• Berita Terkini

    Kamis, 16 Februari 2023

    Mengenal Budidaya Lebah di Kebumen


    Sudah Ada Sejak Era Kolonial, Bahkan Sempat jadi Percontohan


    Lebah merupakan jenis serangga yang menghasilkan madu. Tak heran hingga kini banyak masyarakat membudidayakan serangga tersebut, termasuk di Kebumen. Tujuannya adalah untuk memproduksi madu.  Tahukah kita, peternakan lebah secara modern di Kebumen telah dilakukan sejak Era Kolonial?


    -----------------------

    Imam Wahyudi, Ekspres

    -----------------------


    Dari penelusuran data-data yang dilakukan oleh Peneliti Sosial dan Pegiat Wisata Sejarah di Historical Study Trips Teguh Hindarto SSos MThl, diketahui jika budidaya lebah secara modern pada era kolonial pernah dilakukan di Wilayah Kutowinangun.

    Ini disampaikan oleh Hoekman pada artikelnya yang berjudul "De Honigbij in Nederlandsch Oosten" dalam "Indische Boerderij". Dalam artikel tersebut  Hoekman menyampaikan bahwa penelitian pertama tentang lebah Hindia dilakukan oleh Dr WD Horst yang saat itu masih berstatus sebagai Asisten Residen Sambas di Westerafdeeling Borneo atau Kalimantan. “Adapun jenis lebah yang dibudidaya yakni lebah lokal atau Apis Indica atau Apis Cerana Indica,” tutur Teguh Hindarto, Kamis (16/2).

    Disampaikan oleh Teguh, Wilayah  Kutowinangun di Era Kolonial berstatus sebagia district atau kawedanan di bawah Regentschap Kebumen. Di wilayah tersebut ternyata pernah menjadi wilayah percontohan budidaya lebah dengan menggunakan perangkat yang lebih modern.

    Sebelum Mr Kutche dari Nongkojajar di Jawa Timur menemukan pembuatan perangkat modern yang membuat koloni lebah pergi. Sedangkan masyarakat tradisional biasa memasang "Glodok" yang terbuat dari batang kayu kelapa yang dilubangi. Namun hasilnya kurang maksimal.  Perangkat modern tersebut terbuat dari kayu dengan dua ruang yaitu bagian atas untuk pembuahan dan ruang bawah untuk madu yang dihasilkan.

    “Dikatakan dalam buku "Bijenteelt" (1932) bahwa orang-orang desa di distrik Kutowinangun mulai mengganti Glodok dengan sarang lebah yang lebih modern. Menurut catatan, di Jawa Tengah pada tahun 1931 telah terjual 500 kayu sarang lebah,” katanya.

    Dalam hal ini Nama Haji Azhari disebut sebagai peternak lebah dengan perangkat yang lebih modern di Desa Kradenan yang merupakan sebuah daerah yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Ambal.


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top