• Berita Terkini

    HONDA BEAT

    Jumat, 25 Januari 2019

    Memprihatinkan, Kasus HIV di Kebumen Capai 1.125 Kasus

    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Jumlah penyandang Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di kabupaten berselogan Beriman ini cukup memprihatinkan. Dari tahun 2003 hingga 2018 tercatat sebanyak 1.125 orang menyandang penyakit tersebut.

    Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kebumen menyebutkan dari 1.125 terdiri dari laki-laki 704 dan perempuan 421 orang. Jumlah ditemukannya orang dengan HIV/AIDS seiring berjalannya waktu semakin bertambah. Bahkan di tahun 2018 saja ditemukan setidaknya 170 orang yang terkena HIV/AIDS.

    Di Kebumen sendiri menyandang HIV  terdiri dari berbagai latarbelakang. Ini mulai dari petani hingga PNS. Kendati demikian jumlah tertinggi merupakan karyawan, setelah itu baru ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga menjadi penyandang HIV terbanyak ke dua di Kebumen.

    Jika ditinjau dari penyandang paling sedikit yakni dimulai dari nelayan, wartawan, pensiunan, seniman, pelaut dan TKI. Setelah itu TNI/Polri, Mahasiswa atau Pelajar, PNS, Anak, Sopir, Petani dan wanita pekerja seks. Selanjutnya yakni Wiraswasta, Buruh, Ibu Rumah Tangga dan Karyawan.

    Kepala Dinkes Kebumen dr Hj Y Rini Kristiani MKes menyampaikan kasus HIV/AIDS di Kebupatan Kebumen yang ditemukan mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menyebabkan terjadi peningkatan drastis.

    Salah satunya yakni seks bebas, hubungan sesama jenis dan pengguaan jarum suntik yang tidak steril. “Penggunaan jarum suntik ini biasanya terjadi pada pengguna narkoba,” tuturnya, Kamis (24/1/2019).

    Baca juga;
    (Ada Prostitusi Online di Kebumen, Pelakunya Pelajar)


    Disampaikan pula untuk untuk menekan angka penularan penyakit HIV/AIDS diperlukan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat. Selian itu juga peningkatan iman dan taqwa. Pasalnya iman dan taqwa merupakan benteng agar tidak terjerumus pada perilaku sex bebas dan pergaulan yang tidak baik. “Agama menjadi sangat penting dalam upaya menekan angka penularan HIV,” paparnya.

    Adanya peningkatan pengidap HIV juga tak luput dari pantauan Ketua Umum Pemerhati Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia (P3AI) Rizal Gusri. Dalam hal ini pihaknya mengaku miris dengan adanya penyimpangan seksual yang semakin marak di Kebumen. “Diperkirakan angka pelaku penyimpangan seksual atau  Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT) di Kabupaten Kebumen sudah mencapai jumlah sekitar 1000 an orang bahkan lebih,” katanya.

    Menurut Rizal pelaku seks menyimpang tersebut diduga mempunyai komunitas tersendiri dan sangat tertutup. Fakta tentang adanya komunitas LBGT yakni didapat dari pengakuan langsung dari pelaku, pengaduan yang diterima P3AI dari orang tua yang anaknya pelajar digoda oleh pelaku homoseksual. Ini awalnya dilakukan melalui media sosial yakni facebook. Kemudian berlanjut komunikasi pribadi via messenger dengan membujuk dan memamerkan foto bentuk tubuh,” jelasnya.

    Fenomena tentang pelaku seks menyimpang lanjutnta,  merupakan fenomena gunung es. Dimana yang tampak dipermukaan hanya sebagian kecil saja. “Dalam hal ini  perlu perhatian serius dari pemerintah daerah dan meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat untuk mengantisipasi dan mengawasi anak-anaknya. Perlu adanya sosialisasi secara masif ke sekolah-sekolah. Ini untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa. Sosialiasi dilaksanakan guna pencegahan HIV/AIDS.

    “P3AI sudah sering melakukan kegiatan sosialisasi yang berhubungan dengan hal tersebut ke desa-desa dan sekolah-sekolah. Ini dilaksanakan dengan cara swadaya yang tentunya masih kurang optimal. Untuk itu perlu adanya perhatian pemerintah khususnya dari instansi terkait,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top