• Berita Terkini

    Friday, November 4, 2016

    Wacana Revisi Hari Jadi, Mulai Mengerucut

    Sudarnoahmad/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Rencana merevisi Hari Jadi Kabupaten Kebumen telah memasuki tahap Focus Group Discussion (FGD) yang kedua. Pada FGD kedua di Ruang Rapat Setda, Kamis (3/11/2016), penentuan hari jadi telah mengerucut pada versi yang dinilai paling tepat. Yakni asal mula lahirnya Kebumen dilacak dari berdirinya Panjer. Menurut sejarahnya Panjer berasal dari tokoh yang bernama Ki Bagus Bodronolo.

    Sedangkan yang kedua, dilacak sejarahnya dari munculnya nama Kebumen yang pertama kali. Adalah adanya tokoh Kyai Pangeran Bumidirjo (Babad Arungbinang). Kyai Pangeran Bumidirjo sampai di Panjer dan mendapat hadiah tanah di sebelah utara Sungai Luk Ulo. Pada tahun itu juga dibangun padepokan yang kemudian di kenal dengan nama daerah Ki Bumi atau Ka-Bumi-An, yang kemudian menjadi Kebumen.

    FGD yang dimoderatori oleh Asisten 1 Sekda Mahfudz Fauzi, menghadirkan Hadir pembicara kunci Ketua Pusat Studi Kebudayaan  UGM Yogyakarta Dr Aprinus Salam dan Dosen Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen, Cholidi Ibhar MA.

    Selain itu hadir para budayawan, pemerhati sejarah Kebumen, akademisi, tokoh masyarakat, hingga tokoh pemuda. Tampak Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Pekik Sat Siswonirmolo, Dalang Senior Basuki Hendro Prayitno.

    Ketua Pusat Studi Kebudayaan Yogyakarta Dr Aprinus Salam, mengatakan pihaknya tak hanya melakukan penelitian terhadap sejumlah hasil penelitian terdahulu terhadap sejarah Kebumen beserta berbagai sumber data. Pihaknya juga bekerjasama dengan peneliti di Belanda guna mendapatkan berbagai bukti  tertulis tentang sejarah Kebumen berdasarkan catatan pemerintah kolonial Belanda. "Kita butuh bukti-bukti pendukung," kata Aprinus Salam, pada acara FGD.

    Ia mengungkapkan, berdasarkan teori I Gedhe Semadi Astra, setidaknya terdapat lima syarat untuk menentukan hari jadi suatu daerah. Yakni sebuah adanya pemimpin atau pemerintahan, lokasi atau wilayah, sistem pemerintahan, rakyat dan sejarah bersama. "Maka pengangkatan Kyai Bodronolo pada 1642 sebagai Adipati Panjer oleh Sultan Agung bisa dijadikan alternatif kuat penentuan tanggal bagi Hari Jadi Kebumen," tegas Aprinus.

    Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setda Kebumen, Asep Nurdiana, mengatakan Pemkab Kebumen telah membentuk dewan riset yang melakukan penelitian mendalam terhadap sejarah dan budaya Kebumen. Tak hanya itu, pada acara itu juga melibatkan tim dari Pusat Studi Kebudayaan UGM. "Tim melakukan penelitian kembali berbagai fakta dan data yang terkait sejarah Kebumen. Pengkajian ini penting mengingat  banyak aspirasi masyarakat yang menolak ditetapkannya 1 Januari 1936 sebagai Hari Jadi Kebumen," beber Asep Nurdiana.

    Untuk diketahui, penetapan Hari Jadi Kabupaten Kebumen tanggal 1 Januari 1936, merupakan berdasarkan waktu penggabungan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Kebumen.
    Penetapan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Lembaran Negara Hindia Belanda Tahun 1935 Nomor 629 tertanggal 31 Desember 1935. Kemudian ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1990. Hingga saat ini menjadi polemik dan kontroversi di masyarakat Kabupaten Kebumen. Penetapan hari jadi saat ini dinilai tidak tepat lantaran hanya mendasar pada keputusan pemerintah kolonial Belanda kala itu. Terdapat beberapa versi dinilai lebih tepat.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top