HONDA DUO

  • Berita Terkini

    Senin, 28 Mei 2018

    Kereta Habis, Tiket Bus Bisa Dibeli Online

    JAKARTA-Pemerintah berhasil menstabilkan harga kebutuhan pokok. Sejauh ini. Hal lain yang tidak kalah penting, transportasi selama periode mudik, juga terus dipersiapkan pemerintah. Tol trans Jawa terus dikebut penyelesaiananya. Armada pengangkut juga terus diperbaiki.


    Untuk pemudik yang akan menggunakan transportasi umum, sebaiknya membeli tiket angkutan jauh-jauh hari. Tiket pesawat akan lebih murah bila dibeli lebih awal. Pun demikian halnya untuk angkutan darat.


    Karena tiket kereta api regular dan tambahan untuk lebaran hingga 16 Juni sudah terjual habis, bus bisa menjadi alternatif. Apalagi, membeli tiket bus bisa lebih mudah melalui aplikasi.


    Public Relations Manager Traveloka Busyra Oryza menyebutkan, layanan pemesanan tiket bus online menunjukkan tren peningkatan. Kota di pulau Jawa seperti Bandung, Jogjakarta, dan Surabaya, menjadi tujuan favorit pengguna tiket bus online. ”Kami melihat pertumbuhan pemesanan tiket bus cukup positif di mana untuk periode Lebaran lebih tinggi 2 kali lipat dibanding hari-hari biasa,'' ujarnya saat dihubungi kemarin (27/5/2018).


    Ketua DPD Organda Jawa Timur Busairi Mustafa mendorong calon penumpang bus menggunakan aplikasi online untuk melakukan pembelian. Selain lebih mudah, penumpang akan mendapatkan kepastian harga, jadwal berangkat, maupun nomor kursi. 


    Dari sisi pengusaha, pemilik PO Menggala itu menilai aplikasi penjualan tiket bus online juga sangat membantu. Mereka mengecek langsung penjualan tiket secara realtime. ’’Tidak ada lagi patgulipat antara sopir, kondektur, dan penumpang,’’ jelasnya.


    Mustafa menuturkan, perusahaannya sudah setahun belakangan menjalankan sistem penjualan tiket online. Salah satunya lewat Bosbis. Di websitenya sendiri, Menggala juga menyediakan layanan penjualan tiket secara online ke dua destinasi. Masing-masing Malang dan Singaraja.


    Penjualan online itu mendampingi penjualan offline yang masih dilakukan perusahaan Mustafa. Ke depan, dia yakin akan semakin banyak calon penumpang yang membeli secara online. ’’Pembeliannya sekitar 40 persen (porsi pembeli melalui online),'' ungkap Mustafa.


    Kenaikan Penumpang Diprediksi 5 Juni

    Sementara itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, pada sepuluh hari pertama Ramadan penumpang yang bepergian mengalami penurunan. Manager Humas AirNav Indonesia Yohanes Sirait mengatakan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta turun cukup signifikan. Jika pada hari-hari biasa 70 flight per jam, kini 60 penerbangan per jam.

    ”Biasa di awal puasa orang mengurangi perjalanan,” ucapnya.


    Sebelumnya, Direktur Utama AirNav Indonesia Novie Riyanto memprediksi jika peak season penerbangan akan terjadi pada 9 dan 19 Juni. Dua tanggal tersebut menjadi puncak arus mudik dan balik.


    Berbeda dengan tahun sebelumnya, untuk angkutan lebaran kali ini direncanakan akan menggunakan jalur selatan. Novie mengaku telah berkoordinasi dengan TNI AU untuk penggunaan ruang udara di jalur selatan. ”Sejauh ini jaraknya masih 75 mil dari markas TNI AU yang berada di Madiun,” ujarnya. Selama ini jalur selatan digunakan untuk latihan pesawat TNI.


    Penggunaan jalur selatan ini dinilai efektif untuk bandara yang berada di selatan Jawa. Seperti Jogjakarta dan Denpasar. ”Misal penerbangan dari Solo, kalau lewat utara terlalu jauh,” ungkapnya.


    Di sektor perkeretaapian juga belum terlihat pergerakan yang signifikan. Kepala Humas Daop 1 Edy Kuswoyo menjelaskan jika arus penumpang baik yang datang atau tiba di Stasiun Gambir dan Pasar Senen masih normal. ”Akan terlihat naik mulai tanggal 5 Juni nanti,” ungkapnya saat ditemui Jawa Pos.


    Sementara itu, Public Relations Manager Traveloka Busyra Oryza menyebutkan, layanan pemesanan tiket bus online menunjukkan tren peningkatan. Sejauh ini, tutur Busyra, destinasi kota di pulau Jawa seperti Bandung, Jogjakarta, dan Surabaya masih menjadi tujuan favorit pengguna tiket bus online. ”Kami melihat pertumbuhan pemesanan tiket bus cukup positif di mana untuk periode Lebaran lebih tinggi 2 kali lipat dibanding hari-hari biasa,'' ujarnya saat dihubungi kemarin (27/5).


    Opsi layanan tiket bus online, lanjutnya, diakui membuat pilihan moda transportasi yang disediakan Traveloka semakin lengkap. Layanan tersebut diluncurkan Maret lalu. Dia yakin layanan tiket bus online itu bisa memberi alternatif bagi para konsumen Traveloka dalam bepergian. Terutama menjelang masa mudik Idul Fitri yang diprediksi mulai ramai pada 5 Juni mendatang.


                Meskipun demikian, di Jawa Timur misalnya, hingga saat ini belum ada data yang menunjukkan bahwa  pembelian tiket bus naik secara signifikan. Ketua DPD Organda Jawa Timur Busairi Mustafa menuturkan, memang belum semua PO bus di Jatim memberikan opsi pembelian tiket secara online. ’’Sebagian sudah bisa, terutama bis AKAP dan Patas non ekonomi,’’ terangnya saat dikonfirmasi kemarin (27/5). Salah satunya adalah PO Menggala yang dia pimpin.


    Sejauh ini, tutur Mustafa, pihaknya belum mendapatkan laporan dari para pengusaha bus di Jatim, mana saja yang sudah menerapkan sistem tiket online. Juga seberapa besar peminatnya. Meskipun demikian, dia berharap tren pembelian tiket bus segera bergeser ke online. Sebab, akan banyak kemudahan yang didapatkan penumpang maupun pengusaha bus.


    Dari sisi penumpang, mereka bisa mendapat kepastian harga tiket, jadwal berangkat, plus seat. Sementara, dari sisi pengusaha, bisa mengecek langsung penjualan tiket secara realtime. ’’Tidak ada lagi patgulipat antara sopir, kondektur, dan penumpang,’’ lanjutnya.


    PO Menggala contohnya, dia tidak perlu lagi menunggu kondektur datang tengah malam untuk setor. Dia sudah tahu berapa banyak seat yang terjual secara online. Tinggal disinkronkan dengan tiket yang dijual secara offline.


    Mustafa menuturkan, perusahaannya sudah setahun belakangan menjalankan sistem penjualan tiket online. Salah satunya lewat bosbis. Di websitenya sendiri, Menggala juga menyediakan layanan penjualan tiket secara online ke dua destinasi. Masing-masing Malang dan Singaraja.


    Namun, penjualan online itu hanya menjadi salah satu opsi yang bisa dipilih konsumen. Dia masih mempertahankan sistem penjualan offline. Mengingat, masih ada konsumen yang belum melek teknologi atau memang lebih nyaman membeli secara offline.


    Meskipun demikian, sejauh ini respons penumpang di PO nya cukup bagus. ’’Pembeliannya sekitar 40 persen (dari total tiket yang terjual),'' tambah Mustafa. Dia memastikan tidak bakal menutup penjualan tiket secara offline untuk full pindah ke online. Kecuali, bila pemerintah mewajibkan hal tersebut. Namun, dia yakin kebiasaan masyarakat akan berubah dengan sendirinya seiring waktu. (lyn/agf/byu/ang)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top