• Berita Terkini

    Tuesday, July 25, 2017

    Dua Bocah di Puring ini Tak Bisa Sekolah dan Tinggal Bersama Ibu Pengidap Gangguan Jiwa

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Meski telah memasuki usia sekolah dasar, namun Budi Santoso (9) dan Adi (7) tidak dapat bersekolah. Hal ini disebabkan karena orang tua kedua anak yakni Paryati alias Sireng (39) mengalami gangguan jiwa. Meski kedua anak itu mengaku ingin sekolah namun Paryati melarangnya.


    Paryati yang tidak lain warga RT 2 RW 4 Desa Surorejan Kecamatan Puring memang telah mengidap gangguan jiwa sejak beberapa tahun lalu. Selain itu suaminya Paryati, Saat,  tidak diketahui dimana rimbanya. Setiap harinya Budi dan Adi hidup dalam pengawasan ketat Paryati. Bahkan menurut pengakuan Budi, demi melarang sekolah Paryati kerap kali marah-marah dan memukulinya. “Nek aku sekolah biyung kesuh, aku disabeti,” tutur Budi, Selasa (25/7/2017).


    Dari pantauan Kebumen Ekspres, kehidupan dua anak tersebut tergolong sangat memperihatin
    kan. Kondisi rumah Paryati pun sangat mengenaskan. Tidak ada perabotan maupun kasur di semi permanen yang ditempatinya. Paryati dan kedua anaknya tidur di ranjang (amben) yang tidak layak pakai. Selain itu bagian belakang gedek rumah juga terbuka. Hal ini membuat rumahnya jauh dari kata layak untuk ditinggali. Bukan hanya itu saja, Paryati pun selalu mengikuti ke mana pun kedua anaknya pergi.

    Saat disambangi rumahnya, Paryati hanya diam dan tidak mau berbicara seakan mencoba untuk menghindari orang asing. Setiap harinya yang dilakukan Paryati hanya mengikuti ke mana pun anaknya pergi. Paryati mengalami gangguan jiwa, Paryati juga tidak segan-segan membuang makanan atau barang dari pemberian warga. “Kemarin oleh warga sempat dikasih beras, piring dan kasur, namun semua dibuangnya,” tutur warga RT 2 RW 4, Mujiatun Suratmin.

    Dijelaskannya, dulu setelah melahirkan anak nomor dua yakni Adi sempat diasuh oleh warga Cilacap, namun hanya setengah tahun dikembalikan. Kala itu Paryati masih bersama suaminya. Paryati dan suaminya juga pernah merantau ke Kalimantan. Namun di sana Paryati kerap kali mengamuk. Akhirnya Paryati dan suaminya pun kembali ke Surorejan. “Setelah itu Paryati seperti depresi. Suaminya yang kabarnya berasal dari Lombok pergi meninggalkannya tanpa kabar,” jelasnya.

    Kepala Desa  Surorejan Puring Sarwono menyampaikan, dari pemerintah desa maupun warga telah berusaha semaksimal mungkin membantu keluarga tersebut. Paryati juga mempunyai semua program bantuan pemerintah seperti KIS, BPJS, raskin dan bantuan lainnya. “Namun orangnya memang seperti itu, selalu membatasi diri dengan warga.

    Jika tidak tepat maka Paryati juga kerap ngomel yang tidak jelas. Semua bantuan diterima dan dikelola oleh masyarakat, kemudian diberikan sedikit demi sedikit melalui anaknya,” terangnya.

    Ditambahkannya, Paryati sebenarnya sangat menyayangi kedua anaknya, bahkan dia tidak sedetik pun mau berpisah dengan anaknya. Karena itulah mungkin akhirnya Paryati melarang kedua buah hatinya bersekolah. “Warga sebenarnya sangat kasihan melihat hal itu, namun apa yang dapat diperbuat,” ucap Mujiatun. (mam)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top