• Berita Terkini

    Monday, July 11, 2016

    Tahun Depan Macet di Semarang

    ilustrasi
    JAKARTA – Kemacetan parah di pintu keluar tol Brebes Timur pada arus mudik Lebaran pekan lalu dianggap wajar oleh pemerintah. Kapasitas jalan yang tidak sebanding dengan peningkatan jumlah kendaraan menjadi kambing hitam terjadinya penumpukan kendaraan di jalur tersebut.



    Solusi antrean panjang yang hampir terjadi setiap tahun itu pun belum terpecahkan. Justru sebaliknya, pemerintah memprediksi kemacetan masih akan terjadi pada mudik Lebaran 2017 mendatang. Namun bukan lagi di Brebes Timur, melainkan geser ke Semarang. ”Jangan terkejut kalau di Semarang nanti (tahun depan) macet,” kata Dirjen Bina Marga Hediyanto W Husaini di Jakarta, kemarin (11/7).



    Evaluasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PU Pera), peningkatan kendaraan saat arus mudik memang sulit terhindarkan. Tidak hanya di Brebes Timur, tapi juga di jalur mudik lain di Jawa dan Sumatera. ”Nah, kalau jalan tolnya belum selesai sampai Semarang, wajar kalau pertemuannya (kendaraan) di Brebes Timur,” ungkapnya.


    Hediyanto mengatakan, kemacetan di Brebes Timur sudah diprediksi sebelumnya. Menurut dia, arus kendaraan sulit terbendung ketika seluruh pintu tol dari Jakarta menuju Jawa Tengah dibuka. Kondisi bottle-neck pun terjadi di pintu keluar tol Brebes Timur lantaran kapasitas jalan yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang datang dari Jakarta.



    Kedepan, kemacetan diprediksi bakal bergeser ke Semarang. Hediyanto menuturkan, ruas tol Pemalang-Batang (39 kilometer) dan Batang-Semarang (75 kilometer) ditargetkan bisa dilintasi sebelum Lebaran 2017. Itu artinya, pertemuan kendaraan dari jalur Pantai Utara (Pantura) dengan kendaraan dari jalan tol diperkirakan akan terjadi di kawasan pintu keluar tol Semarang.


    Saat ini, dua ruas tol yang nantinya menghubungkan Brebes Timur hingga Semarang itu masih terkendala pembebasan lahan. Pemalang-Batang, misalnya, prosesnya baru sedang dibebaskan. Sementara ruas Batang-Semarang baru 50 persen saja lahan yang sudah bebas. ”Pembebasan lahan sambil kerja, 20 kilometer bebas langsung dikerjakan,” ujarnya.


    Secara umum, meski dilakukan penambahan jalan tol, Hediyanto menyebut antrean panjang tetap akan sulit terhindarkan saat arus mudik Lebaran. Berdasar data, peningkatan kendaraan selalu tembus empat kali lipat dari kapasitas jalan tol setiap mudik Lebaran tiba. ”Sudah pasti akan terjadi kemacetan, tapi kami akan mencoba meminimalisir,” imbuhnya.


    Selain menyelesaikan pembangunan jalan tol, langkah minimalisir tersebut juga akan dilakukan dengan cara menambah kapasitas jalan menggunakan jalan kabupaten dan provinsi. ”Yang jelas kami ingin memisahkan motor dengan kendaraan (roda empat) untuk menurunkan tingkat kecelakaan. Jadi nanti motor banyak di jalur pantura dan mobil banyak di jalan tol,” tandasnya.


    Sementara itu, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna mengatakan, pembangunan tol di Indonesia juga bakal diikuti oleh sistem pembayaran non tunai yang terintegrasi. Dengan begitu, transaksi di gerbang-gerbang tol yang biasanya membuat antrean bisa dinetralisir.


    ”Tujuan akhirnya nanti multibank. Sehingga, tak perlu lagi khawatir apakah alat non tunai konsumen diterima atau tidak. Kondisi ini saya rasa akan terjadi dua tahun kedepan dimana tol transjawa akan terealisassi,” ujarnya.


    Dia pun mengaku sedang menyusun rencana program jalan tol bebas hambatan dengan gerbang tol otomatis. Menurutnya, hal ini jelas bakal menghilangkan faktor terbesar kemacetan di tol. Namun, dia pun mengingatkan bahwa investasi tol juga tak dirancang benar-benar untuk mudik.

    ”Investasi yang dilakukan oleh badan usaha jalan tol tak mungkin hanya untuk mengakomodir arus mudik. Misalnya disediakan lebih dari dua lajur ternyata sehari-hari sepi, investasinya tak mungkin prospek,” jelasnya.  (tyo/bil)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top