• Berita Terkini

    Rabu, 14 Agustus 2019

    Organda Usulkan Awak Angkutan Dapat Gaji Bulanan

    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Para pengusaha angkutan umum di Kabupaten Kebumen meminta pemerintah turun tangan menyelamatkan nasib usaha mereka yang semakin terpuruk. Tanpa peran serta pemerintah, usaha angkutan umum disebut tinggal menunggu waktu untuk gulung tikar seluruhnya.

    Salah satu yang ditawarkan adanya perubahan sistem pengelolaan angkutan umum, yang salah satunya mengusulkan adanya gaji atau penghasilan bulanan bagi sopir dan kondektur atau awak angkutan.

    Ketua DPC Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Kebumen, Ir Ngadino, mengatakan nasib angkutan umum kini benar-benar berada di ujung tanduk. Ini terjadi lantaran semakin rendahnya minat masyarakat umum menggunakan angkutan umum. "Gak bisa ngapa-ngapain," kata Ir Ngadino, kemarin (13/8/2019).

    Ia lantas memberikan ilustrasi. Saat ini, ada 4 angkutan umum engkel jurusan Gombong-Purwokerto yang ia kelola. Dalam satu hari, angkutannya tersebut menempuh 2,5 sampai 3 rute trayek pulang pergi (PP) atau setara dengan jarak tempuh 300 km. "Sisa hasil usahanya (setoran) hanya Rp 150 ribu. Apa yang bisa kami lakukan dengan kondisi seperti itu," ujarnya retoris.

    Nasib pengusaha angkutan lain pun sama. Mereka kini hanya bisa pasrah. Ngadino mengatakan, hanya ada satu cara menyelamatkan nasib angkutan umum. Yakni dengan mengubah sistem pengelolaan angkutan umum.

    Angkutan umum, kata Ngadino, harus ditingkatkan frekuensinya. Misal 2 sampai 3 menit ada angkutan umum melintas untuk satu trayek. Sehingga, penumpang atau warga masyarakat tidak perlu lama menunggu. Juga, waktu tempuhnya sama dengan bila menggunakan pribadi.

    Agar itu bisa berjalan, pengusaha angkutan umum meminta adanya sarana halte bukan lagi terminal seperti saat ini. Terminal pun nantinya akan difungsikan sebagai tempat menunggu penumpang tanpa ada kewajiban angkutan umum ngetem menunggu jam pemberangkatan atau pengaturan jam trayek. "Karena sebetulnya fungsi terminal memang demikian, hanya menjadi tempat menunggu penumpang," katanya.

    Selain itu, pengelolaan angkutan umum juga mesti diubah. Dalam hal ini, Organda mengusulkan adanya sistem penggajian bagi awak angkutan. Tidak seperti saat ini, dimana pengusaha hanya menerima setoran dari awak angkutan.

    Cara ini, klaim Ngadino, menguntungkan kedua belah pihak, baik pengusaha maupun awak angkutan. "Awak angkutan bisa menerima penghasilan tetap. Nanti jumlahnya kita samakan dengan penghasilan saat ini. "

    "Dan bagi pengusaha, sistem ini membuat usaha ini lebih terukur karena tahu berapa jumlah penumpang perhari perminggu dan perbulan. Jadi pengusaha bisa merencanakan bagaimana mengembangkan usahanya. Kalau masih seperti ini (pengusaha hanya menerima setoran), pengusaha gak bisa ngapa-ngapain, " katanya.

    Ngadino meyakini, sistem baru itu menjadi solusi terbaik nasib angkutan umum. Tak hanya bagi pengusaha dan awak angkutan, masyarakat pengguna juga akan diuntungkan. "Masyarakat tidak harus menunggu lama seperti sekarang ini. Awak angkutan juga tidak saling berebut penumpang," katanya.

    Hanya, masih kata Ngadino, sistem baru itu tak bisa mereka realisasikan tanpa peran serta pemerintah. "Paling tidak regulasinya. Untuk soal sarana prasarana seperti halte, nanti kami bisa pikirkan," kata Ngadino. (cah)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top