• Berita Terkini

    Wednesday, July 5, 2017

    Quo Vadis Pariwisata Kebumen

    Lebaran sudah berlalu. Semua orang kembali kepada aktifitas dan kesibukan masing-masing. Ada catatan menarik terkait lebaran tahun ini, khususnya di Kabupaten Kebumen. Yaitu fenomena pariwisata di Kota Beriman.

    Geliat pariwisata di kabupaten yang terkenal dengan kuliner Sate Ambalnya ini sedang mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Beberapa obyek wisata baru bermunculan, baik yang dikelola oleh pemerintah daerah maupun masyarakat lokal. Sebut saja Pantai Suwuk, Pantai Menganti, Pantai Pecaron, Bukit Hud di selatan Kebumen. Kemudian ada Brujul Adventure Park (BAP), Bukit Langit, Pentulu Indah, Jembangan, Taman Kupu-kupu di wilayah utara Kebumen.

    Gairah masyarakat untuk memajukan sektor pariwisata di Kebumen bertolak belakang dengan pemerintah daerah yang justru baru saja gagal meng-golkan Perda Pariwisata sebagai payung hukum pengelolaan pariwisata. Entahlah, bagaimana nasib Perda Pariwisata yang hingga saat ini masih menggantung hanya karena persoalan karaoke.

    Di musim lebaran tahun ini, sektor pariwisata menyumbang cukup besar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kebumen. Dari informasi yang dikeluarkan Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata, pendapatan dari sektor pariwisata selama liburan lebaran tahun ini mencapai Rp 1,48 milyar dengan jumlah pengunjung 316.643 orang dari 9 obyek wisata yang dikelola Pemkab. Sembilan Obwis tersebut diantaranya Goa Jatijajar, Pantai Suwuk, Pantai Logending, Goa Petruk, Pantai Karangbolong, Pantai Petanahan, Waduk Sempor, Pemandian Air Panas Krakal dan Waduk Wadaslintang.

    Di luar Obwis yang dikelola oleh Pemkab masih ada beberapa obyek wisata yang dikelola oleh masyarakat desa atau swasta, dan tidak kalah ramai pengunjung selama musim lebaran ini, antara lain Benteng Van Der Wicjk Gombong, Pantai Menganti, Pantai Pecaron, Panti Setrojenar, Pantai Ambal, Pantai Laguna Lembupurwo, Wisata Air Jembangan, Bukit Hud, Bukit Langit dan Brujul Adventure Park.

    Pantai Menganti menduduki peringkat tertinggi yang dikunjungi, mencapai 83.006 wisatawan, disusul Pantai Setrojenar dengan 38.110 wisatawan, jauh meninggalkan tingkat kunjungan Benteng Van Der Wicjk yang hanya 12.961 orang dan Wisata Air Jembangan 16.304 pengunjung. Hanya saja tidak diperoleh data berapa omset yang didapatkan dari obyek-obyek wisata tersebut dan bagaimana pengelolaannya, karena tidak dikelola oleh Pemkab.

    Wilayah Kebumen sejatinya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata favorit di Jawa Tengah, bahkan Indonesia. Kondisi geografis yang lengkap, garis pantai yang cukup panjang (lebih dari 50 km) di sebelah selatan, barisan bukit pegunungan nan sejuk di sisi utara. Belum lagi kekhasan tanah dan bebatuan, tidak kalah menarik dari Tanah Lot di Bali atau deretan pantai di Gunung Kidul, Jogjakarta.

    Perbukitan kuno dan batuan purba di Karangsambung Kebumen adalah satu-satunya di Indonesia. Belum lagi kondisi tanah yang subur dengan beberapa waduk, sangat memungkinkan untuk dikembangkan menjadi wisata agro.

    Kekayaan seni budaya dan sejarah Kebumen juga potensial jika dikembangkan dan dikelola dengan serius. Ditambah geliat pembangunan infrastruktur yang sangat mendukung jika Kebumen akan disulap menjadi destinasi wisata. Pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) sudah dimulai, Jalur Lintas Selatan Selatan (JLSS) terus dikebut, bahkan sudah mulai diproses pembangunan jalan TOL Jogja - Cilacap yang melintas sisi tengah Kebumen.

    Ada beberapa catatan dan persoalan yang harus dipecahkan untuk mewujudkan Kebumen sebagai destinasi wisata favorit. Keseriusan dan perhatian yang sungguh-sungguh dari pemerintah maupun masyarakat sangat dibutuhkan.

    Ada tiga hal yang harus diperhatikan jika suatu daerah ingin mengembangkan sektor pariwisata. Pertama adalah produk, artinya obyek wisata itu sendiri. Apa yang ditawarkan kepada pengunjung, apa keunikan dan keistimewaan nya, termasuk sarana dan prasarana di dalamnya.

    Kedua adalah infrastruktur. Akses jalan yang bagus, lahan parkir, transportasi, hotel dan rumah makan termasuk aspek yang mempengaruhi keberhasilan program pariwisata.

    Ketiga adalah manajemen dan promosi. Ini sangat penting, pengelolaan yang profesional dan sungguh-sungguh serta promosi yang masif akan sangat menentukan terwujudnya Kebumen sebagai kota wisata.

    Khusus untuk obyek wisata yang tidak dikelola oleh Pemkab, harus ada perhatian tersendiri. Dimulai dari legalitas dan payung hukum pengelolaan. Jangan sampai terjadi konflik dalam pengelolaan seperti yang terjadi di Hutan Mangrove Pantai Logending, atau tidak adanya payung hukum ketika suatu Obwis dikelola oleh masyarakat lokal atau swasta.

    Saat ini banyak sekali bermunculan obyek wisata yang dikembangkan sendiri oleh kelompok masyarakat desa setempat seperti Pantai Setrojenar, Pantai Pecaron, Pantai Bopong, Pantai Laguna Lembupurwo, Bukit Hud, Brujul Adventure Park, Pentulu Indah juga Bukit Langit.

    Obyek-obyek wisata tersebut harus jelas dan kuat dasar hukum pengelolaannya, apakah dikelola oleh Badan Usah Milik Desa (BUMDes), swasta atau kelompok masyarakat. Hal ini menyangkut pungutan kepada pengunjung, agar tidak terjadi pungutan liar, juga jaminan keamanan serta keselamatan wisatawan.

    Pemerintah, dalam hal ini Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata harus hadir memberikan solusi sebelum muncul persoalan yang lebih besar. Beberapa kejadian pengunjung yang tenggelam terseret ombak di pantai juga harus mendapat perhatian dari pemerintah.

    Pihak kepolisian dalam hal ini Polres Kebumen sudah proaktif dengan membentuk Satuan Khusus Polisi Wisata dibawah Satuan Obyek Vital untuk menangani keamanan dan ketertiban di obyek wisata. Tinggal pemerintah daerah secara serius menindaklanjuti dengan program dan kebijakannya.

    Khusus untuk wisata pantai di kawasan Urut Sewu yang meliputi tiga kecamatan, yaitu Buluspesantren, Ambal dan Mirit, harus diselesaikan kordinasi dan komunikasi dengan pihak Mabes TNI. Karena kawasan tersebut sudah ditetapkan sebagai Kawasan Strategi Nasional (KSN) pertahanan keamanan, dengan fungsi utama sebagai tempat Uji Coba Senjata dan Latihan TNI.

    Kondisi ini, bukan kendala yang besar, justru keberadaan latihan TNI dengan uji coba alutsista (alat utama sistem keamanan) menjadi daya tarik sendiri untuk wisatawan. Kendaraan tempur dan prajurit TNI dengan seragam serta senjata menjadi view unik yang tidak ditemukan di Obwis lain. Terutama bagi para penggemar swafoto (selfie), keberadaan semua itu akan menjadi obyek yang istimewa.

    Disisi lain adalah pengelolaan omset. Harus ada payung hukum dan transparansi dari pendapatan obyek wisata pantai di Kawasan Urut Sewu. Selama ini tidak ada laporan resmi berapa penghasilan yang didapatkan, baik pada musim lebaran maupun hari libur lainnya, bagaimana pengelolaannya juga tidak ada panduan. Dengan dibukanya jalan Jalur Lintas Selatan Selatan (JLSS), pantai di Kawasan Urut Sewu paling memungkinkan untuk dieksplorasi menjadi sumber pendapatan desa maupun daerah.

    Akhir dari semua program dan konsep pariwisata adalah kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menyambut, mengelola dan memajukan daerahnya. Tanpa kesadaran dan partisipasi aktif dari masyarakat setempat, mustahil suatu program akan berhasil. Sinergi antara pemerintah daerah yang memiliki kewenangan serta anggaran dengan masyarakat sebagai ujung tombak, menjadi kunci keberhasilan menuju Kebumen sebagai Kota Wisata Favorit.

    Oleh: Arif Yuswandono SE MSi
    Penulis adalah penggiat media sosial dan Pengamat Kebijakan Publik
    Di Medsos menggunakan nama Arief Luqman El Hakiem

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top