• Berita Terkini

    Wednesday, May 18, 2016

    Pemkab Tana Toraja Tak Pungut Retribusi Pariwisata

    KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Bagi sebagian besar pemerintahan daerah, sektor pariwisata merupakan salah satu 'tambang emas' untuk menggenjot peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Namun tidak demikian halnya dengan Pemkab Tana Toraja Provinsi Sulawesi Selatan.

    Padahal pariwisata di wilayah Tana Toraja sudah menjadi destinasi terkenal yang didatangi tidak hanya pelancong lokal tapi juga mancanegara.
    Kenyataannya, Pemkab Tana Toraja tidak menargetkan potensi tersebut sebagai sumber PAD. Bahkan Pemkab Tana Toraja, tidak menarik retribusi bagi setiap wisatawan yang berkunjung.

    Hal itu dikatakan Bupati Tana Toraja, Nicodemus Biringkanae, di Rumah Jabatan Bupati Tana Toraja di Kota Makale, saat menerima kunjungan kerja Pemkab Kebumen, akhir pekan lalu.

    Pria yang karib disapa Nico itu mengungkapkan, meski PAD Pemkab Tana Toraja hanya Rp 76 miliar, namun pihaknya tidak berminat mendongkrak PAD dari hasil memungut potensi wisata yang ada. "Kami tidak menarik apa-apa karena kami memang tidak PAD oriented," tutur Nico, kepada Kebumen Ekspres, ditemui usai menerima rombongan dari Pemkab Kebumen, Sabtu akhir pekan lalu (14/5/2016).

    Nico mengungkapkan, pihaknya menghendaki dengan tidak adanya pungutan, masyarakat yang mengelola obyek wisata benar-benar sejahtera. "Kalau masyarakat di sekitarnya sejahtera, itulah PAD sesungguhnya," tegas Nico.

    Dalam sehari, kata Nico, wisatawan yang berkunjung di Tana Toraja mencapai lebih dari 1.500 orang. Jumlah itupun sebenarnya telah merosot tajam sejak teror bom Bali. Teror bom Bali pada 2002 diyakini sebagai salah satu penyebab terpuruknya pariwisata Toraja. Padahal sebelum peristiwa itu, turis asal Eropa hilir-mudik di berbagai desa (lembang).

    Sejak saat itu, usaha penginapan dan rumah makan rontok satu per satu dan pemiliknya beralih jadi petani. Sebagian besar pemuda desa merantau karena tak ada lagi pekerjaan di kampungnya.

    Jika Bali butuh tiga tahun untuk mengembalikan turis ke keadaan sebelum teror tahun 2002, Toraja yang sudah terengah-engah sejak krisis moneter 1998, tak kunjung membaik hingga saat ini. "Tekad kami saat ini ingin mengembalikan Tana Toraja menjadi tujuan wisata nomor dua di Indonesia," tegasnya.

    Sebelum 1998, jumlah wisatawan ke Toraja mencapai 300 ribu orang per tahun. Mayoritas turis tersebut berasal dari Perancis, Spanyol, Jerman dan Belanda. Mereka biasanya datang pada Juli, Agustus hingga September, saat upacara adat banyak dilakukan.

    Toraja, yang secara administratif terbagi menjadi dua kabupaten, Tana Toraja dan Toraja Utara, terkenal akan tradisi yang dipegang teguh warganya. Yakni upacara kematian (rambu solo’) dan kubur batu.
    Ada tiga cara pemakaman Toraja. Pertama, peti mati disimpan di dalam gua. Kedua, peti mati disimpan di makam batu berukir. Ketiga, peti mati disimpan di tebing. Biasanya, orang-orang kayalah yang dikubur di makam batu berukir.

    Masyarakat Toraja memang tidak menguburkan jenazah di dalam tanah. Mereka juga mempercayai bahwa semakin tinggi tempat jenazah diletakkan, maka akan semakin cepat juga rohnya sampai ke surga. Dengan berlalunya waktu, peti jezanah akan menjadi lapuk. Tak aneh bila ada peti yang terjatuh. Peti-peti yang terjatuh ini biasanya dibiarkan, karena untuk memindahkannya perlu diadakan suatu upacara terlebih dahulu.

    Terdapat pekuburan yang tak lazim yang justru menjadi daya tarik wisatawan. Yaitu Pekuburan Batu Lemo. Kuburan Batu Lemo ini berupa deretan liang batu yang terdapat di bukit cadas tempat penyimpanan jenazah. Kawasan pemakaman ini telah berusia ratusan tahun dan diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16 sebagai tempat pemakaman kepala-kepala suku Toraja.

    Disekitar kuburan terdapat jajaran tau-tau (patung kayu orang yang sudah meninggal) yang berdiri rapi di depan liang. Di Pekuburan Batu Lemo ini juga terdapat tiga buah rumah tongkonan (rumah adat Toraja).

    Selain di Kuburan Batu Lemo, juga terdapat Pekuburan Goa Londa. Kuburan Londa berlokasi di Desa Sandan Uai, Kecamatan Sanggalangi. Untuk mencapai lokasi makam Londa, harus menuruni sejumlah anak tangga. Untuk memasuki kawasan gua makam Londa, akan membutuhkan lampu petromax sebagai penerang. Di sebuah kaki tebing yang tinggi, ditempat ini ada banyak peti jenazah yang terselip di celah-celah dinding tebing. Selain itu juga akan melihat deretan tau-tau yang berjajar. Goa Makam Londa ini memiliki kedalaman hingga 1000 meter. (ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top