BPJS

BPJS
  • Berita Terkini

    HONDA CRF

    Rabu, 31 Juli 2019

    Sejarah Gombong Tarik Minat Warga Belanda

    ISTIMEWA
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Wilayah Gombong bukan hanya kota yang menjadi melting pot (titik pertemuan) keragaman etnis dan dinamika ekonomi. Melainkan juga menjadi kota yang penuh dengan jejak-jejak kolonial yang terpajang dalam bentuk bangunan warisan Belanda.

    Ini meliputi bangunan bergaya Indisch yang dimiliki sejumlah etnis Tionghoa serta benteng yang dibangun di era pasca Perang Jawa bernama Fort Cochius yang sejak tahun 2000 lebih dikenal dengan nama Benteng Van Der Wijk.

    Penulis artikel “Hotel Para Meneer dan Mevrouw di Gombong Era Kolonial”

    Teguh Hindarto menjelaskan di Gombong sejak tahun 1800-an telah terlacak keberadaan sejumlah hotel melalui “advertentie” (iklan) di surat-surat Kabar. Nama sejumlah hotel tersebut antara lain, Hotel Gombong milik M. Pellen terlacak dalam iklan “De Locomotief”  5 Mei 1880.

    Selain itu yakni Hotel Richter milik A.A. Richter tercatat dalam iklan koran “De Preanger-bode”  7 November 1898. Kemudian Hotel dan Toko Limun dan Mineral milik Ch. Rapaport tercatat dalam iklan surat kabar “De Preangerbode” 1 November 1915. “Ada juga bisnis air mineral dan limun Ch. Rapaport sudah dimulai sejak tahun 1894 sebagaimana terlacak dalam iklan yang dimuat surat kabar De Locomotief bertanggal 3 Desember 1895,” tuturnya, Selasa (30/7/2019).

    Teguh yang juga seorang peneliti sosial dan sejarah itu menyampaikan artikel yang dibuatnya telah menarik perhatian seseorang bernama Uri Rapaport. Ini merupakan buyut dari keturunan Ch. Rapaport yang tinggal di Belanda. Ketertarikan  Uri Rapaport  lantaran nama leluhurnya disebutkan. “Bahkan ketertarikannya telah menghantarnya untuk menelusuri jejak pekerjaan dan tempat tinggal buyutnya,” paparnya.

    Hal ini berujung pada 29 Juli 2019. Akhirnya Uri Rapaport ditemani seorang wanita dari Yogya bernama Nuning berhasil bertemu dengan Teguh Hindarto yakni penulis artikel tersebut.

    Teguh saat itu didampingi teman-teman dari Komunitas Pusaka Gombong (KOPONG) di Rumah Martha Tilaar. Percakapan pun berlangsung dengan hangat dan saling bertukar informasi dan data terjadi.

    Pertemuan diakhiri dengan menelusuri sejumlah tempat yang diduga bekas bangunan toko dan hotel dengan bantuan peta Gombong yang dibuat oleh orang Belanda yang memberi nama beberapa lokasi penting dengan penomoran yang terpajang di Rumah Martha Tilaar.

    Teguh menjelaskan, Hotel Rapaport kiini telah menjadi kawasan rumah dengan lahan yang sangat luas. Saat dibeli tahun 1950 terbagi menjadi 17 kapling. Rumah itu saat ini dihuni oleh keluarga Ibu Sukardi. Lokasinya di samping kiri Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gombong.  Sementara pabrik dan depot limun dan air mineral saat ini telah menjadi rumah milik Ibu Supini.

    Kedua belah pihak nampak puas. Uri Rapaport nampak puas telah berhasil menemukan lokasi bekas leluhurnya. Dimana sang leluhur pernah tinggal dan membuka usaha. Teguh sang penulis artikel dan juga teman-teman Komunitas Pusaka Gombong juga mendapatkan sejumlah informasi yang melengkapi narasi yang selama ini masih teka-teki. “The past IN the key to the present” (masa lalu menjadi kunci memahami masa kini), " ungkap Teguh Hindarto.

    Teguh menambahkan melalui pelacakkan sejumlah dokumen kuno (past) baik berupa surat kabar, surat perjanjian, jurnal  khususnya yang berbahasa Belanda  maka keberadaan sebuah bangunan di masa kini (present) dapat dipahami konteks sosial politik dan sosial budaya yang melatarbelakanginya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top