BPJS

BPJS

Job Fair 2019

  • Berita Terkini

    HONDA CBR 150

    Kamis, 20 Juni 2019

    Pro Kontra Patroli Siber WhatsApp Group

    JAKARTA - Dibentuknya patroli siber di WhatsApp Group (WAG) oleh pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dengan dalih banyaknya pesan-pesan yang berbau hoaks, terus menimbulkan pro dan kontra.

    Dengan adanya patroli, kini masyarakat harus berhati-hati dalam mengeluarkan ucapan dan pendapat jika tidak ingin merasakan dinginnya penjara. Tetapi tak sedikit juga, masyarakat yang mendukungnya. Banyak masyarakat menilai WAG sekarang ini lebih gaduh diisi konten-konten ujaran kebencian, jelang hingga berakhirnya Pilpres 2019.

    Menanggapi hal itu, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI Purn Moeldoko mengklaim patroli siber yang dilakukan Polri terhadap berbagai grup layanan pesan instan WA untuk menjaga stabilitas dan keamanan negara.

    Menurut dirinya, patroli tersebut merupakan keputusan bersama antara Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), KSP, Panglima TNI, Kapolri, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan Jaksa Agung.

    "Ya memang harus begitu (ada patroli siber-red), kita kemarin waktu di posko antara Menko Polhukam, ada KSP, ada panglima TNI, Kapolri, Menkominfo ada Jaksa Agung ada Mendagri kita bersepakat dalam kondisi di mana ada high intention yang pada akhinya itu akan mengacaukan situasi, bahkan akan memunculkan situasi semakin runyam. Maka negara tidak boleh ragu-ragu untuk mengambil keputusan bahwa salah satu media sosial atau WhatsApp dan seterusnya apapun itu yang nyata-nyata akan mengganggu situasi keamanan nasional maka hasus ada upaya untuk mengurangi tensi itu," tutur Moeldoko, Rabu (19/6/2019).

    Mengenai terganggunya privasi para pengguna aplikasi, mantan Panglima TNI itu menegaskan pilihannya hanya ingin menjaga privasi atau keamanan negara.
    "Keamanan nasional harus diberikan karena itu tanggung jawab presiden. Tanggung jawab pemerintah untuk melindungi rakyatnya. Jadi, kalau nanti tidak dilindungi karena abai, mengutamakan privasi maka itu nanti presiden salah loh," papar Moeldoko.


    Oleh sebab itu, Moeldoko memaparkan patroli siber itu hanya mengenali siapa melakukan apa, berbicara apa dan menulis apa. Jadi, sepanjang itu dilakukan secara baik maka tidak akan menimbulkan masalah. "Sepanjang kita baik-baik saja enggak ada masalah," tandas Moeldoko.

    Penolakan keras terlontar dari ucapan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menilai bahwa pemantauan atau patroli siber oleh pemerintah di grup aplikasi percakapan privasi seperti WhatsApp ataupun sejenisnya, merupakan bagian dari pelanggaran berat. Karena dalam konstitusi dan Undang-Undang (UU), terutama UU tentang HAM, semuanya sudah dilindungi.

    "Langkah polisi merupakan pelanggaran privasi, karena komunikasi di WhatsApp sebenarnya bersifat personal atau terbatas," kata Fahri.

    Sayangnya, lanjut Fahri, masyarakat tidak memahami arti dari privasi dan kerahasiaan pribadi. Tetapi yang ada dimasyarakat itu kultur komunal, sehingga ketika negara mau mengambil semua data-data pribadi, masyarakat relatif tidak berani membuat bantahan dan tidak berani membuat kritik.

    "Itulah yang secara terus menerus menyebabkan para pejabat negara merasa tidak punya perasaan bersalah sama sekali ketika mengintip percakapan warga negaranya," kata Fahri.

    Padahal seandainya kultur masyarakat Indonesia itu demokrasi, tentu tidak akan ada yang berani melakukan itu (mengambil data pribadi). Sebab itu merupakan bagian dari pelanggaran berat.

    "Tapi faktanya, karena kita sendiri merasa tidak perlu melindungi akhirnya tindakan itu dilanjutkan. Nah, sekarang sulit kita bicara hukum kalau kita sendiri tidak tahu dan tidak paham hak-hak kita sebagai warga negara," papar Fahri.

    Sehingga yang ada sekarang ini, membiarkan pemerintah sesuka-sukanya mengambil hak-hak warga negaranya.
    "Karena sejauh menerima hak kita dirampas oleh pemerintah, maka sejauh itulah orang akan mengambil hak kita Ini persis seperti ketika kita dijajah 350 tahun, ya selama itu lah penjajahan bercokol di bumi kita," tandas Fahri. (frs/fin)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top