• Berita Terkini

    Sunday, July 10, 2016

    Trauma Tol Brebes Timur, Jalur Selatan Padat

    Baru 16 Persen Pemudik Lewati TolJAKARTA— Kemacetan super parah tol Pejagan-Brebes Timur saat arus mudik membuat pemudik memilih jalur arus balik yang lain. Korlantas memastikan bahwa baru sekitar 16 persen kendaraan arus balik pemudik yang melewati jalan tol. Karena itulah, Jalur selatan justru mengalami kemacetan.


    Kabag Operasional Korlantas Polri Kombespol Benyamin menuturkan, sesuai data Korlantas arus mudik dari 30 Juni hingga 8 Juli itu ada 649 ribu kendaraan yang melewati jalan tol, Seperti, Cikarang Utama, Jagorawi, Pejagan dan Brebes Timur. “Tapi, saat arus balik jumlah kendaraan menurun drastis,”tuturnya.


    Pada arus balik lebaran dari 6 Juli hingga 8 Juli ternyata kendaraan yang menuju Jakarta baru berjumlah 132 ribu. Jumlah itu hanya 16 persen dari jumlah kendaraan arus balik. “Kemacetan hanya ada di Cikampek dan Cipularang.Itu karena adanya pertemuan dua arus kendaraan dari Bandung dan Cirebon,”terangnya.


    Dia menuturkan, kemacetan lainnya juga terjadi di setiap pintu masuk tol. Itu juga terpantau antrian kendaraan tidak sampai 2 km. Maka, secara umum di jalan tol belum ada kemacetan parah. Kendaraan tetap bisa melaju, kendati terkadang harus padat merayap. “Yang penting, tidak berhenti bergerak seperti saat arus mudik,”jelasnya.


    Karena itu pula, hingga kemarin bula diberlakukan pembebasan biaya masuk ke jalan tol Brebes Timur. Kemacetan di pintu tol belum mencapai lima km. “Ya, belum macet para kok, semoga tidak ada kemacetan parah lagi,”ungkapnya.


    Namun, di luar tol itu memang terjadi kemacetan, seperti di Tegal. Kemacetan terjadi kemarin siang sekitar pukul 13.00 WIB. Akhirnya, Korlantas memutuskan untuk membuat contra flow dengan tiga jalur menuju ke Brebes dan satu jalur menuju ke Pekalongan. “Namun, begitu masuk tol, tidak lagi macet,”terangnya.

    Sayangnya, walau jalur tol masih terbilang cukup lancar. Jalur selatan justru mengalami kemacetan yang cukup parah. Pukul 15.00 kemarin kemacetan sepanjang 10 km terpantau di Tasikmalaya menuju ke Ciawi.


    Menanggapi masalah itu, Benyamin menjelaskan bahwa ada kekhawatiran kalau pengendara trauma untuk melewati tol Brebes Timur-Pejagan. Sehingga, mereka lebih banyak memilih melewati jalur Selatan. “Nanti malah Jalur Selatan juga macet parah,”tuturnya.


    Jalur selatan itu terbilang cukup sempit, hanya ada dua jalur yang membuat tidak mungkin dilakukan contra flow. Kalau di Jalur Selatan, jika memang macetnya parah kebijakan yang bisa dilakukan adalah sistem buka tutup. “Yang arus balik menuju ke Bandung dan Jakarta akan diutamakan, arah sebaliknya ditutup dulu,”terangnya.

    Dia berharap masyarakat tidak perlu takut untuk melewati pantura dan masuk ke Tol Brebes Timur. Terutama, untuk masyarakat yang posisinya lebih dekat ke pantura. “Yang lebih dekat ke pantura bisa lewat pantura, jangan malah semua memilih jalur Selatan,”paparnya.


    Karakter arus balik ini juga berbeda dengan arus mudik. Hal tersebut membuat kemacetan bisa diatur lebih baik, misalnya kemacetan terjadi di pintu tol. Maka bisa dialihkan ke jalur yang lain. “Tapi, kalau arus mudik, semua sudah masuk tol. Sulit untuk bisa diarahkan melewati jalan lainnya,”ujarnya.

    Selain itu, kemungkinan bahwa pemudik juga banyak yang memilih pulang minggu depan bisa menjadi penyebab mengapa jalan tol tidak begitu ramai. “Kami sebelumnya sudah menghimau agar tidak mepet-mepet weekend, kalau sebelumnya lebih baik. Atau malah minggu depan,”jelasnya.


    Sementara itu, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna mengatakan bahwa secara umum hingga kemarin, arus balik yang terjadi di sejumlah ruas jalan tol masih terkendali. Beberapa ruas memang terjadi kepadatan kendaraan, namun tidak sampai macet seperti yang terjadi di ruas jalan tol Pejagan-Brebes Timur saat arus mudik lalu.


    Herry mengatakan bahwa kepadatan kendaraan yang paling menonjol hingga kemarin yakni di KM 66 Tol Cikampek arah Jakarta. Di ruas tersebut tampak terjadi penumpukan kendaraan hingga belasan kilometer karena menjadi titik pertemuan antara kendaraan yang datang dari Tol Cipali dan Tol Cipularang atau dari Bandung dan Cikopo.
    “Memang puncak arus balik diprediksi terjadi malam ini karena para PNS sudah mulai bekerja Senin (11/7) depan. Namun berdasarkan pemantauan masih terkendali,”kata Herry saat dihubungi Jawa Pos, kemarin.

    Dia mengatakan bahwa pihaknya siap menggratiskan biaya masuk ke seluruh ruas tol yang digunakan jalur arus balik jika kemacetan parah terjadi. “Sampai saat ini langkah itu belum perlu. Kalau sampai terjadi kami sudah siap mengambil langkah itu agar bisa mengurqi kemacetan,”ujarnya.


    Sementara itu, Danis H. Sumadilaga, Staf ahli Menter Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menambahkan bahwa kepadatan yang terjadi di KM 66 merupakan dampak dari antrian di pintu masuk Tol Cikampek. Hal tersebut, lanjutnya sudah diantisipasi pihaknya, yakni dengan memberlakukan sistem contraflow di KM 65 hingga KM 41.


    Danis juga mengjelaskan bahwa penumpukan jumlah kendaraan juga disebabkan adanya tiga rest area yang ada di sepanjang Tol Cikampek, yakni di KM 62, KM 52, dan KM 42. “Jadi antrian kendaraan yang menuju Jakarta itu juga sudah telihat saat mendekati rest area tersebut,”terangnya.


    Selain itu, Danis juga menuturkan bahwa derasnya arus balik menuju Jakarta juga terjadi di jalur selatan. Terutama yang berangkat dari arah Yogjakarta dan Solo. Menurutnya hal tersebut terjadi karena semakin banyak pengemudi yang ingin menghindari kemacetan yang mungkin terjadi di jalur pantai utara (pantura), seperti di Brebes saat arus mudik lalu.
     “Namun jalur pantura masih diminati. Yang datang dari Semarang inginnya masih lewat utara,”ujar Danis.


    Dia juga megatakan bahwa puncak arus balik akan terjadi dua kali. Arus balik pertama yakni pada kemarin malam dan arus balik kedua pada minggu depan.

    Dia menjelaskan bahwa hal tersebut karena adanya perbedaan masa liburan antara pegawai negeri sipil (PNS) dan pegawai swasta serta liburan sekolah. Karena itu, pihaknya bersama Korlantas dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bekerja ekstra keras saat arus balik.
     “Kalau arus mudik itu semua ingin mengejar satu waktu, yakni hari raya Idul Fitri. Kalau waktu balik, PNS sudah harus masuk Senin depan, tapi yang swasta ini dan anak sekolah baru masuk minggu depannya lagi,”imbuhnya.

    Meski belum sebesar arus mudik, kepadatan arus balik sudah makin berasa pada Sabtu (9/7) malam. Dari laporan NTMC Polri, kepadatan sepanjang 20 Km sudah terjadi di beberapa ruas jalan tol. Yakni di GT Cikopo-Palimanan (Cipali) sebelum Cikampek dan ruas tol Jakarta-Cikampek, di titik pertemuan dengan tol Purbaleunyi dari Bandung.
    ”Di Cikopo karena gerbang tol. Sementara, imbas dari persimpangan Cikampek-Purbaleunyi, kepadatan hingga mencapai Purwakarta,” tutur Dian, petugas setkom NTMC Polri.


    Kepadatan di GT Cipali diprediksi karena adanya masalah pada mesin pembaca e-toll. Sejak sore, banyak kartu yang tidak terbaca. Hingga seluruh pengguna tol diminta menggunakan uang cash. Pihak pengelola tol Cipali, PT Lintas Marga Sedaya hingga kini belum memberikan keterangan terkait hal tersebut. Meski demikian, sudah 21 gardu yang dibuka untuk antisipasi arus balik ini.


    Sementara itu, dari catatan PT Jasa Marga, sudah 109.097 kendaraan yang melintas GT Cikarang Utama masuk ke Jabodetabek. Jumlah ini naik dari sehari sebelumnya, sebanyak 99.458 kendaraan. Peningkatan volume kendaraan diperkirakan masih terjadi hari ini.
    ” Puncak arus balik pada GT Cikarang Utama arah Jakarta akan terjadi pada hari Minggu, dengan prediksi sebesar 117.291 kendaraan,” tutur Dwimawan Heru Santosa AVP Corporate Communication PT Jasa Marga.

    Mengantisipasi lonjakan tajam ini, Jasa Marga telah menyiapkan sejumlah antisipasi. Yakni, menambah 2 gardu exit (dari 21 gardu menjadi 23 gardu), pengalihan lalu lintas ke GT Cikarang Barat 2 dan masuk kembali ke GT Cikarang Barat 4 (3 gardu), penempatan petugas jemput Transaksi 21 lajur dan petugas penukar receh sebanyak 9 orang.

    ”Kita juga lakukan penambahan kapasitas lajur. Ada perpanjangan dedicated lane di KM 66 (Pertemuan arus lalu lintas dari ruas Purbaleunyi dan Cipali),” ujarnya.

    Selain itu, dilakukan pula pengalihan arus lalu lintas (dari Cipali) ke Karawang Barat/Karawang Timur/Kalihurip melalui Arteri Pantura. Dari arah cipularang, arus dialihkan ke Padalarang melalui Arteri.


    ”Saat ini (sabtu malam) contra flow juga sudah berlangsung di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, dari km 65-km 50 mulai pkl 18.10 WIB,” ungkapnya.

    Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan hingga 8 Juli 2016 pukul 00.00 WIB penyaluran Premium mencapai 91 persen dari rata-rata harian normal sebanyak 70.566 Kilo Liter (KL) per hari. Sedangkan penyaluran Biosolar masih berada jauh di bawah normal yaitu sebanyak 86 persen dari rata-rata normal 35.319 KL per hari.


    Wianda menguraikan, penyaluran Pertamax masih menunjukkan tren tinggi hingga 127 persen di atas penyaluran normal sebesar 11.250 KL per hari. Akumulasi tersebut jauh melampaui target perusahaan yang memprediksi rata-rata 117 persen di atas konsumsi normal. Kemudian, untuk Pertalite penyalurannya mencapai 140 persen dari rata-rata normal sebanyak 10.000 KL per hari. Jumlah tersebut telah melampaui perkiraan sebelumnya yaitu rata-rata 10.200 KL per hari.


    ”Masyarakat mungkin kali ini lebih banyak menghabiskan waktu jalannya untuk rute-rute pendek guna bersilaturahmi dengan sanak saudara di kampung halaman. Namun, menariknya Pertamax dan Pertalite tetap stabil di atas 30.000 KL per hari. Tentu kami sangat mengapresiasi pilihan masyarakat tersebut dengan senantiasa menjaga ketersediaan stok yang cukup rata-rata di atas 20 hari,”paparnya.


    Area Manager Communications and Relations Jawa bagian Tengah Pertamina Suyanto menambahkan, berdasarkan data harian penyaluran BBM jenis Premium pada periode yang sama mencapai 11.821 KL atau setara dengan 131. Persen dari rata-rata harian normal. Sedangkan untuk konsumsi Solar mencapai 1.680 KL setara dengan 33 persen dari rata-rata harian normal. Sedangkan untuk Pertalite dan Pertamax justru mengalami kenaikan yang cukup signifikan mencapai 100 persen lebih dari rata-rata harian. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat sudah mulai sadar akan kualitas.


    ”Kami juga sudah menyiapkan stok BBM yang diperkirakan cukup untuk mengatisipasi banyaknya kendaraan roda dua maupun roda empat yang melintasi wilayah Jawa Tengah pada arus balik nanti,”tambah Suyanto.


    Suyanto juga mengungkapkan Pertamina telah siap mengantisipasi permintaan Pertamax Series kemasan bagi pemotor atau mobil yang melintas di Jawa Tengah. Sejak H-3 lebaran realisasi penyaluran Pertamax series kemasan hingga 8.000 liter. ”Kami sudah siapkan stok yang cukup untuk antisipasi arus balik,”imbuhnya. (idr/dod/mia/ken)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top