• Berita Terkini

    Wednesday, October 18, 2017

    Melawan Ombak, Warga Petanahan Gelar Tradisi Larungan

    foto saefur/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Sama halnya dengan warga di daerah lain, Kelompok Nelayan Mina Barokah bersama warga Desa Tegalretno dan Ampelsari, Kecamatan Petanahan memeringati tradisi Suran dengan cara melarung sesaji ke tengah laut, Selasa (17/10/2017). Untuk tahun ini terasa istimewa karena dilangsungkan di tengah cuaca buruk dan banjir di sejumlah wilayah Kebumen.

    Bahkan, akibat cuaca buruk, larungan yang awalnya digelar pagi diundur menjadi sore hari. Meski begitu, suasana tetap semarak. Ribuan warga menyaksikan kegiatan yang dipusatkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tegalretno yang berada di kawasan pantai wilayah kecamatan setempat. Hadir kemarin, Kepala Desa Tegalretno Supriyanto, Sekretaris Desa Tegalretno, Teguh Priyatno jajaran perangkat desa dan Muspika Kecamatan Petanahan. Termasuk Kepala Desa Ampelsari dan jajarannya.

    Dalam tradisi ini, warga melarung sesajen berupa pisang raja, pisang emas, kelapa muda, tumpeng, lepet, ketupat beserta ubarampenya. Prosesi larungan dimulai dengan doa bersama di Aula TPI Desa Tegalretno yang dihadiri oleh ratusan masyarakat desa dan muspika kecamatan Petanahan. Baru setelahnya, sesajen diarak menuju pantai.


    Sesajen yang ditempatkan dalam wadah berbentu rumah joglo itu lalu dilarung ke tengah laut menggunakan perahu nelayan. Ombak besar sempat membuat warga kesulitan membawa sesajen ke tengah laut. Setelah melalui perjuangan melawan ombak besar, sesajen berhasil dilarung diikuti sorak sorai bercampur ngeri para penonton.

    Kepala Desa Tegalretno, Supriyanto mengatakan, santunan bagi anak yatim juga mewarnai tradisi larungan kemarin. Tradisi semacam ini, kata Kades, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas rejeki yang telah dilimpahkan. Sekaligus, nguri-uri budaya turun temurun warga setempat. "Harapanya tahun depan bisa lebih besar dan meriah," kata Kades.

    Sekretaris Desa Tegalretno, Teguh Priyatno menambahkan, tradisi larungan melengkapi tujuan wisata di Desa Tegalretno. Adanya tradisi larungan sekaligus diharapkan menjadi wahana promosi obyek wisata Laguna Kalibuntu desa setempat yang kini mulai naik daun. "Saat ini Obwis Kalibuntu mulai ramai dengan kehadiran para pelajar dan siswa yang menggelar pendidikan luar kelas. Dengan adanya tradisi larungan, diharapkan akan semakin banyak masyarakat yang tahu keberadaan obwis Kalibuntu," ujar Teguh. (saefur/cah)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top