• Berita Terkini

    Jumat, 12 Juni 2020

    Perkembangan Keilmuan Keperawatan Medikal Bedah Telehealth pada Pasien Stroke

    Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan serius di dunia, hal ini disebabkan karena serangannya yang mendadak yang dapat menyebabkan gangguan fisik, mental, bahkan kematian (Hamjah et al., 2019).

    Profil statistic World Health Organization (WHO, 2019) menjelaskan bahwa 17,9 juta jiwa orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit tidak menular dan 31% dari kematian di seluruh dunia. Dan lebih dari 75% kematian terjadi di negara yang brepenghasilan rendah.
    Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2020, stroke akan menjadi penyebab utama kecacatan setelah penyakit jantung iskemik.

    Di masyarakat, penderita stroke sering dianggap memiliki keterbatasan dalam fisik, psikososial dan kognitif seperti hemiplegia, afasia, depresi atau harga diri rendah. Gejala-gejala umum yang terlihat cenderung mengarah pada situasi dimana individu yang mengalami stroke kurang diterima dalam lingkungan sosialnya (Deng et al., 2019).

    Indonesia merupakan negara yang menempati peringkat ke-1 dunia jumlah kematian yang diakibatkan oleh stroke dengan jumlah angka kematian mencapai 21,2% dari total kematian yang terjadi dalam rentang 2000-2012 (Suharyanto & Pratiwi, 2018). Sekitar 45% pasien yang stroke mengalami cacat seperti gangguan fisik, kelumpuhan wajah dan gangguan bicara.
    Kejadian yang terjadi secara mendadak menyebabakn kehidupan pasien berubah secara signifikan. Hal ini mengakibatkan hilangnya kepercayaan dalam kemampuan mereka dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari, rasa takut untuk berkomunikasi dengan orang lain, perasaan bersalah karena menjadi beban angota keluarga dan tidak memiliki identitas social harga diri. Semua ini dapat menghambat rehabilitasi mereka (Zhu et al., 2019).

    Berdasarkan hasil literatur review yang dilakukan oleh Rizkiyani, dkk (2019) menjelaskan bahwa Indonesia dengan geografis dan mayoritas yang terdiri kepulaun menjadi tantangn sendiri bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Aplikasi telehealth telah di kembangkan sejak lama sebagai sutu solusi dalam mengatasi akses pelayanan kesehatan. Hal ini diprediksikan bahwa telehealth dapat di aplikasikan dalam upaya preventif dan rehabilitif seperti homecare.

    Telehealth pada layanan homecare merupakan bagian dari konsep keperawatan yang berkelanjutan (continuum of care). Pelayanan dapat befocus pada rehabilitasi dan pemulihan. Penggunaan telehealth dengan sistem nirkabel juga berdampak pada kolaborasi inter-profesi kesehatan. Perawat dan profesi lainnya dapat memberikan edukasi melalui website).

    Secara tidak langsung akan berdampak pula pada kemampuan riset perawat, karena secara rutin memberikan naskah di website pada layanan telehealth. Dampak aplikasi telehealth ini tidak hanya bermanfaat pada pasien, namun perawat dan sistem layanan kesehatan menunjukkan peningkatan kemampuan dan pengetahuan mengenai teknologi kesehata (Farrar, 2015).

    Telehealth dapat memberikan pelayanan kesehatan berupa perawatan pasien langsung melalui Video teleconference dan perawatan kesehatan lainnya, serta pendidikan kesehatan. Mobile heelath merupakan bentuk perawatan kesehatan yang disediakan menggunakan palikasi pada teknologi seluler, missal yang berbasis smartphone atau tablet, sedangkan Ehelath adalah istilah luas mencangkup semua layanan kesehatan yang menggunakan teknologi informasi maupun telekomunikasi. Baik itu Ehelath, Mhelat maupun telehealth merupakan bentuk pemberian pelayanan kesehatan dalam hal ini menggunakan jarak jauh anatara perawat dan pasien (Olson and Thomas, 2017).*

    Penulis: Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top