• Berita Terkini

    HONDA BEAT

    Rabu, 15 Agustus 2018

    Program Bantuan Buku Perpustakaan Kembali Diusulkan

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Setelah gagal menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK), Program Bantuan Buku Perpustakaan akan diusulkan kembali menggunakan Anggaran Perubahan. Pengusulan kembali dilaksanakan mengingat pentingnya program tersebut untuk keberlangsungan dunia pendidikan.

    Hal ini terungkap saat  rapat klarifikasi dan Focus Group Discussion (FGD), yang dilaksanakan di Ruang Rapat 1 Dinas Pendidikan Kebumen. Rapat dihadiri oleh Dewan Pendidikan Kebumen (DPK), Dinas Pendidikan, Komite Kajian Kebijakan Daerah (K3D), PGRI, Perwakilan Paguyuban Literasi dan perwakilan masyarakat. Rapat dipimpin oleh Ketua DPK Agus Hasan Hidayat, Selasa (14/8/2018).

    Agus Hasan menjelaskan, FDG dilaksanakan guna mengumpulkan informasi pada suatu masalah tertentu. Dalam hal ini yakni mengenai gagalnya program bantuan buku perpustakaan. Dari hasil FGD dinyatakan bahwa bantuan tersebut sangat penting sehingga harus diusulkan kembali. “Dari beberapa usulan baik itu K3D, PGRI maupun peserta lainnya banyak yang berharap bantuan tersebut kembali di usulkan,” jelasnya.

    Agus menyampaikan, pada FGD setidaknya dilaksanakan tiga hal yakni klarifikasi gagalnya program bantuan buku, menggali tanggapan dari masyarakat dan mencari usulan solusi dalam program tersebut. “Adanya kegiatan ini diharapkan dapat menjembatani, usulan masyarakat,” paparnya.

    Dalam FGD, Ketua Presidium Komite Kajian Kebijakan Daerah (K3D) Kebumen Hariyanto Fadeli menyampaikan melihat asas manfaat program bantuan buku perpustakaan menjadi sangat penting. Bantuan akan membuat perpustakaan memiliki buku-buku yang menjadi refrensi bagi para siswa. “Kami melihat dari asas manfaat, maka program tersebut sangat penting,” katanya.

    Sementara Ketua PGRI Kebumen Tukijan SPd menyampaikan saat ini kondisi perpustakaan sudah sangat darurat. Sebelumnya terdapat 5 persen dari anggaran Bantuan Operasional  Sekolan (BOS) yang dapat digunakan untuk membeli buku. Namun saat ini anggaran tersebut tidak lagi dapat digunakan untuk perputakaan, sebab angaran yang ada digunakan membeli buku-buku wajib.

    Tukijan melanjutkan, pada Kurikulum 2013 sekolah hampir setiap tahun harus membeli buku wajib. Dengan demikian buku-buku refrensi saat ini yang ada di perpustakaan sudah sangat lama tidan diperbaharui. “Ini sudah sangat darurat, bantuan perpustakaan memang beberapa kali ada, tapi untuk membuat gedung bukan mengisi perpustakaan,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top