BPJS

BPJS
  • Berita Terkini

    HONDA CRF

    Senin, 21 Januari 2019

    Paska Banjir Kebumen, Saluran Irigasi Mendesak Diperbaiki

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN(kebumenekspres.com)-Selain mengakibatkan banjir dan menenggelamkan  hektaran tanaman padi, hujan deras beberapa waktu lalu juga membuat banyak saluran irigasi jebol. Dinas diminta sinergi untuk melakukan pembenahan.

    Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kebumen, tanggul yang jebol akibat bencana kemarin terjadi di beberapa tampat. Ini meliputi  Desa Wonorejo Kecamatan Karanganyar, Desa Caruban dan Arjosari Kecamatan Adimulyo, Desa Jogomulyo Kecamatan Buayan. Selain itu juga terdapat tanggul aliran irigasi jebol di Desa Pekunden Kecamatan Kutowinangun.

    Adanya hal tersebut tak luput dari pantauan Ketua Komisi B DPRD Kebumen Sudarmaji. Pihaknya mengemukakan dari data Bidang Sumber Daya Air DPUPR Kebumen, terdapat setidaknya 172 daerah irigasi yang menjadi kewenangan kabupaten.  Mirisnya, kini kondisinya cukup memprihatinkan. Terdapat beberapa kerusakan pada saluran irigasi yang dibangun pada tahun 1987 itu,  dan hingga kini belum pernah direhab. "Dinas terkait harus segera melakukan penanganan yang rusak. Butuh penanganan serius dari Pemkab,” ungkapnya, Minggu (20//20191).

    Untuk itu Pemkab Kebumen diharap segeralah berkordinasi dengan provinsi dan pusat.  Adapun kerusakan saluran irigasi lebih didominasi oleh pendangkalan dan sedimentasi. Pendangkalan terjadi bertahun-tahun lamanya. Jika tak kunjung mendapat perbaikan kerusakan  tentunya akan semakin parah. Ujungnya masyarakat yang akan susah. Pasalnya,  saluran irigasi menjadi modal penting bagi pengembangan pertanian di Kebumen. “Pertanian ini menjadi salah satu program untuk mengurangi kemiskinan, jadi pemerintah daerah mestinya harus fokus," terangnya.

    Terkait banyaknya kerusakan, Sudarmaji menegaskan harus ada sinergitas antara DPU PR dengan Distapang Kebumen. Sebab irigasi menuju persawahan terdapat Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (Jitut) dan Jaringan Irigasi Desa (Jides). Jaringan irigasi tersier tersebut tentu harus menyambung dengan jaringan irigasi sekunder yang diketahui banyak mengalami kerusakan. “Masing-masing OPD harus bersinergi, bukan mengedepankan egosektoral," imbuhya.

    Pasca saluran irigasi terpenuhi dengan baik, lanjut Sudarmaji, pemerintah tinggal mendorong alat mesin pertanian yang memadai. Dengan demikian, program dari hulu hingga ke hilir benar-benar sinkron. Setelah suport kepada petani diberikan, maka pemerintah dapat mengharapkan kualitas hasil panen maupun padinya. "Sehingga hasil produksi pertanian di Kebumen dapat menjadi kebanggan dan kualitasnya diakui daerah lain," ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top