• Berita Terkini

    Wednesday, May 17, 2017

    Nostalgia Warga Kabupaten Wonogiri" yang "Dipisahkan" Waduk Gajahmungkur

    Kini Jadi Dua Kabupaten, Jajaki Kerja Sama Pemerintahan

    Hubungan batin warga Wonogiri dengan warga Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat tidak bisa terpisahkan. Karena, banyak transmigran asal Kota Sukses ini sekarang menjadi tokoh dan pejabat di kabupaten hasil pemekaran ini. Kedua daerah pun bertekad menjalin kerja sama di sejumlah bidang. Bagaimana suasana “reuni” dua daerah ini?
    ---------------------
    IWAN KAWUL, Wonogiri
    ---------------------
    ROMBONGAN wakil rakyat dan pejabat Dharmasraya kemarin mengunjungi Wonogiri. Sejumlah wakil rakyat berasa kembali ke kampung halaman, setelah belasan tahun meninggalkan Wonogiri. Namun, kali ini dalam rangka studi banding.

    Ketua DPRD Wonogiri Setyo Sukarno mengatakan, kedua kabupaten mempunyai ikatan sejarah yang sangat kuat. Pasalnya, ribuan keluarga dari Wonogiri pernah ditransmigrasikan ke Kabupaten Dharmasraya sekitar 1976-1978 silam.

    “Dulu bedol desa karena tempat tinggalnya hendak dijadikan Waduk Gajah Mungkur,” kata Setyo Sukarno usai menerima kunjungan dari DPRD Dharmasraya, kemarin.
    DPRD Dharmasraya memilih Wonogiri sebagai tujuan studi banding karena Wonogiri telah menetapkan Raperda Pendidikan. Selain itu, DPRD Wonogiri juga mengundang mereka dalam rangka HUT ke-276 Kabupaten Wonogiri.

    “Saya berharap ke depan ada kerja sama yang lebih konkret. Misalnya di bidang pariwisata dan perdagangan. Kami bisa jual tiwul ke sana, karena sekitar 35 persen dari 200 ribu penduduk Kabupaten Dharmasraya kini merupakan keturunan Wonogiri,” terangnya.

    Paryanto, anggota DPRD Dharmasraya dari fraksi PDIP adalah salah satunya yang berasal dari Wonogiri. Dia mengatakan bahwa transmigran asal Wonogiri telah menetap di Dharmasraya selama beberapa dekade. Sebagian dari transmigran kini sukses. Bahkan, beberapa di antaranya duduk sebagai wakil rakyat di DPRD dan kepala organisasi pemerintah daerah (OPD).

    “Para transmigran dahulu sedikit terpaksa karena tidak punya banyak pilihan. Pasalnya, lokasi transmigrasi waktu itu masih berupa hutan belantara. Bayangkan, di sana dulu habis perang dengan PRRI, belum ada ponsel. Kalau mengirim surat dua minggu baru sampai,” ujar pria yang pernah tinggal di Dusun Petir, Kecamatan Nguntoronadi ini.

    Kini banyak transmigran yang sukses. Sebagian besar sukses dalam bidang pertanian, perkebunan dan peternakan.  Dia berharap Kabupaten Dharmasraya menjalin kerja sama yang lebih erat dengan Wonogiri, seperti dalam bidang budaya dan pariwisata. Dengan demikian, mereka tidak kehilangan ikatan asal-usulnya di Wonogiri. (*/aw)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top