• Berita Terkini

    HONDA BEAT

    Kamis, 29 November 2018

    Solo-Ngawi Kini Hanya 1,5 Jam

    SRAGEN – Rencana menyambung jalan tol Jakarta - Surabaya pada akhir tahun ini semakin dekat. Terbaru, Presiden Joko Widodo meresmikan Tol segmen Sragen-Ngawi sepanjang 51 kilometer di rest area KM 538, Sragen, Jawa Tengah, kemarin (28/11/2018). Segmen tersebut merupakan bagian dari proyek jalan tol Solo – Ngawi.


    Hingga kini, tinggal empat segmen lagi untuk benar-benar menyambungkan Jakarta - Surabaya melalui jalan bebas hambatan. Yakni segmen Tol Pemalang-Batang sepanjang 33 km, Batang-Semarang (75 km), Salatiga-Solo (33 km), dan Wilangan-Kertosono (39 km). Rencananya, empat segmen tersebut diresmikan presiden pada minggu kedua Desember. "Tadi saya tanyakan ke Menteri BUMN dan Dirjen, beliau-beliau menyampaikan tinggal cari waktu meresmikannya. Artinya sudah rampung kalau berani ngomong seperti itu," kata Jokowi. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menambahkan, dengan rampungnya pembangunan, tidak berarti tugas selesai.


    Tantangan selanjutnya adalah memanfaatkan akses tol untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah-daerah yang dilalui. Karena itu, Jokowi meminta para kepala daerah untuk mengintegrasikan tol dengan kawasan strategis. Misalnya, kawasan industri, baik yang baru maupun lama, hingga ke kawasan-kawasan wisata. Tugas pemda, kata dia, adalah memperbaiki jalan-jalan penghubung. "Jangan sampai tol ini hanya berdiri sendiri sebagai jalan tol, semuanya harus diintegrasikan sehingga manfaatnya betul-betul maksimal," imbuhnya.


    Pembangunan tol sendiri, lanjutnya, mulai memberikan dampak positif bagi daerah. Di Ngawi, misalnya, berdasarkan laporan Bupati, investasi besar akan masuk dan berpotensi membuka lapangan kerja. "Karena lahan lebih murah, UMK juga kompetitif. Saya kira itu dilihat oleh para investor," tuturnya. Kawasan rest area juga harus diisi dengan produk dan brand lokal. Baik makanan maupun produk kerajinan. Dalam pembangunan tol ke depannya, konsep tersebut akan terus dilakukan. "Saya senang hari ini nengok ke kanan ada soto kwali, ada lontong opor, ada pecel lele, ada oseng kikil. Nengok ke kiri juga ada soto madura, bakso malang," kata dia.


    Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR Sugiyartanto mengatakan, pembangunan tol Solo-Ngawi menggunakan skema Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU). Pemerintah melalui Kementerian PUPR memberikan dukungan dana APBN sebesar Rp 2,57 triliun. Dana tersebut untuk pembiayaan sebagian konstruksi sepanjang 21,08 km dari Kartasura hingga Karanganyar untuk meningkatkan kelayakan investasi jalan tol.


    Kemudian, investasi pembangunan Tol Solo-Ngawi dilakukan oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Jasa Marga Solo-Ngawi (PT JSN). Perusahaan tersebut sebelumnya bernama PT Solo Ngawi Jaya (PT SNJ). "Masa konsesi tol ini selama 40 tahun," ujarnya saat menyampaikan laporan.


    Setelah diresmikan kemarin, Segmen Sragen-Ngawi bisa langsung dilalui masyarakat. Untuk tahap awal, pengguna belum dikenakan tarif sebagai bagian dari sosialisasi. Tarif tol akan diberlakukan mulai 6 Desember 2018 pukul 00.00 WIB. Untuk perhitungannya, tarif tol Solo - Ngawi sudah menggunakan formula dasar Rp 1000/km dan penyederhanaan golongan kendaraan dari 5 menjadi 3, yakni golongan 1, 2, dan 3. Jalan Tol Solo-Ngawi memangkas waktu tempuh hingga separo. "Dari yang semula 3 jam, sekarang dapat ditempuh hanya dalam waktu 1,5 jam," tuturnya.


    Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menuturkan, selain mempercepat distribusi barang, pengoperasian Tol Solo-Ngawi sepanjang 90,43 km dapat memicu perkembangan pariwisata daerah. Sebab, jalan tol akan mempercepat akses dari dan menuju destinasi wisata di Solo, Sragen,  maupun Ngawi. "Destinasi wisata di sepanjang Solo sampai Ngawi cukup banyak. Di Karanganyar yang terkenal ada Tawangmangu. Di Sragen ada wisata air panas Bayanan, Situs Arkeologi Sangiran, hingga wisata hiking Gunung Kemukus," kata Rini.


    Di Ngawi pun, lanjutnya, tak kalah menarik. Terdapat destinasi wisata sejarah seperti Benteng Van Den Bosch dan Museum Trinil. Wisata peninggalan sejarah lain adalah Rumah Dr Radjiman Wedyodiningrat, tokoh pendiri BPUPKI (Badan Pergerakan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).


    Menurut dia, peningkatan pariwisata akan memberi efek domino ke sektor lain. Misalnya bisnis kuliner, kerajinan tangan, hingga usaha penginapan. Semua akan menggeliat. Kenaikan permintaan untuk layanan barang dan jasa tersebut dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan perekonomian daerah.


    Pemerintah akan mendorong sekaligus meningkatkan daya saing produk-produk daerah. BUMN, misalnya, bisa ikut memajukan potensi-potensi tersebut dengan berbagai upaya. "Baik lewat peningkatan pelayanan umum seperti listrik dan telekomunikasi, penyaluran kredit usaha oleh BUMN perbankan, hingga Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL)," ujar Rini.


    Beberapa saat sebelum tol Sragen - Ngawi diresmikan oleh Joko Widodo, Menteri Rini sempat melakukan seremonial Gowes sepeda sejauh 10 km bersama 1.000 milenial di KM 528 jalan tol Sragen. (far/oni)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top