yang masih mempunyai mesin jahit.

    Sejak runtuhnya garmen dan konveksi yang disenyalir disebabkan oleh persaingan tidak sehat itu, membuat masyarakat kembali menjadi petani dan buruh tani. Tak heran hingga saat ini sekitar 70 persen dari warga Desa Roworejo telah kembali menggarap sawah.

    Kepala Desa Rawareja  Amir Syarifudin yang menjabat sejak tanggal 2 Agustus 2013 pun bertekad untuk mengambalikan kejayaan garmen dan konveksi di desa yang dipimpinnnya.

    Dia pun membuka diri kepada para investor yang mau membuka perusahaan garmen di desanya. “Disini terdapat sekitar 50 hekter lahan  yang masih berupa hutan, jika ada investor yang mau membuat perusahaan germen kami sangat membuka diri,” tuturnya, Jumat (29/7/2016).


    Dalam tiga tahun masa jabatannya Amir Syarifudin telah banyak membuat perubahan di desanya. Adapun pembanguan yang sudah dilaksanakan maupun diusulkan diantaranya, normalisasi irigasi dan drainase, mengusulkan pembangunan jembatan yang menghubungkan Desa Rawareja dengan Sumberadi, membanguan jalan rabat beton di 12 RT,  membanguan Pamsimas yang dipakai oleh 80 kepala keluarga dan pengusulan pengaspalan jalan tembus ke Desa Jatipurus Kecamatan Poncowarno sepanjang 1,5 kilometar serta mesih banyak pembangunan yang telah dilakukan.

    “Dulu terdapat 30 hektar sawah berupa rawa yang tidak bisa ditanami, sejak ada normalisasi drainase dan irigasi, kini 15 hektar rawa tersebut telah dapat ditanami padi,” paparnya.

    Selain meningkatkan infrastruktur, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur desa pun kerap kali dilaksanakan dengan mengadakan pendidikan dan latihan (Diklat). Hasilnya, dari semula hanya dua orang perangkat yang mampu menggunakan komputer, kini hanya tinggal dua orang perangkat saja yang tidak bisa mengoperasikan komputer. “Ini sebuah pembangunan SDM yang sangat luar biasa,” terangnya.

    Dalam tiga tahun lagi jabatannya, hal yang menjadi impiannya adalah mampu membangun saluran irigasi yang diambil langsung dari saluran induk waduk Wadaslintang. Hal ini dapat dilakukan dengan pipanisasi sepanjang tiga kilometer. “Selama ini warga Desa Rawareja tidak bisa merasakan panen pada musim tanam (MT2) disebabkan tidak adanya air. Kami berharap pemerinah kabupaten, provinsi maupun pusat dapat membantu membuatkan saluran irigasi tersebut,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top