• Berita Terkini

    Selasa, 19 Maret 2024

    Pembangunan Disebut hanya Terpusat di Perkotaan, Tokoh di Kebumen Angkat Bicara


    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Ketua PCNU Kebumen KH. Dawamudin Masdar tak setuju dengan anggapan segelintir orang yang menyebut pembangunan Pemkab saat ini hanya terpusat di pusat kota saja. KH Dawamudin menyebut, penilian pihak-pihak yang mengkritik Pemkab khususnya Bupati Kebumen itu tidak obyektif. Bahkan, jauh dari realita yang ada.


    "Anggapan tersebut sangat subjektif, tanpa didasari dengan data yang memadai. Justru pembangunan di era Bupati Arif sudah merata, bahkan pembangunan di wilayah lebih banyak daripada di kota," ujar Kiai Dawam, Selasa (19/3).


    Dawam menyampaikan, pembangunan di pusat kota yang dilakukan Bupati Arif Sugiyanto tidaklah terlalu banyak. Hanya meliputi, ujar Dawam, alun-alun, kemudian jalan satu arah, lalu pasar pagi. "Itu pun anggarannya dari Pemerintah Pusat," ujar Kiai Dawam


    Sementara, lanjutnya, Pemerintah Daerah telah banyak membangun di sejumlah wilayah. Misalnya pembangunan jalan, jembatan, ada shrimp estate di Petanahan, RMU di Kutowinangun, wisata Pandan Kuning Park, serta sentra industri hasil tembakau di Petanahan.

    "Pemerintah Daerah setahu saya juga tengah mengupayakan pendirian pabrik Sarung Tangan di Purbowangi, Gombong. Setiap tahun puluhan miliar dianggarkan untuk pembangunan jalan dan jembatan di sejumlah wilayah. Juga ada pembangunan jalan bantuan dari provinsi dan pusat seperti jalan Deandles dari Mirit sampai Puring, kemudian jalan Logending sampai Ayah, sekarang mulus. Itu anggarannya ratusan miliar," terangnya.


    Banyaknya bantuan perbaikan jalan dan jembatan di Kebumen dari Pemerintah Pusat tutur Kiai Dawam, tentunya tidak lepas dari peran seorang Bupati yang terus mengupayakan pembangunan yang merata di sejumlah wiayah ditengah keterbatasan keuangan daerah.

    "Pak Bupati saya lihat sudah melakukan berbagai upaya, bagaimana pembangunan itu bisa merata. Ia tahu kondisi APBD terbatas, maka dia tak kehabisan akal, lari ke pusat, minta kepada Presiden agar pembangunan di Kebumen ikut diperhatikan. Alhamdulillah berhasil, dikasih jalan, shrimp estate, pasar, dan lain-lain, sudah ratusan miliar mengalir ke Kebumen. Jadi alhamdulillah, harus kita syukuri," terangnya.

    Selain, pembangunan infastruktur, lanjut Kiai Dawam, Bupati saat ini juga konsen dengan pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, baru di era sekarang, ada beasiswa untuk para santri. Kemudian pemberian dana insentif untuk para guru ngaji di TPQ, dan pemberian insentif untuk ketua RT/RW.

    "Jadi kalau ada yang bilang pembangunan hanya fokus di kota, saya kira tidak tepat. Harus diakui baru sekarang ada anggaran dari Pemerintah Daerah untuk beasiswa santri, kemudian pemberian insentif untuk guru-guru ngaji, dan ketua RT/RW. Ini juga bagian dari pembangunan  SDM. Belum lagi pengangkatan guru honorer menjadi PPPK yang jumlahnya sudah mencapai 3000 lebih. Ini luar biasa gebrakannya," terangnya.

    Lagi pula, Kiai Dawam melihat pembangunan di kota juga sangat wajar, karena kota adalah wajah daerah. Kota dimanpun selalu menjadi pusat perhatian , pusat ekonomi, dan pusat pemerintahan, sehingga sangat wajar, jika kota sebagai wajah perlu ditata, diperbaiki dengan sistem yang lebih modern.

    "Kota Kebumen kan memang sudah lama tidak dibangun. Dari dulu ya begitu-begitu saja, dan baru sekarang dibangun lagi menjadi lebih keren, modern, bersih dan nyaman. Alhamdulillah langsung diganjar Andipura. Kota Kebumen sekarang semakin berkembang, ekonominya tumbuh dengan baik, nuansanya lebih hidup, nggak kaya dulu sepi," ucapnya.

    Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kebumen Puji Handoko menyatakan, pihaknya juga tak sependapat dengan anggapan pembangunan di era kepemimpinan Bupati Arif Sugiyanto hanya difokuskan di Kota. Padahal menurutnya banyak juga pembangunan yang sudah dilakukan di wilayah.


    "Kota kan seperti wajah. Ibarat orang zaman sekarang biar kata kakinya buluken, yang penting wajahnya glowing. Pembangunan kota saya kira juga penting. Namun bukan berarti wilayah tidak dibangun. Saya kira jalan-jalan di wilayah juga banyak yang sudah dibangun," ucapnya.


    Puji menuturkan, sering kali masyarakat hanya memviralkan jalan-jalan yang rusak, seolah-olah tidak mendapat perhatian dari pemerintah daerah karena belum tertangani. Padahal bisa jadi kata Puji, jalan yang rusak itu jumlahnya hanya lima persen dari jumlah total jalan yang ada.


    Dengan begitu, sering kali lanjut Puji, isu infastruktur jalan yang rusak kerap kali ditumpangi banyak kepentingan.. Apalagi jika sudah diunggah di media sosial. "Ibarat kita nyapu di rumah, semua ruangan sudah kita sapu, tapi ternyata masih ada sisa kotoran di pojokan, lalu orang menganggap rumah kita masih kotor. Padahal kotornya sedikit, tapi jadi ramai," terangnya.


    "Jadi kinerja yang sudah dilakukan itu seperti tidak ada nilainnya. Kita nggak boleh seperti itu. Apapun kinerja yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Daerah harus tetap kita beri apresiasi," tambahnya.


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top