• Berita Terkini

    Selasa, 13 Juli 2021

    Pandemi Covid, Kebumen Diingatkan Kembali Soal Kearifan Lokal


    KEBUMEN(kebumenekspres.com)-Adanya pandemi atau wabah yang menyerang mulai dari bakteri hingga virus sebenarnya sudah berulang kali terjadi pada peradaban umat manusia. Bahkan di Tanah Jawa ini, cerita pagebluk dimasa lalu kerap kali diceritakan oleh orang tua kepada para cucunya.


    Kisah pageblug menjadi sangat menyeramkan, seakan siapapun yang terserang sakit pada pagi hari, maka sorenya dia akan meninggal. Sedangkan yang terserang sore hari paginya akan meninggal. Beberapa masyarakat kala itu ada mengkaitkan adanya wabah dengan mahluk halus. Namun banyak pula  menganalisa dengan akal bahwa itu adalah virus yang menyebar.


    Katakanlah penyakit pes dan malaria. Kala itu adanya wabah pes dan malaria juga telah meranggut banyak nyawa. Lantas seperti apa masyarakat zaman dulu menghadapi pegebluk tersebut. Seperti diketahui bersama zaman obat-obatan modern dan vaksin juga belum ditemukan.


    Salah satu Praktisi Supranatural Ki Pujiono SPd warga RT 1 RW 2 Desa Kedungwinangun Kecamatan Klirong menyampaian sejak zaman dulu telah banyak virus melanda. Bahkan korbannya juga tidak sedikit. “Masyarakat kita saat itu mempunyai cara tersendiri dalam menagkal virus. Hal ini menjadi khasanah kearifan lokal tersendiri,” tuturnya, Senin (12/7/2021).


    Beberapa cara yang dilaksanakan yakni menggunakan rempah-rempah dan logam. Beberapa cara ini hingga zaman modern juga terkadang masih dilakukan. Biasanya rempah-rempah yang digunakan yakni dinglo bengle dan kuyit. Semua dirangkai dan dikasih uang logam tembaga kemudian dibuat gelang atau diikat di perut.


    Dulu logam tembaga yang digunakan yakni uang logam yang berlubang tengahnya. Koin tersebut berbahan tembaga. “Dari penelitian saat ini diketahui jika tembaga memang dapat membunuh bakteri dan virus. Tidak heran jika dulu banyak peralatan masak menggunakan tembaga,” katanya.


    Disampaikan juga, terdapat cara lain untuk mengusur virus. Zaman dulu masyarakat menggunakan blarak gabug (Daun Pohon Pinang) kering. Penggunaanya pada sore hari daun blarak gabug tersbut dibakar. Asapnya disebar disekeliling rumah dan bagian dalam rumah. Termasuk bagian kolong tempat tidur dan lainnya. “Beberapa cara itu menjadi khasanah kearifan lokal,” ungkapnya.


    Hingga kini pun, dimasa pandemi saat ini masih dijumpai beberapa masyarakat Jawa yang meletakkan potongan dinglo bengle di halaman rumahnya. Tujuannya jelas, sebagai usaha untuk menghalangi virus. “Semua itu merupakan bentuk usaha manusia, dalam menghadapi pandemi atau pageblug,” ucapnya. (mam) 


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top