• Berita Terkini

    Tuesday, February 28, 2017

    Nasabah BMT di Wonogiri Resah, Tabungan Miliaran Tak Bisa Cair

    IWAN KAWUL/RADAR WONOGIRI
    WONOGIRI – Ratusan anggota Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Sabilillah Slogohimo tidak enak makan dan tidak lelap tidur. Penyebabnya, uang ratusan juta yang mereka investasikan ke lembaga keuangan mikro tersebut sulit dicairkan. Alasannya, BMT setempat sedang merugi.

    Namun, para anggota belum melakukan upaya hukum. Mereka masih mengikuti proses mediasi yang dilakukan dinas koperasi, usaha mikro kecil menengah, perdagangan dan perindustrian Wonogiri.

    Anggota tim likuiditas BMT Sabilillah Soeparno ditemui di kantor dinas koperasi memaparkan, dana para anggota BMT tidak bisa diambil sejak November 2016. "Awalnya ada yang akan mencairkan deposito, tapi tidak bisa. Katanya, (manajemen, Red) BMT sedang merugi," ujarnya, Selasa (28/2).

    Menurut Soeparno, BMT Sabilillah memiliki nasabah sekitar 650 orang. Tapi, dari jumlah itu, yang menyerahkan bukti keanggotaan dan KTP hanya 240 orang. Sedangkan dana yang terkumpul dari mereka mencapai Rp 6,8 miliar. "240 orang itu semuanya menyimpan uang. Tidak ada yang punya utang (meminjam dari BMT Sabilillah)," ungkapnya.

    Anggota BMT Sabilillah lainnya, Untung Subandi menuturkan, dirinya telah menyetorkan uang senilai Rp 580 juta. Tapi, baik Untung maupun anggota BMT Sabilillah lainnya tidak mengetahui penggunaan serta pengelolaan dana miliaran rupiah tersebut. Mereka justru menerima informasi bahwa BMT mengalami kerugian hingga Rp 16 miliar.
    “Sejauh ini kita memang belum melakukan proses hukum. Kita ikuti dulu mediasi yang dilakukan pemerintah," terang warga Dusun Tekil, Desa Sembukan, Kecamatan Sidoharjo.
    Pengelola BMT Sabilillah, Sidik Pramono melalui kuasa hukumnya, Budi Sularyono menjelaskan, saat ini sedang dilakukan klarifikasi aset BMT. Baik aset bergerak maupun tidak bergerak. Persoalan itu sudah ditangani tim yang terdiri atas dinas koperasi, manajemen BMT dan pihak terkait lainnya. "Aset-aset yang ada di perbankan juga diklarifikasi," tutur Budi.

    Nilai aset yang  terklarifikasi, lanjutnya, sekitar Rp 3 miliar. Budi menekankan kliennya tetap berkomitmen mengembalikan uang milik anggota BMT Sabilillah.
    Kepala Dinas Koperasi UMKM Perdagangan dan Perindustrian Wonogiri Guruh Santosa mengaku kecolongan atas permasalahan tersebut. Sebab, selama ini, manajemen BMT Sabilillah selalu melaporkan kondisi keuangannya dalam keadaan baik.

    "Dalam laporan tidak transparan, laporannya tidak sesuai dengan kenyataan. Laporan ke dinas bagus, hasil audit juga bagus. Setelah kita telusuri, ternyata tidak sesuai kenyataan. Kita akui, kita kecolongan, kita dibohongi," tandas Guruh.

    Diterangkannya, sejak akhir 2016, pihaknya telah memfasilitasi anggota BMT Sabilillah membuat tim likuiditas. Tim tersebut bertugas menyelesaikan sulitnya pencairan dana anggota. "Ada mismanajemen, maka kita bentuk tim likuiditas terdiri dari anggota (BMT Sabilillah, Red). Akan selalu kita fasilitasi," ujar Guruh.


    Terpisah, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Surakarta Laksana Dwi Onggo menjelaskan, OJK tidak berwenang cawe-cawe soal BMT. Karena, OJK hanya membawahi jasa keuangan bank dan bukan bank. Sedangkan BMT yang merupakan lembaga keuangan mikro, diawasi oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) dan dinas terkait.
    Meskipun demikian, Laksono mewanti-wanti masyarakat tidak mudah tergiur dengan janji-janji manis oknum BMT dan sejenisnya. Diantaranya keuntungan berlipat dalam waktu singkat. “Kasus seperti ini terus berulang,” terangnya.

    Modus yang biasanya digunakan, imbuh Laksono, yakni memberikan keuntungan investasi bagi anggota BMT atau koperasi sebesar 5-10 persen per bulan. Pada bulan pertama, kedua, dan ketiga, keuntungan investasi diberikan secara lancar.

    Dengan begitu, masyarakat atau calon anggota lainnya ikut tertarik berinvestasi dan tidak memperhatian risikonya. Mereka baru sadar tertipu setelah bulan-bulan selanjutnya tidak ada lagi bagi hasil.

    Bagaimana cara mudah mengenali praktik abal-abal oknum manajemen BMT atau koperasi? Laksono menuturkan, bandingkan keuntungan investasi dengan lembaga sejenis lainnya. Misalnya, lembaga keuangan lain hanya menawarkan keuntungan per tahun 7-8 persen, tapi lembaga tertentu bisa memberikan keuntungan yang sama dalam jangka satu bulan, ini patut dicurigai.

    “Kalau masih penasaran, telusuri jenis usahanya apa? Investasi akan digunakan untuk apa? Oknum-oknum BMT dan koperasi ini bisa beroperasi di mana saja. Bukan hanya di desa. Setiap ada kesempatan, masuk,” beber Laksono.

    Namun, tidak semua BMT dan koperasi bertindak curang mengelabui anggotanya. Masih banyak yang bekerja secara profesional dan bertanggung jawab. (kwl/wa).


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top