• Berita Terkini

    Sunday, February 26, 2017

    Ribuan Warga Kudus Rayakan Hari Sampah

    HALIMATU HILDA/RADAR KUDUS
    KUDUS – Kesadaran memilah sampah yang bernilai ekonomis sudah semakin meningkat. Sebab, sampah yang didaur ulang dapat dikreasikan berbagai produk yang bisa dipergunakan kembali. Dikreasikan sebagai tas, bunga, baju, dan kreasi lainnya.

    Inilah yang terlihat pada peringatan Hari Bebas Sampah Nasional di areal taman GOR Bung Karno kemarin. Acara yang diselenggarakan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus ini dihadiri oleh hampir seribuan orang.

    Peringatan tersebut melibatkan 21 komunitas bank sampah yang terdiri atas 15 sekolah adiwiyata untuk jenjang SMA, SMP, dan SD. Ditambah enam komunitas bank sampah masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Mutiara Kudus.

    Mereka memperingati Hari Bebas Sampah Nasional tersebut dengan beragam acara. Mulai dari apel pagi yang disertai pemungutan sampah oleh peserta apel di sekitar lokasi, peragaan busana, permainan ular tangga bank sampah, penimbangan sampah, hingga bazar kreasi dari daur ulang sampah.
    Diungkapkan Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Sumiyatun, pihaknya mengapresiasi peningkatan kesadaran masyarakat untuk pemilihan sampah. Beberapa sampah yang bisa didaur ulang sudah mulai dipisahkan.

    ”Kami memang mencanangkan Kudus bebas dari sampah pada 2020. Artinya, sampah harus bisa bernilai ekonomis,” jelasnya.

    Ini terlihat dari karya daur ulang yang dilakukan oleh para komunitas bisa dijual dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Belum lagi, sampah yang organik bisa dijadikan sebagai pupuk. Sehingga, peringatan Hari Bebas Sampah Nasional ini diharapkan bisa berkelanjutan.

    ”Mari wujudkan Kudus bersih, indah, dan mampu meraih Adipura kembali di tahun ini,” tambahnya.

    Ditambahkan, kesadaran masyarakat akan bahaya sampah bisa mengurangi risiko kerusakan alam. Pasalnya, sampah menjadi pemicu adanya banjir, permasalahan kesehatan, dan masih banyak kerugian akibat sampah.

    Mengenai kegiatan ini, salah satu pegiat Bank Sampah Karya Sentosa di Desa Tumpangkrasak RT 4/RW 5, Jati, Nasikhan mengatakan, pihaknya juga menyadari bahwa masyarakat sudah mulai sadar akan pentingnya memilah sampah.

    ”Awal kami mendirikan bank sampah sekitar 2011 lalu, tidak ada nasabahnya. Tapi sekarang sudah ada 300 pelanggan. Baik sekolah ataupun masyarakat di sekitar,” katanya.
    Peringatan ini menjadi kali kedua yang pernah diikutinya. Pihaknya berharap peringatan seperti ini bisa membuat masyarakat lebih sadar terhadap lingkungan. (hil/aji)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top