• Berita Terkini

    Selasa, 28 Mei 2019

    Pengalaman Mahasiswa Kebumen Jalani Ibadah Puasa di Swedia

    Jalani Puasa hingga 21 Jam di Negara Tanpa Malam Hari

    Menjalani ibadah puasa bagi umat Islam di Indonesia biasanya berlangsung sekitar 13 jam. Namun, bagi umat Islam di Swedia Utara, durasi puasanya hampir dua kali lipat, persisnya lebih dari 211 jam. Berikut penuturan mahasiswa asal Kebumen, Agung Widhianto, yang tengah menempuh pendidikan S2 Ilmu Politik di Swedia.
    ------------------------------
    Laporan CAHYO KUNCORO
    -----------------------------


    AGUNG, sapaan Agung Widhianto, sejatinya bukan kali ini berpuasa di luar negeri. Sebelumnya, pada tahun 2013, ia sempat melakoni ibadah puasa di Amerika Serikat. Lalu, pengalaman yang sama juga terjadi saat dia berada di Belanda tahun 2015.

     Namun kali ini, Agung merasakan tantangan menjalani ibadah puasa yang lebih besar di Swedia Utara. "Memang beda juga. Karena dulu saat di Amerika dan Belanda, saya tinggalnya tidak lama. Beda dibanding di Swedia karena memang saya menetap sebagai mahasiswa," kata Agung dihubungi Senin malam tadi (27/5/2019).

     Ya, Agung sudah tinggal di Kota Umeå, Swedia, sejak Agustus 2018. Alumnus Ilmu Politik dan Pemerintahan, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta tahun 2016 itu tengah menempuh pendidikan Master's Programme in Political Science (M.Sc) di Departemen Ilmu Politik, Universitas Umeå, Swedia dengan pendanaan dari Swedish Institute Study Scholarship (SISS).

     Tinggal di Swedia, apalagi saat bulan puasa, menjadi hal yang berkesan sekaligus menantang. Agung mengatakan, ia harus berpuasa nyaris 22 jam. Ini lantaran waktu Shubuh di Umeå akhir Ramadhan ini dimulai pada sekitar pukul 1.36 waktu setempat. Sementara itu, Mahrib masuk pukul 22.48. Praktis, hanya sekitar 3 jam waktu yang dimiliki umat Islam di Swedia Utara untuk berbuka puasa hingga sahur.

     Siang hari menjadi panjang karena di Swedia Utara saat ini tengah berlangsung musim panas, yang dimulai sejak pertengahan April sampai pertengahan September.  "Jadi buka puasa, langsung sekalian sahur. Kebanyakan muslim di sini aktivitas makan besarnnya satu kali saja," kata pemuda yang juga menjabat sebagai Koordinator Wilayah, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Swedia Utara, meliputi Umeå, Luleå, dan Kiruna tersebut.
     Waktu siang hari yang mencapai 22 jam itu membuat Agung memiliki sebutan sendiri untuk Swedia Utara. Agung menyebut Swedia Utara sebagai negara tanpa malam hari.  "Awal Ramadhan di Umeå dimulai pada 6 Mei 2019. Namun, sehari sebelumnya terdapat perbedaan pendapat di kalangan komunitas muslim Umeå mengenai kapan waktu Shubuh dan Maghrib dimulai karena Ramadhan kali ini bersamaan dengan musim panas."

     "Itu artinya, matahari benar-benar ada di bumi bagian utara sehingga siangnya begitu lama, sekitar 21-22 jam. Perbedaan pendapat tersebut berakar pada kenyataan bahwa di sini tidak ada malam dalam makna yang sebenarnya," katanya.

     Selain harus berpuasa dengan durasi waktu yang sangat panjang, Muslim di Swedia Utara juga memiliki tantangan lain. Agung mengatakan, ada lebih dari 6 ribu muslim di Kota Umeå, dengan total populasi keseluruhan penduduknya lebih dari 122.000 jiwa. Itu berarti, umat Islam di Umeå tergolong kelompok minoritas.

     Jadi, jangan heran, suasana bulan Ramadan di Swedia Utara jauh berbeda dibanding di Indonesia. Makan minum di siang hari, atau berpesta pada akhir pekan, menjadi pemandangan keseharian di sana yang harus dihormati oleh umat Islam.

     Kalaupun ada nuansa Islami, datangnya dari masjid yang berada di Kota Umeå. Di tempat itupun, kata Agung, baru terlihat ramai saat masuk waktu Salat Tarawih. “Karena perbedaan pandangan di antara muslim di sini, masjid tak selalu ramai pada waktu salat wajib. Mereka baru bersama-sama menjalankan ibadah saat Salat Tarawih berjamaah," imbuh pemuda warga Kelurahan Panjer, Kebumen tersebut.

     Saalat tarawih di Swedia Utara, lanjut Agung, terdiri atas 8 rakaat ditambah Salat Witir 3 rakaat, sehingga totalnya menjadi 11 rakaat. "Namun, Salat Isya disusul Salat Tarawih dan Witir di sini bisa sampai 50 menit karena bacaannya panjang-panjang," canda Agung.

     Menjalani ibadah puasa dengan jauh lebih lama, diakui Agung, menjadi pengalaman hidup tersendiri. "Menjadi muslim di Swedia Utara, tepatnya di Kota Umeå, adalah kenikmatan yang luar biasa karena saya begitu mudah dikenali oleh komunitas muslim di sini. Selain karena saya berasal dari Indonesia, penampilan saya yang kerap mengenakan peci hitam dan sarung juga membuat saudara-saudara muslim dari Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika memanggil saya dengan sebutan 'Indonesia', 'Agung', atau 'Agung Indonesia'. Sejauh ini, saya adalah satu-satunya mahasiswa muslim laki-laki dari Indonesia di Kota Umeå," katanya.
    "Saya menjadi benar-benar lebih dekat dengan Tuhan. Kondisi ini juga menguji tingkat keimanan saya," imbuh Agung.

     Hal lain, Agung merasakan betapa pentingnya solidaritas dan kerukunan. "Perbedaan agama, asal negara, bahasa, mahzab fikih, sama sekali tidak dipermasalahkan disini. Sehingga, toleransi antar umat beragama juga tinggi," ujarnya.

     Agung sendiri bakal diwisuda pada hari ini, Selasa (28/5). Ia kembali akan melanjutkan pendidikan pada Agustus 2019. "Sebelum itu, saya berencana kembali ke Kebumen Juni 2019", katanya.(*)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top