• Berita Terkini

    Tuesday, January 12, 2016

    Keluarga Korban Orang Hilang Minta Bantuan Muhammadiyah

    SETIAKY A. KUSUMA/ RADAR JOGJA
    Busyro Janjikan Bentuk Tim Pencarian
    JOGJA - Sejumlah keluarga dan kerabat Diah Ayu Yulianingsih, seorang warga Sleman yang dikabarkan menghilang sejak 11 Desember 2015 mendatangi PP Muhammadiyah di Jalan Cik Di Tiro Kota Jogja, Selasa (12/1). Mereka berharap pengurus Muhammadiyah bisa ikut membantu menemukan ibu yang hilang bersama putranya yang masih berusia dua tahun itu.

    ”Diah dan anaknya sudah satu bulan ini tidak kembali. Sebelumnya kami menduga dia pergi karena masalah ditinggal suami. Tapi ternyata ada penyebab lain,” kata kerabat Diah, Muhammad Naim.

    Naim yang juga guru besar Fakultas Kehutanan UGM ini menuturkan, Diah saat masih mahasiswa menjadi bagian dari organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Dia menduga, kondisi labil Diah pasca suaminya meninggal itu dimanfaatkan oleh organisasi yang sudah dilarang pemerintah tersebut.
    ”Kita simpulkan demikian, karena kepergiannya terencana. Dua hari setelahnya Diah kirim SMS, ngabari kalau akan dapat pekerjaan dengan baik di bidang pertanian,” ungkapnya.

    Naim mengaku, sebelumnya keluarga sudah berusaha melaporkan perginya Diah ke Polsek, Polres, hingga Polda DIJ. Menurutnya, kedatangan keluarga ke PP Muhamamdiyah untuk meminta dukungan moral. ”Saya kira Muhammadiyah memiliki peran dan tanggung jawab besar agar umat tidak resah,” ujarnya.

    Menjawab kedatangan keluarga, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM, dan Kebijakan Publik Busyro Muqoddas mengungkapkan rasa prihatin pada semua keluarga yang tiba-tiba dibawa pergi tanpa diketahui keberadaannya.

    Jika memang organisasi yang dicatut adalah Gafatar, menurutnya, organisasi tersebut berjalan dengan masif. ”Korban-korbannya banyak, masif, dan menyeluruh, bisa bergerak ke mana saja,” ujar mantan pimpinan KPK itu.

    Di sisi lain, dengan ditemukannya dr Rica Tri Handayani, Busyro juga mengapresiasi kinerja Polda DIJ. ”Semoga bisa ditularkan ke Diah dan anaknya yang berusia dua tahun. Kami akan akan ikut membantu,” katanya.

    Bantuan tersebut, lanjut Busyro, yakni dengan membentuk tim untuk mencari orang yang hilang. Tak hanya mencari Diah Ayu Yulianingsih dan seorang anaknya berusia dua tahun, namun juga warga lain yang dikabarkan hilang. ”Kami akan membentuk satu tim dibawah koordinasi Majelis Hukum dan HAM,” tandasnya.

    Tim tersebut selanjutnya akan memulai berusaha dengan melakukan mapping untuk pencarian. Dari situ, pihaknya akan melakukan kerja sama dengan jaringan Muhammadiyah, termasuk yang ada di Pulau Kalimantan.

    ”Selain itu kami juga akan bekerja sama dengan Polda dan beberapa instansi terkait,” kata mantan Wakil Ketua KPK ini.
    Sebelum ke PP Muhammadiyah, keluarga juga telah mendatangi Polda DIJ, Senin (11/1) lalu untuk melaporkan dan meminta bantuan kepolisian untuk menemukan Diah dan anaknya.

    Pemkot Jogja Kaji Sepak Terjang Gafatar

    Keberadaan organisasi Gerakan Fajar Nusantata (Gafatar) yang akhir-akhir ini meresahkan mendapatkan perhatian serius Pemkot Jogja. Bahkan, kini, pemkot tengah mengkaji sepak terjang organisasi tersebut. Wali Kota Haryadi Suyuti berniat untuk menindaklanjuti larangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

    ”Tidak menutup kemungkinan. Tapi sejak awal berdiri (2013), kami sudah berhati-hati,” ujar HS, sapaan akrabnya, kemarin (12/1).

    Dia menjelaskan, pemkot pernah mendapatkan permohonan berupa penggunaan gedung untuk kegiatan sosial Gafatar berupa donor darah. Tapi, saat itu HS, memilih tak mengiyakan. ”Mau pakai rumah dinas. Kalau mau donor darah atau kegiatan sosial lain, kami arahkan ke hall balai kota,” terangnya.

    Sebagai organisasi massa, Gafatar memang banyak beraktivitas di bidang sosial. Bahkan, mereka juga mengajukan hibah ke pemerintah. Soal hibah ini, HS memastikan, tak ada. ”Dari APBD Kota Jogja belum pernah. Saya tidak tahu dengan daerah lain,” ujarnya.

    Dia menegaskan, pihaknya masih menunggu identifikasi dari Kantor Kesatuan Bangsa, Pemuda, dan Olahraga (Kesmbangpol). Jika hasilnya banyak penyimpangan, bukan mustahil akan dilakukan larangan. ”Kami masih menunggu hasil dari kepolisian dan Forpakem (Forum Pengkajian Kepercayaan dan Keagamaan),” tandasnya.

    Komandan Kodim 0734 Kota Jogja Letkol Inf Hotlan M Gurning mengatakan, tidak mudah mengidentifikasi organisasi yang memiliki ajaran terselubung. Namun, dia memastikan organisasi semacam itu tidak akan mudah berkembang di Kota Jogja. Dia mengklaim sudah menginstruksikan jajarannya agar lebih waspada.

    ”Jajaran intelijen sudah kami instruksikan agar lebih tajam, lebih peka dengan dinamika yang terjadi di masyarakat. Jika dibiarkan organisasi seperti ini akan merusak dan mengganggu ketenangan masyarakat,” katanya.

    Dia mengatakan, masyarakat harus lebih jeli merespons setiap kegiatan yang ada di tengah-tengah mereka. Peran serta masyarakat akan membantu membatasi gerak organisasi tersebut.
    ”Kami memang tidak bisa mengawasi satu per satu, tapi masyarakat harus lebih peka dan lebih cerdas memilah mana yang bisa diikuti dan tidak,” katanya. (riz/eri/ila)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top