• Berita Terkini

    Monday, July 25, 2016

    Mangrove Ayah Dilengkapi Jogging Track

    sudarno ahmad/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Kawasan ekowisata hutan Mangrove Ayah, kian ramai dikunjungi wisatawan. Bahkan, selama sebelas hari lebaran jumlah wisatawan yang berkunjung tercatat mencapai 4.419 orang. Ramainya kunjungan tersebut menyusul telah dilengkapinya kawasan hutan dengan jogging track.

    Pembina Kelompok Peduli Lingkungan (KPL) Pansela, Sukamsi, menjelaskan fasilitas jogging track dibangun mengelilingi kawasan hutan sepanjang 300 meter. "Kami baru bisa membuatnya segitu. Jadi belum semuanya kita buatkan," kata Sukamsi, kepada Kebumen Ekspres, Senin (25/7/2016).

    Dengan jogging track, kata Sukamsi, para pengunjung dapat menikmati keindahan hutan mangrove dengan berjalan kaki memutari kawasan hutan. "Mudah-mudahan kami dapat terus melengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan lainnya," ujarnya.

    Sukamsi mengungkapkan, dari ribuan wisatawan yang berkunjung ke kawasan ekowisata Hutan Mangrove Ayah, ternyata pengunjung yang berasal dari Kabupaten Kebumen hanya sekitar 15 persen. Pengunjung yang justru didominasi dari wilayah lain, seperti dari Jogjakarta, Bandung, Banjarnegara, Purbalingga, Purwokerto, Purworejo. Bahkan, lokasi ini juga pernah dikunjungi oleh turis asing dari Perancis, Belanda dan Rusia. "Setelah kami tanya, mereka taunya dari berita online dan sosial media," imbuhnya.  

    Kawasan hutan mangrove yang letaknya tak jauh dari Pantai Logending Kecamatan Ayah, telah menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Kebumen. Pasalnya,  ekosistem mangrove menjadi produk wisata yang menarik karena menyajikan fenomena alam yang beragam. Mulai dari keanekaragaman jenis mangrove, jenis-jenis fauna yang terdapat dalam ekosistem tersebut seperti burung, mollusca (siput atau keong), ikan, jenis-jenis crustacea (kepiting) dan hewan-hewan lainnya.

    Di kawasan mangrove ini, para pengunjung bisa mendapatkan banyak ilmu pengetahuan tentang hutan mangrove dan fungsinya bagi lingkungan, proses terjadinya suksesi, dan berbagai pengetahuan lainnya terkait ekosistem mangrove.

    Wisata ke kawasan ini akan menambah pengetahuan dan pengalaman para pengunjung, karena ekosistem mangrove di muara Sungai Bodo itu masih dalam tahap pertumbuhan.  Sukamsi, mengatakan hutan mangrove yang kini menjadi kawasan wisata edukasi tersebut diakui memiliki banyak manfaat. Selain sebagai penjaga garis pantai, kini lokasi itu telah menjadi kawasan edukasi.

    Bahkan, pengunjung tidak hanya dapat menikmati keindahan panorama alam di sana. Mereka pun dapat turut serta menjaga dan melestarikan hutan mangrove. Salah satunya dengan cara menanam bibit pohon mangrove.

    Dijelaskannya, keberadaan hutan mangrove bukan hanya menjadi objek wisata rekreasi namun juga dapat menjadi media edukasi bagi pelajar.  Bukan hanya kesuburannya saja, tetapi keanekaragaman jenis mangrove yang ada menjadikannya lebih menarik.  "Di tempat ini juga ditemukan ikan kakap putih yang dulu punah sejak 40 tahun lalu. Tapi sekarang muncul lagi, bahkan nelayan sudah banyak yang menangkapnya," terang pria jebolan Magister Hukum ini.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top