BPJS

BPJS
  • Berita Terkini

    HONDA VARIO DUO

    Senin, 10 Juni 2019

    Ungkapan Hati Tabingin, Ayah Pemuda di Kebumen yang Makamnya Dibongkar

    KEBUMEN (kebumenekspres.com) - Suasana duka masih menyelimuti sebuah rumah di RT 3 RW 3 Desa Jabres Kecamatan Sruweng, Senin (10/6/2019). Itulah rumah almarhum Amri Khaoirul Imam (25), yang makamnya baru saja dibongkar Polisi, pagi tadi.

    Ayah kandung Almarhum Amri, Tabingin (53), ditemui awak media di rumahnya, Senin pagi tadi, mengatakan sudah mengikhlaskan kepergian anak keduanya tersebut. Namun demikian, ia masih berharap penyebab kematian Amri diungkap.

    "Apapun hasil otopsi nanti saya sudah ikhlas. Kalau memang anak saya meninggal karena dianiaya ya saya minta keadilan. Kalaupun bukan, saya juga tidak akan mempersoalkan," ujar  suami Sri Khayati (48) itu

    Amri, anak bungsu dari dua bersaudara itu, ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri di sebuah rumah kosong Rabu dini hari (6/6/2019). Sempat dilarikan ke rumah sakit pada Rabu sore, korban  meninggal dunia pada Rabu malam (5/6/2019) sekitar pukul 22.00 WIB.

    Kata Tabingin, saat itu, ada luka sepanjang 1 cm di kepala belakang kiri anaknya itu. Juga, luka di dahi serta kaki. Namun, dari hasil pemeriksaan tim medis rumah sakit, luka tersebut tidaklah fatal atau memungkinkan seseorang meninggal. Hasil rontgen juga menunjukkan, tidak ada keretakan di tulang kepala korban. Artinya, tidak ada luka serius yang memungkinkan seseorang meninggal.

    Tabingin dan keluarga pun ikhlas. Anaknya dimakamkan Kamis pagi (6/6/2019).

    Namun, belakangan, penyebab kematian Amri menjadi perdebatan. Warga menyebut, sebelum meninggal, Amri berkelahi dengan temannya sendiri usai berpesta minuman keras (miras) pada Selasa malam sebelum ditemukan.

    Warga lantas meminta polisi melakukan otopsi. Hingga kemudian, polisi menindaklanjutinya dengan membongkar makam Amri.

    Tabingin, mengaku tak mendapat firasat apapun soal anaknya itu. Ia mengaku mendapat kabar anaknya tergeletak di rumah kosong pada Rabu. Ada warga yang memberitahunya, Amri tergeletak di rumah kosong. "Saya suruh bawa pulang dia (Amri). Sampai di rumah, dia pingsan dan tak bisa diajak komunikasi. Melihat kondisinya itu, Amri saya bawa ke rumah sakit," ujarnya.

    Sudah garis nasib, Amri meninggal beberapa jam setelahnya. "Awalnya saya sudah tidak mempermasalahkan. Namun, warga mengatakan informasi itu (ada penganiayaan). AKhirnya saya setuju agar diotopsi, " katanya.

    Kini, Tabingin tinggal menunggu hasil otopsi. Wajar, bila ia menginginkan kejelasan mengenai penyebab anaknya meninggal.

    Selama ini, di mata keluarga, Amri anak yang baik dan penurut. Sempat merantau, Amri yang alumni SMK Maarif 1 Kebumen itu, pulang ke Kebumen dan bekerja sebagai karyawan sebuah kafe di Kebumen.

    Terakhir bertemu Amri, kata Tabingin, Selasa (4/6/2019). Saat itu, Amri pamit kerja. Namun, hingga Rabu tidak kunjung ke rumah dan tidak memberi kabar."Saya tidak curiga, karena memang kadang-kadang begitu. Dia nginap di rumah temannya," ujarnya.

    Sampai kemudian, pada Rabu sore, Amri satu-satunya anak lelaki keluarga Tabingin, pulang tak sadarkan diri dan meninggal beberapa jam setelahnya. (cah)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top