• Berita Terkini

    Jumat, 20 Januari 2023

    Melacak Jejak Jalan Aspal Pertama di Kebumen

     


    Mulai Diaspal Pertama Tahun 1926, Jalan Pemuda Jadi yang Pertama



    Kini sejumlah ruas jalan di Kebumen banyak mengalami sejumlah penataan. Mulai dari perubahan arah, pelebaran trotoar, penyediaan sejumlah lampu jalan serta tempat duduk dan lain sebagainya. Namun pernahkah terbersit pertanyaan “Sejak kapan jalan-jalan penghubung antar kota dibuka di Kebumen?” dan “sejak kapankah masyarakat Kebumen mengenal aspalisasi jalan?. 

    --------------------

    IMAM WAHYUDI,Kebumen

    ------------------

    Mungkin tidak banyak orang mau memusingkan untuk mengetahui masa lalu termasuk mengurusi pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Namun bagi  Peneliti Sosial dan Pegiat Wisata Sejarah di Historical Study Trips, Teguh Hindarto SSos MTh menarik

    Ia kemudian melakukan penelusuran sejak kapan pengaspalan dilaksanakan di Kebumen. Disampaikannya, berbicara mengenai jalan penghubung di wilayah Kebumen, terdapat beberapa informasi penting dengan mendedah sejumlah dokumen kolonial. Salah satunya dalam sebuah artikel berjudul, Fragmenten Eener Reis Over Java  yang ditulis oleh Dr P Bleeker dalam Tijdschrift voor Nederland's Indië jrg 12, 1850 (2e deel). “Di nomor 8 menyebutkan mengenai rute di Jalur Selatan wilayah Kebumen dan sebagainya,” tuturnya, Jumat (20/1)

    Disitu tertulis, pada 16 September berangkat dari Poerworedjo ke Banjoemas. Dua jalan besar melintasi Bagian Selatan Bagelen (Twee groote wegen doorloopen de zuidelijke helft van Bagelen), dari Timur ke Barat.  Paling selatan ini membentang sejajar dan dekat dengan pantai, melintasi Ambal ke Karang-bolong.

    Paling utara melewati tengah dataran aluvial besar karesidenan. Ini mulai dari Poerworedjo, memotong berturut-turut kabupaten Koetoardjo, Keboemen, Karang-anjar dan sebagian sempit Ambal. Kemudian memasuki Banjoemas dan mencapai Seraijoe di Banjoemas. Setelah itu Goenoeng-Kalongan mengikuti sepanjang jalan, adalah ibu kota kabupaten Koetoardjo, Keboemen dan Karang-anjar dan benteng yang masih dalam pembangunan di Gombong atau Gembung (en het nog in aanbouw zijnde fort te Gombong of Gemboeng)

    “Dokumen di atas memberikan gambaran jalur infrastruktur pasca Perang Jawa berakhir (1830) di mana wilayah Bagelen (Wonosobo, Kutoarjo, Purworejo, Ambal, Kebumen, Karanganyar) dan Banyumas (Cilacap, Banyumas, Purwokerto, Banjarnegara, Purbalingga) menjadi wilayah kekuasaan Belanda. Melalui sebuah pemerintahan karesidenan dan telah terhubung melalui jalan yang dibuka di jalur Utara (sekarang jalan nasional  mulai dari Purworejo sampai Banyumas) maupun jalur selatan (sepanjang Urut Sewu sampai Karangbolong),” katanya.

    Disampaikannya, sekali pun jalan penghubung antar kabupaten telah berlangsung sejak tahun 1843 hingga 1874. Namun bukan berarti jalan penghubung tersebut telah dilakukan pengaspalan.  “Lantas kapan awal pengaspalan di Kebumen,” jelasnya.

    Disampaikannya, jika keberadaan jalan penghubung antar karesidenan dan kabupaten sudah berlangsung sejak tahun 1843. Lantas sejak kapan Regentschap (kabupaten) Kebumen mengalami aspalisasi jalan? Informasi penting diperoleh dari Surat kabar De Locomotief tanggal 19 Juli 1926.

    Disitu tertulis, :Keboemen bisa membanggakan jalan beraspal (geasfalteerd) tahun ini. Jalan dari stasiun ke pasar baru kira-kira 1 km sudah diaspal. Saat ini orang-orang sedang sibuk menyediakan jalan dari pasar baru ke aloon-aloon dengan landasan yang baik (goede onderlaag), kemudian diaspal

    “Berita pendek ini memberikan informasi berharga bahwa awal pengaspalan di Kabupaten Kebumen adalah tahun 1926 itupun hanya terbatas dari arah stasiun (Station weg, sekarang Jalan Pemuda) ke pasar baru (Pasar Tumenggungan) serta dari arah pasar mencapai Alun-alun,” jelasnya.

    Teguh Hindarto menegaskan, sekalipun pengaspalan jalan telah dimulai tahun 1926, namun tidak serta merta semua jalan yang melintasi antar kecamatan dan antar kabupaten serentak dilakukan pengaspalan. Bahkan dari kurun waktu 1926 sampai 1931 proses pengaspalan baru menyentuh kawasan tertentu.

    Dalam berita lain, lanjut Teguh Hindarto, yang berjudul Wegverbetering (Perbaikan Jalan) yang dimuat De Locomotief (3 Desember 1931) menyebutkan pengaspalan (geasfalteerd) jalan antara Desa Panjer dan Kuwarisan yang semula kondisi jalan begitu buruk. Surat kabar yang sama melaporkan kepada pembacanya bahwa kondisi jalan dari Kebumen menuju Kabupaten Karanganyar masih sangat memprihatinkan (een hopeloozen toestand). (mam)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top