BPJS

BPJS
  • Berita Terkini

    HONDA SUPRA GTR

    Kamis, 17 Oktober 2019

    Kebumen Diprediksi Bakal Jadi Daerah Termiskin di Jateng

    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Kemiskinan sepertinya masih terus menjadi momok bagi Kabupaten Kebumen. Saat ini, Kebumen masih menduduki peringkat termiskin nomor dua se Jawa Tengah. Sejumlah upaya pun terus dilakukan Pemkab Kebumen untuk mengurangi angka penduduk miskin.

    Di tengah upaya keras itu, "kabar" tak enak datang dari dokumen RPJMD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2018-2023 yang menyebut tepatnya memprediksi Kebumen bakal  menjadi Kabupaten termiskin se Jawa Tengah di tahun 2019.

    Anggota DPRD Kebumen Miftahul Ulum, dimintai tanggapanya soal itu, berharap prediksi itu terjadi. Namun demikian, diakuinya Kebumen menghadapi sejumlah persoalan terkait penanggulangan kemiskinan.

    Salah satunya, soal anggaran. Dimana rencana maupun realisasi belanja pendapatan dan pengeluaran seringkali meleset dari target. Ia lantas mencontohkan di tahun anggaran 2020 seharusnya telah mencapai Rp 3,5 triliun. Namun pada kenyataan pendapatan hanya pada kisaran Rp 2,8 triliun.

    Ketika anggaran meleset dari target, maka pengeluarannya pun harus diprioritaskan pada hal-hal primer. “Misalnya begini, saat satu kuda tidak kuat menarik tujuh grobak maka dua hal yang dapat dilakukan yakni menambah kuda atau mengurangi beban gerobak,” tuturnya, Selasa (15/10).

    Dalam analogi tersebut, menambah kuda sama artinya dengan menambah dana. Padahal hingga kini Kebumen masih sangat bergantung terhadap uluran dana dari pusat. Untuk itu yang paling penting dilakukan yakni mengalokasikan pengeluaran dana dengan tepat.

    Terkait dengan kemiskinan dan adanya proyeksi menjadi termiskin, Miftahul Ulum berpendapat sebaiknya APBD Kebumen difokuskan pada program-program penanggulangan kemiskinan. Dalam hal ini sangat diperlukan upgrade data. Sehingga dapat diketahui dengan pasti berapa dan siapa yang miskin tersebut.

    "Misalnya ada lingkaran seperti ini, kenapa miskin karena tidak punya penghasilan. Ini karena tidak bekerja. Kenapa menganggur karena tidak sekolah. Kenapa tidak sekolah karena biayanya mahal dan tidak punya uang. Kenapa tidak mampu membayar karena miskin. Jika sudah demikian diperlukan pemotongan mata rantai kemiskinan. Nah disitulah peran serta pemerintah," ungkapnya.


    Melihat jumlah penduduk Kebumen, lanjutnya, yang berkisar 1,3 juta orang. Jumlah  tersebut didominasi oleh petani. Dalam hal ini kemiskinan juga terdapat pada jumlah mayoritas.

    Untuk itu program-program dan kebijakan pemerintah mestinya difokuskan kepada hal tersebut. Ini meliputi Dinas pertanian untuk meningkatkan kompetensi petani. Dinas DPU terkait pengairan dan dan Dinas Prindustrian dan Perdagangan terkait pengelolaan pengolahan dan pemasaran.

    "Sektor pertanian harusnya di backup  betul. Dalam hal ini tidak bisa dilakukan secara sektoral melainkan harus lintas sektor dan lintas instansi. Asisten Bidang Perekonomi dan Pembangunan harusnya menjadi koordinatornya. Sedangka Wakil Bupati dan Bupati sebagai pengambil kebijakan, " katanya.

    Ditegaskannya, APBD mau diarahkan kesana atau tidak itu merupakan sebuah pilihan. Selain itu dalam perjalannya harus konsisten atau istiqomah.  Artinya antara judul dan realita harus sama.  Pihaknya juga berharap pemeritah memiliki kesamaan langkah dalam penanggulangan kemiskinan.

    "Saya harap pemerintah dapat satu rencana, satu komando dan satu tujuan. Selama ini banyak program yang baik, namun tidak tepat. Ini bila dikaitkan dengan penanggulangan kemiskinan.  Ambil contoh perbaikan trotoar. Hal tersebut tentunya sangat baik. Namun apakah tepat dilaksanakan disaat rakyat butuh penghasilan. Apakah bersolek itu tepat saat masih lebih membutuhkan  makan."

    "Ibarat sebuah pengantin baru yang terpenting adalah melakukan dan memikirkan apa yang perlu dilakukan untuk dapat bertahan hidup berdua. Artinya kebutuhan pokok seperti Pangan Sandang Papan harus diutamakan. Setelah itu baru kebutuhan sekunder bahkan tersier,” terangnya.

    Miftahul Ulum juga menegaskan terkait pentingnya konsisten. Hal ini merujuk pada tagline Kebumen yakni Agro City of Java. Mestinya hal tersebut menjadi “virus” yakni dimana pun pejabat menyampaikan sesuatu hal mestinya berkaitan dengan tagline  tersebut. “Nah kini antara Agro City of Java dan Geopark lebih terkenal mana?,” ucapnya.

    Pada bagian lain, Wakil Bupati Kebumen, Arif Sugiyanto, menyampaikan soal proyeksi Kebumen termiskin hendaknya disikapi dengan tepat.

    Dalam hal ini, perlu ada upaya-upaya keras dalam percepatan penanggulangan kemiskinan agar kinerja penurunan kemiskinan kita menjadi semakin baik. Dalam penanggulangan kemiskinan Wabup Arif memiliki empat strategi meliputi mengurangi beban pengeluaran dan meningkatkan kemampuan dan pendapatan masyarakat miskin. Selain itu mengembangkan dan menjamin keberlanjutan usaha mikro dan kecil serta mensinergikan kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan.

    Wabup H Arif menyampaikan penurunan angka kemiskinan didukung oleh  anggaran yang digelontorkan untuk program-program penanggulangan kemiskinan. Ini Baik yang bersumber dari APBD Kabupaten, Provinsi maupun APBN serta dari sektor Swasta.

    "Jika dilihat dari kinerja penurunan kemiskinan baik dari jumlah maupun presentase penduduk miskin kabupaten/kota di Jawa Tengah, Kebumen termasuk 10 besar terbaik dan kinerjanya diatas rata-rata kabupaten/kota di Jawa Tengah,” kata Wabup Arif saat sambutan pada Rapat Koordinasi Membangun Sinergi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Jawa Tengah Selasa (8/10) lalu .(mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top