• Berita Terkini

    Kamis, 04 Agustus 2022

    Bawaslu Kebumen Luncurkan Buku Liku Juang Pengawasan Pemilu


    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Kebumen meluncurkan buku. Buku terkait suka duka para pengawas pemilu pada gelaran Pilkada Kebumen itu diluncurkan di kantor Bawaslu Kebumen, Rabu (3/8/2022).


    Di saat bersamaan juga dilakukan bedah buku dengan menghadirkan narasumber Agung Widhianto. Tampak juga, para mantan anggota Panwaslu/Bawaslu seperti Ketua dan Komisioner KPU Kebumen Yulianto dan Agus Hasan, tokoh masyarakat Suratno, dan sejumlah mantan pengawas pemilu periode sebelumnya


    Ketua Bawaslu Kabupaten Kebumen, Arif Supriyanto mengatakan, bedah buku ini menjadi rangkaian kegiatan dalam rangka ulang tahun Bawaslu ke-4. "Launching buku ini juga dilakukan secara serentak seluruh kabupaten kota se Jawa Tengah dengan membuat buku sejarah dari masa ke masa di wilayah kabupaten/kota masing-masing," ujar Arif Supriyanto yang kemarin didampingi Aggota Koordinator Divisi Hukum, Humas dan Data Informasi, Nasihudin.


    Nasihudin memaparkan, buku yang diluncurkan kemarin berjudul "Liku Juang Pengawas Pemilu" . Buku setebal 200 halaman ini masih dicetak secara terbatas yakni hanya 120 eksemplar. Lalu apa isinya? Singkatnya, buku ini berisikan rangkuman lika-liku dinamika sejarah pengawasan Pilkada Kebumen dari tahun 2004 hingga tahun 2020


    "Buku yang diluncurkan ini menceritakan 4 aspek. Dari aspek penyelenggaraan kegiatan pemilu dan pilkada, kelembagaan dari pengawas pemilu dari masa kemasa, soal peristiwa yang menarik setiap periode pengawasan, dan aspek profil pemilu. "Mudah-mudahan ini bermanfaat untuk masyarakat," ujarnya.


    Selain itu, isi kandungan buku sejarah pengawasan pemilu di Kebumen ini juga menceritakan dinamika dari tahun ke tahun. Mulai dari dinamika kelembagaan sejak tahun 2004 sampai 2009 dimana tadinya belum ada pengawas desa hingga kemudian sejak tahun 2009 sampai 2014 dibentuk pengawas desa. Dan, dari tahun 2015 sampai hingga saat ini telah dibentuk pengawas pemilu tingkat TPS (Pengawas TPS). Dijelawskan pula, soal penetapan  Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dari yang dulunya Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu)


    Melalui buku ini juga diharapkan sebagai bentuk penghargaan kerja-kerja pengawasan di periode tahun-tahun sebelumnya. Buku sejarah pengawasan itu merupakan yang pertama di Kabupaten Kebumen. "Yang dituangkannya ke dalam buku ini adalah peristiwa-peristiwa yang tercatat dan bisa menjadi sumber referensi ilmiah," ujar Nasihudin.



    Masih ujar Nasihudin, buku ini memang hanya dicetak 120 eksemplar. Namun, warga masyarakat tetap dapat memperoleh buku ini dengan mengakses ku versi digital PDF di website Bawaslu https://kebumen.bawaslu.go.id/category/ppid/


    Sementara itu, Mantan Anggota Panwas Kabupaten Kebumen 5 periode sejak, Suratno mengatakan isi buku "Liku Juang Pengawasan ini komposisi struktur anggota paling ideal periode 2004 dimana untuk pertama kalinya pemilu di indonesia diawasi oleh Panwaslu yang Independen, yakni diisi oleh 5 komposisi unsur yaitu unsur Perguruan Tinggi, Unsur Media/Pers, Tokoh Masyarakat, Unsur Polri dan Kejaksaan.


    "Sebagaimana amanah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Nahkoda Pengawasan Pemilu di Kebumen saat saat itu adalah Drs. Y Padmono, M.Pd (unsur Perguruan Tinggi/alm), Wakil Ketua Suratno, S.Pd (unsur Tokoh Masyarakat), Nanang W Hartono (Unsur Pers), AKP Pawit Setiyanto (unsur Polri) dan Hadi Purwanto, S.H (unsur Kejaksaan). Unsur Polri dan Kejaksaan sempat mengalami PAW, AKP Pawit Setiyanto digantikan oleh IPTU Wahono dan Hadi Purwanto, S.H digantikan oleh Rahmat Purwanto, S.H. sampai masa kerjanya berakhir," jelasnya.


    Suratno menjelaskan meskipun sistem kerja baru, dukungan sarana dan prasarana yang belum lengkap, namun kerja pengawasan berjalan cukup optimal. Banyak monumental bersejarah pelaksanaan pengawasan di Pemilu tahun 2004 ini, selain untuk pertama kalinya ada pemilihan anggota DPD, jumlah Parpol yang cukup banyak (ada 24 Parpol) dan untuk pertama Presiden dipilih secara langsung. Pemungutan suara digelar serentak di seluruh Indonesia pada 5 April 2004.


    "Beberapa kasus dan kejadian yang dialami Panwaslu saat itu diantaranya penanganan sengketa antara Partai Golkar dan PDI Perjuangan yang pertama kali, penanganan kasus dugaan dukungan fiktif anggota DPD dari Gombong, dugaan penggunaan ijazah calon anggota DPRD Kebumen, penanganan pelanggaran kode etik salah satu oknum anggota Panwaslu Kecamatan, dengan cara dinonaktifkan, pembubaran kampanye di luar jadwal di Karangsambung, hingga penertiban penggunaan fasilitas pemerintah untuk kantor Partai Politik," bebernya.


    Tak hanya itu, Suratno menambahkan Panwaslu Kabupaten Kebumen diera tahun 2009 menjadi Panwas dengan kasus pelanggaran terbanyak dan menjadi penanganan kasus pidana pemilu pertama dengan banyaknya kasus yang ditangani oleh Panwaslu Kebumen, mencapai 55 kasus dengan jumlah partai terbanyak yakni 34 partai.


    "Periode ke periode mengalami fenomena seiring pergantian dan perubahan undang-undang yang pasti ada celahnya karena ada unsur kepentingan politis, dalam penanganan pelanggaran pemilu ini butuh keberanian dan butuh strategi khusus untuk penanganan pelanggaran hingga derajat tertinggi, intinya harus ada keberanian," ujar pria yang berprofesi sebagai guru yang menjadi anggota panwas sejak tahun 2004, 2005, 2009, 2014, dan 2015.


    Suratno menyebutkan diera kepemimpinannya pada di Pilkada tahun 2015, selain penanganan kasus administrasi dalam penyelenggaraan pesta demokrasi Pilkada Kebumen dengan menyelesaikan adanya 2 kasus Pemungutan Suara Ulang (PSU) di 2 TPS di Kecamatan Kebumen, juga menggunakan media Wayang sebagai sosialisasi pengawasan.

    "Tahun 2015 era baru pengawasan dimana ada Panwas TPS, kita mencari solusi dalam melakukan sosialisasi pengawasan di kebumen dengan menggunakan budaya lokal Wayang Kulit dan Wayang Golek dan cara ini diterima masyarakat," jelanya.

    Sementara itu, Suratno berharap dengan buku Liku Juang ini bisa memicu pengawasan yang lebih optimal dengan belajar dari keunikan runutan tahapan dari periode ke periode, terlebih dengan dukungan yang serba tercukupi. (fur)




    Berita Terbaru :


    Scroll to Top